Ternyata bukan cuma anak-anak yang butuh dihibur lewat cerita dari buku bergambar. Rupanya, orang dewasa juga.
Buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini seri hard cover yang Ka Acha miliki ini datang serupa kejutan. Berawal dari koneksi menyenangkan dengan teman sesama bookstagram di satu komunitas membaca. Sebuah hadiah karena dia punya dua buah bukunya.
Buku flash fiction Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini pernah hits banget di masa sebelum pandemi. Bahkan sampai dihadirkan dalam rupa film. Ka Acha yakin kamu pasti tahu. Soalnya di masa itu, filmnya booming banget.

Sebelum itu, akun NKCTHI di Instagram pernah begitu ramai dijadikan referensi quote hidup juga. Relate banget sama kehidupan "berat" yang dicicipi kaum muda di era kala itu. Ya ... masa-masa menemukan diri sendiri yang karena baru menemukan tantangan dunia dewasa yang jedhar-jedher.
Menikmati pesan-pesan penguat seri NKCTHI di akun platform musik Spotify juga bisa. Penulisnya menghadirkan playlist yang dapat dinikmati di sana.
Makanya, Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini tuh dianggap sebagai karya yang menyentuh banyak hati. Sebuah rupa karya yang lengkap dan merangkul (hampir) segala sisi yang awam kenali. Kalau boleh Ka Acha sebut begitu ya.
Profil Buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini
Judul : Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini
Penulis : Marchella FP
Ilustrator : Marchella FP
Editor : Pax Benedanto & Katrine Gabby Kusuma
Penerbit : POP (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan : Pertama, Mei 2019
Tebal : 208 halaman
ISBN : 978-602-481-172-3
Blurb untuk buku yang Ka Acha miliki ini cukup pendek. Sepotong kalimat penyemangat yang membacanya saja sudah buat benak saya menjadi riuh. Bunyinya : "Nanti kita cerita tentang hari ini. Bisa kita buat yang lebih baik lagi."
Serasa Punya Buku Bergambar setelah Dewasa
Di dalam bukunya yang penuh oleh warna dan beragam pesan singkat kehidupan untuk muda-mudi ini, dikisahkan kalau buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini merupakan sekumpulan pesan dari seorang ibu untuk anaknya. Ia menuliskan intisari pengalaman hidupnya sebelum ia lupa rasanya menjalani kehidupan di usia muda.
Pesan yang bukan menggurui, tetapi menghadirkan sudut pandang yang bisa ditelaah sebelum diterima mentah-mentah. Nasihat lembut untuk "anak-anak ibu" yang pada akhirnya meraih buku ini, membacanya, hingga kemudian merasakan dekap hangatnya.
Ka Acha akan menunjukkan padamu salah satu pesan sayang dari ibu di sini, Dears. Kamu merasa relate nggak?

Kalau Ka Acha sih, iya banget. Sering banget merasa takut menjalani hal-hal yang baru tapi harus dicicipi di kehidupan ini. Mengingatkan juga kalau waspada itu nggak apa-apa, tapi jangan buru-buru untuk curiga.
Kamu menangkap rasa yang sama? Kalau iya, ceritain ke Ka Acha di kolom komentar ya.
Dipeluk Ibu dari Pagi, Siang, Sore, hingga Malam
Kalau kamu sudah pernah menonton film NKCTHI, mungkin kamu akan bertanya-tanya, mengapa di buku ini tokohnya hanya ada Awan saja. Kemana hilangnya kedua saudara kandung Awan? Kemana perginya lelaki muda yang membuka mata Awan? Ayah dan Ibu Awan ada di mana dalam ceritanya?

Jadi ternyata, Awan adalah Ibu untuk kita semua, Dears. Di tahun ia tumbuh mendewasa, ia meluangkan waktu, pikiran, serta jiwanya untuk mengirimkan cerita pada anak-anaknya di masa depan. Pesan yang kemudian sebagai pembaca, kita tangkap dalam hening yang panjang sembari meresapi maknanya.
Mata pembaca diajak untuk berkelana, merasai segala rupa yang tersaji pada lembaran bukunya yang terbuka. Goresan, guratan, sapuan, juga rona-rona warna yang dipilih oleh penulisnya, mengirimkan nada bagi setiap kutipan yang ikut hadir pada lukisan di sana.
Lalu, bab pada buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini versi hard cover yang Ka Acha miliki, terdiri dari pesan-pesan untuk pagi, siang, sore, juga malam. Pada setiap sesi itulah, Ibu seolah mengirimkan bisikan yang sesuai dengan keadaan.

Awal hari, Ka Acha dipandu untuk memulai dengan sepenuh hati. Memang terasa nggak siap, tapi bagaimana pun itu, hari mau nggak mau harus dijalani. Menunggu malah membuang waktu dan membuat rugi. Maka pesan Ibu cenderung menyemangati. Walau ada resah, gelisah, tetapi ambil saja dulu kesempatannya dan perlakukan diri sebaik-baiknya.
Di kala siang, Ibu kembali datang lewat pesan berbeda. Ibu bilang kalau di waktu itu, kita semua sedang bergerak. Kita sudah terbiasa sedikit sebab pagi tadi telah berani mengambil keputusan besar untuk memulai hari.
Maka, Ibu minta kita untuk nggak saling bertubrukan. Menyadarkan kalau sebagai individu, setiap kita pasti memiliki titik tujuan yang bisa jadi sama, nggak jarang pula berbeda walau nampak serupa.

Di sore hari, Ibu meminta kita untuk menarik napas lebih dalam. Selepas berjibaku dengan segala hal-hal yang kita perjuangkan, Dears. Beri ruang tenang, sebab tubuh dan pikiran pasti butuh itu.
Lalu pada saat malam, Ibu datang menghampiri tubuh kita yang berbaring nyaman di atas tempat tidur. Ibu membimbing kita untuk memanjatkan syukur. Betapa hari sudah berjalan sedemikian rupa, dan kini waktunya tubuh diberi jeda.
Buku yang Mampu Memeluk Kapan Saja
Bisa jadi alasan utama Marchella FP memilih Ibu Awan sebagai tokoh utama pembawa pesan cerita, sebab sosok inilah yang memberi setiap "anak manusia" ruang untuk melihat dunia. Tumbuh pertama kali pada rahimnya, lahir bersama perjuangan antara hidup dan matinya, lalu semakin hari semakin besar dalam kedekatan yang tercipta bersama Ibu sejak dekapan pertama.
Bagi anak perempuan semacam Ka Acha yang terbiasa diasuh oleh banyak orang, kedekatan dengan sosok Ibu dalam hidup saya tuh seperti mementingkan kualitas, bukan kuantitas. Maka dari itu, buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini versi hard cover ini seolah mampu memeluk saya yang terlalu terbiasa merindukan ibu saya di kala pagi, siang, sore, juga malam.

Pesan-pesan dalam rupa kutipan pada buku flash fiction ini seolah bilang, "Nggak apa-apa, Nak." Atau lebih sering lagi, "Dicoba dulu, Nak. Hasilnya nggak usah dipikirkan. Pikirkanlah caramu menjaga diri, jiwa, dan harapan yang kamu punya agar tetap berpendar teduh, ya?"
Ibu nggak akan pergi, walau bisa jadi saat dibutuhkan ternyata Ibu nggak bisa ditemukan di rumah. Ibu selalu ada, biarpun jarak membentang jauh, sebab langit masih menaungi Ibu dan kita pada semesta yang sama. Ibu selalu siap sedia dengan limpahan doa, meski Ibu sebagai tempat anak-anak senang pulang itu kelak berpulang jua.
Sejauh apapun, sebesar apapun, bagi Ibu, kita adalah anak-anaknya. Begitu pula sebagai anak, sepanjang hayat akan selalu merasai betapa butuh jiwa kita dipeluk oleh Ibu.
Beruntung. Saya beruntung sekali, Dears. Senang sekali bisa memiliki buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini versi hard cover yang dapat dibuka setiap kali merasa ingin dipeluk Ibu. Dalam tenang, diam, hening, namun hangat dan menghidupkan hidup.
Komentar
Posting Komentar