Label

Selasa, 11 Oktober 2016

Ponorogo : Keysha dan Bunga Bunga Tepi Jalan

Siang ini, saat jam makan siang di kantor, saya dan beberapa rekan kerja saya, seperti biasa, memutuskan untuk berkunjung ke tempat makan untuk melewatkan waktu sembari mengobrol. Beberapa teman saya sudah memesan makan siangnya, sementara saya duduk diam di meja, tanpa membuka tas bekal yang belakangan ini sering saya bawa bawa.

Di tengah obrolan seru teman teman saya mengenai berbagai hal berbau perempuan, saya yang memang lebih senang terdiam, dikejutkan oleh suara seorang Ibu dari meja sebelah yang cukup keras membentak anak lelakinya. Memaksa si anak berhenti bermain smartphone dan menyelesaikan pe er dari tempat les tempat si anak belajar. Ketika saya lirik, saya perkirakan kalau si anak masih berusia TK atau tahun tahun awal di Sekolah Dasar.

Sakit telinga saya mendengar bentakan si Ibu. Saya pun merasa takut, jika suatu waktu nanti, setelah menikah dan menjadi ibu, saya pun melakukan hal yang sama pada anak saya kelak.

Si anak mengingatkan saya pada si kecil Keysha, ponakan sahabat lekat saya -- Nurul Djanah -- yang pernah saya temui saat Nurul Djanah mengajak saya traveling ke Ponorogo.


Si kecil Keysha pernah saya tanya, ingin menjadi apa saat dia sudah besar nanti? Di suatu pagi, saat kami berdua berjalan bersama di mengitari daerah tempat tinggalnya di Dukuh Kanten, Desa Babadan,  Ponorogo, sembari mencari bunga bunga cantik di tepian jalan. Keysha berujar tentang keinginannya untuk menjadi seorang artis saat dewasa nanti. Dia ingin tampil cantik, menyanyi, atau menggambar, sebab dia berkata kalau dia nggak suka belajar.

Keysha dan Bunga Temuan Kami

Saat itu saya merasa kalau Keysha sebenarnya anak yang cerdas. Dengan mudahnya dia menjawab banyak pertanyaan saya tentang, bagaimana rasanya tinggal di Ponorogo. Sebarapa sayang dia pada adiknya, Fais, juga Al yang baru lahir. Saya juga melihat, pandainya Keysha mengalah dan mengurusi kedua adiknya. Hal pertama di saat pertemuan pertama saya dan Keysha, kali pertama pula saya merasa jatuh cinta pada gadis kecil ini. Bagaimana bisa ya, Keysha nggak merasa cemburu pada kedua adiknya? Padahal dia mungkin masih senang bermanja-manja.

Bunga Bunga Liar

Saya menyukai sorot mata Keysha yang tampak teduh. Mungkin saat dewasa nanti, Keysha akan jadi seseorang yang keibuan seperti Mba Tipah, ibunya. Sebab saat Keysha menggandeng tangan saya di sepanjang jalan kami pagi itu, bagaimana dia dengan antusiasnya menghampiri bunga bunga yang tumbuh di tepi jalan, memperlakukan bunga bunga yang sudah jatuh berguguran, atau sesekali menunjukkan mahkota bunga yang tampak cantik baginya pada saya, seperti seolah Keysha kecil mengajari saya yang sudah besar untuk tetap antusias dan penuh kelembutan pada bunga bunga tadi.

Bagaimana Keysha nggak punya sikap yang cerdas seperti itu ya? Begitu pertanyaan yang kembali muncul dalam benak saya. Mba Tipah begitu sabar mendidik buah hatinya. Lembut namun tegas, sehingga nggak sekalipun saya mendengar Mba Tipah berteriak sampai buah hatinya menangis ketakutan.

Susunan Bunga Karya Keysha

Satu hal lain. Keysha nggak dibiasakan ibunya untuk bermain smartphone setiap waktu. Dia lebih suka mengocehkan banyak hal, di dekat saya. Bahkan mengajak saya menikmati perjalanan saya hanya dengan melihat-lihat pemandangan perkampungan yang kami lalui, sembari menarik napas panjang, bersyukur kami bisa bertemu dan berjalan berdua sambil bergandengan tangan.

Keysha, mengingatkan saya tentang, nilai akademis seringnya nggak lebih penting daripada karakter yang manis dan menenangkan hati. Keysha yang suara dan senyumnya mendadak membuat saya siang ini, mengelus dada melihat kesedihan dan ketakutan yang muncul pada raut wajah anak lelaki di meja samping saya. Semoga saja si anak lelaki itu, nggak jadi sosok lelaki yang menjengkelkan bahkan menyakitkan hati saat dia dewasa nanti.

Keysha dan bunga bunga tepi jalan kami pada pagi itu di Ponorogo, mengingatkan saya bahwa seorang Ibu punya tugas yang begitu beratnya untuk keberhasilan masa depan si anak. Keysha dan bunga bunga di tangannya, senyumannya, membuat saya merindukannya, juga pagi kami yang ceria, beberapa bulan lalu.


Semoga kelak di suatu waktu nanti, setelah menikah dan memiliki buah hati, saya bisa memperlakukannya dengan penuh sabar dan kelembutan. Semoga saya dan partner saya kelak, bisa menjaga lingkungan buah hati kami agar tumbuh menjadi sosok yang menyenangkan hati, serta punya karakter yang cemerlang. Aamiin.

34 komentar:

  1. Terharu mb bacanya.Memang seorang ibu harus punya beribu kesabaran apalagi disaat anak2 msh kecil, masa2 mereka masih ingin mengetahui banyak hal. Semoga Allah sll membimbing kt yaa mba..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya rabbal alamin. Semoga kita bisa jadi ibu terbaik untuk menghasilkan anak anak terbaik ya mba.

      Hapus
  2. Nice perspektif mbak Acha, smg kita kelak bs mendidik anak2 tanpa terpaku dg nilai akademisnya saja, tp jg melihat akhlak dan budi pekertinya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya rabbal alamin Ayaa. Semoga kita bisa menjadi ibu yang dipenuhi kesabaran juga.

      Makasih banyak Ayaa. :)

      Hapus
  3. Wah disini cara mendidik anak beda dengan cara dikita mbak, Saya banyak belajar juga. Anak itu ya diasuh dengan sistem pola asuh anak yang sehat. Ada siiih orang tua yang ngebentak, sama mukul. Tapi kekerasan disini udah tindak kekerasan yang bisa dilaporkan ke polisi. Saya belum punya anak, semoga segera..amiiin...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah udah bisa dilaporin polisi gitu. Di sini juga sepemahan aku yang masih belum dalam ini, juga begitu. Tapi ya ... malah kadang disalahgunakan dan bikin anak terlalu manja dan nyebelin.

      Hapus
  4. Sedih kalo denger ada ibu yang marah2 krn anaknya gak mau belajar. Apalagi kalo anaknya masih tk. Padahal itu kan masa2nya anak mengenal hal2 melalui bermain, bukan untuk fokus belajar. Tiap anak juga punya cara yg berbeda utk menyerap sesuatu. :(
    Semoga aja makin banyak perempuan yg sadar untuk jadi ibu yg bijak nantinya yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya rabbal alamin.

      Iya, semoga kita terus banyak belajar biar berkarakter cerdas dan jadi punya banyak stok sabar untuk mengerti anak anak ya mba. Aamiin.

      Hapus
  5. Baca postingan ini jadi inget lagu jadul yg judulnya Bunga Di Tepi Jalan. Memang tidak gampang menjadi seorang orang tua. Kadang kita tidak bisa hanya mendidik menggunakan kata-kata, tapi harus menggunakan contoh dan juga teladan dari diri kita sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duuhhb Sheila Ganks banget dong. Hihihi.

      Iya banget Ven. Kata nya sih, contoh lebih mempan daripada kata kata.

      Hapus
  6. Kok aku seperti melemah ya saat baca ini. Rasanya seperti masuk ke dunia yang nyaman. Entah kenapa.
    Mungkin karena foto-foto bunga atau mungkin ada foto wajah polos Keysha.

    Mengenai cara Keysha yang secara tidak langsung mengajarkan banyak hal, menyimpulkan bahwa manusia tidak hanya harus belajar kepada makhluk lain yang lebih tua. :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak udah menikmati tulisanku ya bang.

      Iya. Belajar ga selalu dari orang tua memang.

      Hapus
  7. kadang pelajaran hidup bisa didapat darimana aja ya teh.

    semoga kisah ini bisa jadi bahan perenungan.
    ga cuma buat teteh tapi juga buat kami para pengunjung blog teteh :)

    btw, salam sama keysha yah teh kalo ketemu sama dia lagi ehem

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Leon, salammu kusampaikan.

      Aamiin. Mudah mudahan ya. Begitu juga dengan blogmu.

      Hapus
  8. Wah aku jarang berinteraksi dengan anak anak seusia keysia gitu. Kadang aku bingung memposisikan diri diantara anak anak kecil. Tapi keyaknya keysia anak yang menyenangkan ya mbak. Tapi bener banget itu, orang tua tentu teladan untuk anak anaknya.
    Suka miris aja kalo liat sepupu2ku yg masih sekolah dasar pada dimarahin ibunya karena main tab mulu atau main ps mulu. Lah padahal kan orang tuanya sendiri yang memfasilitasi. Iya sih mungkin kebawa lingkungan dan gengsi sesama teman sepermainan. Tapi yah, kasihan aja liat anak2 kecil yang gadgetan mulu. Mengingat dulu aku seusianya masih asik ngorek ngorek tanah nangkepin undur undur heehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget Lusti. Padahal mama papa nya yang ngasih tapi dimainin mulu marah dimarahin juga.

      Hmm kalau ikutan main kayak teman seusianya gimana? Hihihi :D

      Hapus
  9. Amin allahumma amin..
    Keisya teduh bamget wajahnya. Salut klo di umurnya yg masih dini itu mampu membawa peran seorang kakak yang jarang banget diumur itu mampu mengalah sama adik. Salut sama Keisya dan juga didikan orangtua pastinya. ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Rohmah. Aku juga salut banget sama mama papa nya Keysha. Mereka berdua orang orang yang hebat, menurutku. Keliatan dari Keysha nya yang ngegemesin bikin merenung gini.

      Hapus
  10. madrasah pertama dan yang akan selalu membuat anak merasakan pulang ke rumah... Ibu... semoga keysha makin sholehah aamiin... dan doa mbaknya juga aamiin semoga Allah ijabah....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya rabbal alamin. Makasih banyak doanya ya Angki.

      Hapus
  11. Iya betul, makanya kenapa peran ibu besar banget karena yang dididiknya adalah generasi-generasi yang akan berpengaruh di masa depan.

    Aku juga suka bingung sih, setelah nikah dan punya anak nanti, mending jadi wanita karir (yang it means harus pinter bagi waktu kerja dan keluarga) atau full time jadi ibu (yang risikonya mungkin hanya diem di rumah). Tapi kalo liat perlakuan ibunya Keysha itu, penginnya sih jadi full time mother ya. Rasanya seneng aja kan bisa ngasih sepenuh waktunya liat perkembangan anak. Apalagi dengan didikan yang lebih tapi tangguh.

    Ah, semoga aja kita perempuan-perempuan bisa jadi ibu yang baik dan sholehah di masa depan. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya rabbal alamin Dwi. Aku juga begitu. Bingung sebenarnya mau jadi ibu kantoran atau rumahan. Tapi bismillah aku mau mencoba jadi freelancer demi waktu banyak untuk lebih dekat sama anak anakku, tapi aku nggak sampai kehilangan diriku untuk mengaktulisasikan diri dan impian impianku.

      Hapus
  12. Hmm.. bener juga sih, kadang di jaman sekarang banyak anak kecil udah jago banget main smartphonenya bener-bener gokil lah, tanpa mengajari tentang caranya berinteraksi dengan alam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Mentang mentang anak sekarang masuk golong i-generation ya, semua yang berbau gadget mereka khatam dari kecil.

      Hapus
  13. Amin..
    setelah menjadi ibu saya pun masih suka takut gak bisa ngendaliin emosi saya di depan anak Mba Acha :(

    semoga kita semua bisa menjadi ibu yang "meneduhkan" dan memberi kenyamanan pada anak-anak kita yah Mba, amin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya rabbal alamin Mba Ira. Gimana aku yang masih single dan belum punya anak ini ya. Semoga kita bisa jadi ibu terbaik untuk menghasilkan anak anak dengan karakter terbaik juga ya mba.

      Hapus
  14. Ikut ngaminin....

    Jd inget ponakanku sendiri. Kdg dia tak ajak ke sawah biar main sama alam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuiiiiii asik banget kalo punya bu lek kayak kamu. Aku mau banget dong diajakin ke sawah juga sama kamu.

      Hapus
  15. Anak kecil dibentak, kok ga tega ya liatnya. Anak kecil sih harusnya dilembutin nanti dia juga nurut.

    Peran penting orangtua terutama ibu dalam mengasuh anak penting banget ya kak, soalnya bisa menentukan sikap si anak. Contohnya kesya, dia emang ga dibiasain main gadet ya jadi dia lebih suka banyak bercerita. Kalau misalnya anak tk yg dimarahin tadi pasti yg ngasih gadget juga orangtuanya, jadi ya kalau anaknya lebih asik main gadget salah orangtuanya juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Nad. Anak kecil dibentak ya takut. Anak besar kayak aku aja kalo dimarahin di depan umum gitu ya nge jleb.
      Emang jadi orangtua itu nggak mudah ya Nad.

      Mumpung masih single, kita belajar yang banyak.

      Hapus
  16. yap, orangtua adalah guru pertama bagi anak. Sebelum masuk sekolah, anak-anak kenal dan suka niru kebiasaan orangtuanya. Baik atau buruk ditiru soalnya mereka belum bisa ngebedain benar atau salah. Trus juga cara mendidik anak dari kecil pengaruhnya sampe gede... Makanya kalo anak usia o-8 tahun masih dibilang masa krisis, soalnya kebiasan kebiasaan yang dilakukan akan terbawa sampe gede nanti. Makanya ngeri banget kalo mendidik anak usia dini, takut ada salah salah ngomong atau kebiasaan buruk yang dilihat sama anak...

    Semoga aku juga bisa mendidik anak dengan baik nantinya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget mba. Umur umur segitu masanya belajar banyak hal memang.

      Aamiin ya rabbal alamin. Semoga kelak kita bisa menjadi ibu terbaik untuk anak anak berkarakter terbaik juga ya mba.

      Hapus
  17. Hai Keysha, tumbuh dewasa dengan hati yang baik ya sayang, aamiin

    Salam,
    Asya

    BalasHapus