Bermula dari sebuah kasus perundungan, berujung ke kacau balaunya kehidupan seorang murid di sekolah. Kenyataan pahit yang harus ditanggung oleh seseorang yang sebenarnya -- dan seharusnya -- nggak bersalah.
Kamu Nggak Sendirian di Pesantren. Judul dari salah satu seri novel remaja islami Hijab for Little Sisters ini, membuat Ka Acha merenung. Ya ... kadang ada kondisi bagi seseorang yang sulit beradaptasi, bukan karena ia nggak berusaha, melainkan lingkungan yang sejak awal menolak keberadaannya.

Selepas membaca salah satu seri Hijab for Sisters - Klub Anti Pacaran, tentu novel islami karya Shakila Raya ini lekas menggoda. Saya penasaran, perasaan saya akan diaduk-aduk seperti apa?
Profil Novel Hijab for Little Sisters - Kamu Nggak Sendirian di Pesantren
Judul : Hijab for Little Sisters - Kamu Nggak Sendirian di Pesantren
Penulis : Shakila Raya
Editor : Dion Rahman
Penyelaras Bahasa : Kellan
Penata Letak : Debora Melina
Desain Sampul : Hani Widiani
Penerbit : Laiqa (Elex Media Komputindo)
Cetakan : Pertama, 2025
Tebal : 190 halaman
ISBN : 978-623-00-7044-0
Blurb Novel Remaja Islami Kamu Nggak Sendirian di Pesantren dari Seri Hijab for Little Sisters
Kamu jadi korban perundungan karena seragammu selalu lusuh. Suatu hari, kamu berani melawan. Namun, aksi bela dirimu justru membawa petaka. Kamu terancam dikeluarkan dari sekolah atas tuduhan mencelakai perundungmu hingga dilarikan ke IGD.
Kamu nggak punya orangtua dan teman yang akan membela, sehingga sulit membuktikan kamu nggak bersalah. Untungnya, guru mengajimu mengajukan banding supaya kamu dipindah saja ke pesantren sebagai bentuk perenungan. Nggak punya pilihan, kamu akhirnya menjalani kehidupan baru di pesantren.
Bisakah kamu terbebas dari fitnah yang menghancurkan hidupmu? Dan yang terpenting, apakah di pesantren kamu punya teman yang akan membelamu saat dunia sering nggak bersikap adil kepadamu?
Luka-Luka yang Mencipta Cara Seseorang Merasa
Kemana seorang anak harus mengadu, bila rumah yang ia punya hanya berisi seorang perempuan baya yang lelah berjuang menghidupi mereka berdua setiap harinya? Euis "yatim piatu".
Mendapati status Euis yang seperti ini, tentu Ka Acha lekas bersimpati. Apalagi saat ia berjuang menyelamatkan dirinya dari perundungan salah seorang temannya di sekolah, tiba-tiba saja segalanya berubah jadi tragedi. Hanya karena ia berusaha melarikan diri, temannya itu terjatuh dari tangga dan dilarikan ke IGD pula.
Dunia hanya menunjuk wajah Euis seorang. Seluruh teman yang menjadi saksi kejadian, kompak menyalahkan. Itu semua akibat Euis nggak punya seorang pun yang dapat ia sebut kawan.
Sebagai pembaca dewasa, Ka Acha seketika paham bagaimana rasanya dijauhi, dimusuhi, dikerjai. Serasa berada dalam sebuah lingkaran orang-orang, tapi nggak bisa bergandengan dengan siapa pun. Rasa yang banyak dihadirkan pada anime untuk usia remaja, semisal Fruits Basket.
Di sisi lain, hal yang memancing kekesalan Ka Acha adalah reaksi orang dewasa di sekitar Euis. Perundungnya adalah seorang anak guru agama di sekolahnya. Seseorang yang jelas punya pengaruh pada masa depan muridnya. Mengampu mata pelajaran soal dunia akhirat pula.
Bersyukur, ada Ustazah Ayu yang berani memperjuangkan nasib Euis. Berkat guru mengajinya tersebut, Euis batal dikeluarkan dari sekolah yang akan berakhir menjadikannya putus sekolah. Euis hanya diminta pindah, ke pesantren Al-Jannah, saat ia sudah kelas 3 SMP. Waktu yang cukup mepet untuk beradaptasi.
Ditambah masa sekolah menengah pertama akan berakhir dalam masa yang cukup singkat.

Dari sebuah sekolah negeri ke lingkungan pesantren, tentu bukan hal mudah bagi seorang remaja untuk terbiasa dengan kehidupan di sana. Segalanya berubah, total. Lingkungan, materi pelajaran, rutinitas harian, semuanya.
Euis terbiasa sendiri. Menyendiri. Seketika dihadapkan pada kondisi harus berbagi. Ia mendadak punya teman sekamar, seasrama, dan sepanjang hari dituntut untuk luwes dalam berinteraksi.
Luka-luka batinnya membuat reaksi Euis kemudian berbeda. Ia jadi gadis menyebalkan bagi teman sekamarmya. Euis mana peka tentang cara menjalin kedekatan, berbagi beban dan perasaan, apalagi cara untuk saling memahami dan tolong-menolong sesama teman. Euis nggak pernah diajari hidupnya untuk meminta tolong. Dia selalu merasa hanya punya dirinya sendiri saja dalam situasi semenyakitkan apa pun.
Ujungnya, kehadirkan Euis sukses memunculkan masalah baru dan mengacaukan ketenangan asrama. Terutama, teman-teman sekamarnya.
Kalau dipikir-pikir, di usia remaja, gejolak dan perkembangan seseorang memang ada di masa yang sukanya bikin orang yang lebih dewasa kebingungan kan ya? Padahal hal yang sama juga sedang membuat si remaja serba salah sendiri sama dirinya. Menurut kamu gimana, Dears?
Pesantren Nggak Selalu Jadi Tempat yang Menentramkan
Sebagai awam, Ka Acha beberapa kali menemukan cerita seliweran dari keluarga-keluarga yang anaknya dianggap "bermasalah" dimasukkan ke pesantren. Walau memang ada pula keluarga yang sejak awal mempersiapkan dan mendukung penuh anaknya untuk menempuh pendidikan di sekolah asrama berbasis agama begini. Paling ngena, kalau kondisi si anak ini "dipindahkan" ke pesantren tadi.
Nggak jarang saya mendapati keputusan para orangtua yang memasukkan anaknya ke pesantren, bukan karena berharap anaknya memperdalam ilmu agama, mengembangkan diri dan sudut pandangnya selepas dididik dengan baik di rumah. Pesantren malah dianggap sebagai institusi untuk mengobati anak-anak nakal, lalu orangtua berharap anaknya berubah soleh solehah selulusnya dari sana.
Sungguh sebuah langkah yang mau instan tapi mengacaukan lebih banyak hal lagi di masa depan, bukan? Atau langkah tersebut ditempuh akibat minimnya pemahaman mengenai menemani anak tumbuh dan berkembang? Ini hanya opini Ka Acha ya, Dears.

Di lingkungan pesantren -- dari yang Ka Acha baca atau tonton ya, jadi kamu yang punya pengalaman bertumbuh di lingkungan pesantren sangat boleh mengoreksi -- selalu ada hierarki tersendiri. Orangtua di sana, seolah mengawasi sepanjang waktu. Biasanya beban ini berdiam di pundak pemilik yang membangun, beserta segenap keluarganya.
Lalu para ustaz ustazah yang rutin bertegur sapa di asrama, lebih terasa seperti kakak. Keputusan akhir akan ada di tangan pemimpin pesantren.
Begini sih yang Ka Acha temukan juga rasanya dalam novel remaja islami seri Hijab for Little Sisters : Kamu Nggak Sendirian di Pesantren. Euis memang banyak diperhatikan Ustazah Halimah. Tetapi masalah Euis, dibukakan jalan terangnya melalui Nyai Sepuh, istri dari sang pemilik Pesantren Al-Jannah.
Oleh karena itu, santri lebih sering bergaul selayaknya saudara lintas usia. Sesuatu yang terasa asing di sekolah umum. Sepengalaman Ka Acha yang selalu masuk sekolah umum ini, guru ya guru, wali kelas itu orangtua di sekolah, lalu kakak dan adik kelas ya teman saja.
Dears ... mohon Ka Acha dikoreksi ya. Latar lokasi di novel ini nggak begitu lekat dengan pengalaman hidup saya soalnya.

Kamu Nggak Sendirian di Pesantren -- Manusia Itu Kan Makhluk Sosial
Terbiasa menanggung beban sendirian itu ternyata nggak baik. Apalagi kalau dibiasakan oleh keadaan dan perasaan sendirian sepanjang bertahun-tahun. Minta tolong itu, perlu.
Akan ada masa di mana seseorang jadi sulit menerima kalau dirinya ya butuh orang lain. Susah menyuarakan perasaan, apalagi memberikan kepercayaan. Lalu yang tersiksa siapa coba, kalau sudah begitu?

Kalau kamu baca kisah Euis di novel seri Hijab for Little Sisters : Kamu Nggak Sendirian di Pesantren ini, kamu akan lekas memahami bagaimana pengalaman dan perasaan itu berhasil membentuk karakter seseorang. Berhubung novel ini segmentasinya remaja mulai usia SMP, segala gejolak yang sedang kamu rasakan bisa saja membawamu memahami diri atau berempati dengan temanmu.
Bagi orang dewasa seperti saya, novel remaja islami ini malah membawa saya merenung lebih dalam. Mengenai bagaimana orang yang lebih dewasa kemudian memberi pengaruh besar pada adik, anak, atau siapa pun di sekitar yang berinteraksi lekat setiap harinya.
Di sisi lain, novel remaja karya Shakila Raya ini menitipkan pesan hangat bagi pembacanya. Mengingatkan kembali tentang sebuah kondisi dari seseorang yang sedang ruwet-ruwetnya menjalani hari di dunia ini. Tawakal. Berserah.

Ceritanya yang ringan membuat bukunya cukup mudah saya tamatkan. Konfliknya khas remaja, sehingga memancing pembaca dewasa seperti Ka Acha lekas merasakan sedih dan sesaknya.
Akankah kehidupan Euis nantinya berjalan bahagia? Benarkah ia "yatim piatu"? Adakah sosok yang kemudian bisa mengisi hatinya yang terlanjur nggak mudah percaya, dan tumbuh lebih baik di pesantren? Kamu bisa menemukan jawabannya bila ikut membaca Hijab for Little Sisters : Kamu Nggak Sendirian di Pesantren.
Komentar
Posting Komentar