Etika Berwisata Agar Perjalananmu Punya Banyak Cerita

Ada banyak hal yang membuat kegiatan traveling menjadi salah satu hobi yang menyenangkan untuk ditekuni. Apalagi, seringnya melakukan sebuah perjalanan yang katanya sih, membuat seseorang mampu beradaptasi dan keluar dari zona nyamannya, bisa menjadikan diri yang mandiri dan mampu memahami perbedaan di lingkungan sekitarnya.

Sungguh manfaat yang baik sekali.

Sayangnya, nggak semua orang yang berwisata, dapat menikmati dengan baik perjalanan untuk menenun pengalaman hidup ini, menjadi sebuah cerita, dengan menyesuaikan diri dan mematuhi etika berwisata.

etika-berwisata

Awalnya, setiap diajak melakukan perjalanan menjelajahi destinasi wisata, saya sering terpikirkan tentang seindah apa tempat yang akan saya kunjungi, seperti apa sih budaya yang ada di sana, berapa jaraknya dari pusat kota, dan lain sebagainya yang bersinggungan hanya dengan sisi positif destinasi tujuan.

Lama-kelamaan, saya menyadari, rasanya ada sisi lain dari sebuah proses perjalanan atas nama liburan dari penatnya kehidupan dan keseharian, dimana saat sedang bersenang-senang pun, tetap ada peraturan nggak tertulis yang perlu diperhatikan.

Sesuatu penting yang ternyata … jangan sampai, seusai memotret diri di banyak lokasi wisata, lalu memutuskan pulang dengan sukacita, ada sesuatu yang tertinggal di sana. Kalau jejak kaki, ya sudah lah ya. Nah, kalau sampah bekas makanan atau minuman, bagaimana?

Bagaimana kalau yang tertinggal adalah omongan bisik-bisik dari pengunjung lain yang rasa hati mau menegur tapi nggak mau bikin ribut dan merusak mood?

Ih apa sih, Kak Acha berlebihan banget.

Kenali Daerah Tujuanmu

Pernah ada di satu waktu dalam hidup, saya merasa keren banget karena sudah mencicipi rasanya  berkunjung ke sebuah situs warisan budaya yang telah ditetapkan oleh UNESCO, berada di Jogjakarta, dan dulunya pernah dimanfaatkan sebagai masjid.

Padahal, sesungguhnya, itu kan destinasi sejuta umat kalau main ke Jogjakarta. Bahkan penjelajahan saya bisa jadi hanya secuil dari yang pengalaman kamu.

Lalu, saya menemukan diri saya masih nol besar, sebab saya berkunjung ke sana dulu, hanya sekadar berkunjung saja. Berfoto saja dimana saya suka dan sesekali diarahkan oleh tour guide yang nggak sengaja bertemu dengan saya dan teman-teman saya, saat berada di sekitaran Taman Sari.

Akhirnya, apa yang saya bawa saat kembali pulang ke rumah?

Beberapa pose saat berada di sana, rasa bangga pernah menjejakkan kaki di lokasi foto mainstream itu, tanpa sadar … akhirnya nggak banyak cerita yang saya dapatkan.

Saya nggak mengenali dimana saya menjelajah dengan baik. Saya nggak berusaha memahami dan mempersiapkan diri. Bisa jadi juga, selama berada di sana, saya pernah menjadi teman seperjalanan yang menyebalkan karena nggak terlalu pandai membawa diri.

Mengenali tempat yang mau disambangi, paling nggak, sepanjang perjalanan jadinya nggak clueless. Atau … nggak langsung pundungan kalau tempat yang dikunjungi nggak selalu memberikan pengalaman yang nyaman dalam perjalanannya.

Bahasa sederhananya sih, kenali dulu medan perangnya. Biar ada persiapan matang, apalagi kalau daerah wisata tujuanmu itu, bukan tempat kamu dibesarkan, jadinya ada banyak kebiasaan-kebiasaan yang berbeda.

Patuhi Peraturan dan Jaga Kebersihan

Seringnya saya menghela napas sambil lalu kalau sedang berkunjung ke suatu tempat, lalu pihak pengelola sudah memasang papan peraturan besar-besar, sayangnya ada saja pengunjung yang nggak mengindahkannya.

Sudah tahu kalau di sekitaran tugu 0 kilometer jalan raya daendels dilarang buang sampah sembarangan. Tempat sampah pun terlihat jelas. Tapi, sampah gelas air mineral ada saja yang diletakkan suka-suka.

jaga-kebersihan

Menjaga kebersihan di tempat wisata bisa jadi salah satu langkah untuk turut mencegah pencemaran lingkungan. Harapannya, semoga kelak jika ada kesempatan kamu mengunjungi lagi lokasi liburanmu tadi, semuanya masih tetap terjaga dan nampak asri.

Salah siapa kalau tempat wisata jadi nampak nggak teratur, coba? Ya nggak selalu karena kelalaian pihak pengelola kan ya.

Ada lagi lokasi wisata sakral serupa tempat ibadah yang meminta pengunjung untuk mengenakan pakaian yang tertutup dan sopan. Apa sulitnya untuk dipersiapkan sebelum berangkat dari penginapan? Kan sayang kalau sudah jauh-jauh datang tapi nggak bisa bertandang.

Belum lagi, di beberapa lokasi wisata pura, saya menemukan papan larangan agar pengunjung nggak memasuki area yang sering dimanfaatkan sebagai tempat berdoa atau meletakkan sesaji. Duh, kalau beneran bandel, rasanya malu sekali.

Atau, seperti yang pernah diberitakan di media elektronik tentang wisatawan yang datang ke Bali, tetapi mengira di sana bebas berkendara sesukanya, lalu ugal-ugalan bawa kendaraan sewaan. Haduh ….

Ada lagi. Semisal sedang berkunjung ke taman, ada bagian yang rumputnya nggak boleh diinjak. Nah, ada saja yang tetap melakukannya, demi mendapatkan foto kece untuk konten di media sosialnya. Miris ya.

patuhi-peraturan

Tetap memperhatikan sekitar rasanya boleh dimasukkan ke dalam etika berwisata ya. Bagaimana menurut kamu?

Hormati Budaya Setempat

Namanya juga pengunjung, hanya datang sebentar lalu, tanpa niatan menetap lama dan menikmati budaya yang sudah berjalan turun-temurun di sana. Sesekali bertanya pada penjaga hotel atau mencari tahu melalui mesin pencari sebelum tiba, malah bisa menjadi nilai tambah sepanjang menikmati sesi traveling kamu nantinya.

Ada daerah yang logat bicara orang-orangnya terdengar kurang halus di telinga, misalnya. Jadi, sepanjang berada di sana, kamu nggak perlu ngambek dan merasa dimaki, karena sudah lumrah. Ya memang kebiasaan masyarakatnya.

Kan saya turis.

No. That’s a big no. Malah karena sedang jadi “tamu”, berlaku sebaik-baik yang kamu tahu.

Nggak ada salahnya kalau cari tahu sedikit tentang kebiasaan masyarakat atau bahasa setempat. Paling nggak, kamu jadi mudah diterima. Bisa jadi, kamu malah akan pulang dengan berhasil punya kenalan baru di sana.

Bersikap Terbuka dan Waspada

Jauh dari rumah, sebagai traveler, katanya sih, bersikap terbuka jadi jalan terbaik untuk mendapatkan banyak pengalaman sepanjang liburan. Bisa jadi membawamu berkenalan dengan teman seperjalanan yang baru. Bisa jadi juga membuatmu menemukan tempat yang kelak bisa kamu sebut sebagai “rumah kedua”.

Seringnya, mengunjungi suatu lokasi wisata, pengetahuanmu akan dipenuhi oleh hal-hal baru … sesuatu yang bisa jadi cerita seru di lain waktu. Terbuka akan berbagai informasi yang sebelumnya nggak kamu ketahui. Menemukan banyak sekali keunikan dari daerah yang sedang kamu kunjungi.

Namun, waspada dengan sesiapa saja yang ditemui jauh dari rumah dan keluarga tentu pilihan yang bijaksana. Daripada terjadi sesuatu yang membahayakan atau kurang menyenangkan, nggak mudah percaya dan terbawa, jadi jalan terbaiknya.

Waspada pun dalam hal ini bukan hanya tentang orang lain, namun juga pada dirimu sendiri. Menjaga sikap sebaik-baiknya. Menahan diri agar jangan sampai membuat kekacauan.

Gunakan Layanan Penginapan dengan Bijak

Pernah nggak sih, kamu mendapati kisah-kisah yang nggak banget dari teman sesama pejalan, misalnya tentang kelakuan anomali orang-orang yang membiarkan air hangat di kamar mandi hotel mengalir terus padahal nggak digunakan.

Atau mungkin kamu punya kisah lainnya yang bisa kamu turut ceritakan?

Menggunakan layanan di penginapan dengan bijak alias nggak berlebihan, misalnya untuk pemakaian listrik dan air, nggak akan membuat kamu rugi kok. Selalu ada risiko dari suatu tindakan yang dilakukan.

Semoga catatan tentang etika berwisata ini bisa membuat perjalanan kamu nantinya menghadirkan banyak cerita menyenangkan. Jika ada poin yang ingin kamu tambahkan, silakan sampaikan di kolom komentar ya.

 

Komentar

  1. Itulah kenapa aku selalu detiiiiil bikin itinerary saat bikin plan traveling ke suatu negara/destinasi. Krn aku ga mau ada kesalahan2 yg ujungnya malah merusak perjalanan. Pas ke Bulgaria, aku pelajari kalo kebiasaan orang di sana, mereka anggukin kepala untuk menyatakan TIDAK, dan mereka menggeleng saat menyatakan IYA.

    See, kalo hal yg begitu aku ga cari tahu, bakalan pusing pas nyampe di sana :p.

    Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, wajib sih diterapkan di manapun kita pergi. Jangan menganggap mentang2 tamu, trus hrs dimaklumi. Aku sih ga mau begitu, malah membuat malu dan mencoreng nama baik negara sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah ilmu baru nih aku dapat dari Mba Fanny.

      Sepakat. Jangan mentang-mentang datang sebagai tamu malah mau banyak dimaklumi, sementara nggak ada kesiapan diri dan keinginan untuk mempelajari.

      Terima kasih banyak ya Mba.

      Hapus
    2. mba fanny pengalaman travelingnya bnayak banget ya, apalagi biasa staycation di hotel udah tau banget etika berwisata harus gimana. aku setuju sam akak Acha, soal menjaga kebersihan dan layanan penginapan dengan. jangan mentang - mentang tamu jadi maunya dimaklumi, jangan mentang-mentang stay di hotel jadi berasa " raja" atau "ratu". kebersihan tetep harus di jaga, termasuk etika yaa, aku belajar banyak soal etika travel nih

      Hapus
  2. Saya belum pernah travelling ke tempat yang cukup memerlukan penyesuaian diri. Meski demikian, rasanya ini berlaku dalam perantauan. Tinggal di kampung halaman orang lain sangat perlu kepandaian dalam membawa diri dan mengetahui tradisi setempat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, bisa juga nih Mba Iim. Soalnya kalau sedang dalam perantauan, bagaiimanapun ya diri kitalah yang menyesuaikan ya Mba.

      Hapus
  3. Setuju banget terutama di bagian hormati budaya setempat. Ibaratnya di mana kaki berdiri di situ langit dijunjung. Aku beberapa kali nemu pelajaran pas jalan. Misalnya di salah satu gereja, aku kelepasan memakai topi. Lalu sama salah satu pengurus, aku ditegur dan segera minta maaf.

    Suka sedih kalau berwisata tapi malah merusak. Tak jarang juga di beberapa lokasi, aku melihat bekas-bekas vanalisme. Dinding-dinding berbatu dicoret-coret haaa. Sedihnyaaa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah vandalisme ini juga sih Mas yang kadang bikin merasa "emang mereka nggak tau, atau mengabadikan mereka pernah di sana, atau bagaimana ya" padahal orang lain nggak selalu suka.

      Hapus
  4. Menjadi wisatawan yang bijak sekarang ini sangat penting banget. Menyedihkan jika hanya sekedar menikmati tapi merusak lingkungan. Alam dan lingkungan perlu dijaga apabila kita mau menikmatinya dengan penuh kesadaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat Bu.

      Bagaimana pun, walau sedang berwisata, perlu pandai membawa diri.

      Hapus
  5. Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung ya? Menyesuaikan juga dengan kebudayaan setempat biar gak sampai culture shock.

    Sedih banget kalau berwisata terus ternyata tempatnya kotor, karena wisatawan lain pada gak disiplin buang sampah. Padahal sudah ada banyak tempat sampah di sana. Sampahnya jadi merusak pemandangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, sering nih ketemu sama yang begini Mba. Miris kadang lihatnya. Padahal kalau mau dan niat buat tetap jaga lingkungan, sampah yang dibawa masih bisa ditenteng sebentar saja sampai ketemu sama tempat untuk membuangnya.

      Hapus
  6. Attitude kita dimana pun semoga dijaga terus ya, termasuk dalam hal berwisata. Soalnya banyak tempat2 apalagi yang bersejarah yang kalo kata mbahku tuh, ucapkan salam dulu, permisi agar jangan sampe menganggu.
    Benar kata pepatah, dimana bumi kita pijak, disitu lah langit kita junjung. Jadi suka inget pesannya kalo kmana mana, apalagi soal menjaga kebersihan.

    Nah, ngomongin menggunakan layanan hotel dengan bijak, aku syedih. Banyak sahabat hotel yang curhat, kalo ada beberapa travel blogger/blogger yg menginap seenaknya minta ini itu, trus merubah posisi bed/meja/kursi demi pose ala2 seleb2gram tanpa dibereskan lagi.
    Tamparan buat aku juga, ga semua blogger begitu ko.
    Semoga saja tetep menjunjung etika di mana pun berada ya. Makasih udah reminder lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, ternyata ada yang begitu juga ya Teh.

      Terima kasih banyak ya Teh, aku juga diingatkan untuk tetap jaga attitude juga jika sedang bepergian atau menginap di suatu tempat. Biar yang melayani senang, kitanya yang dilayani pun senang.

      Hapus
  7. Aku setuju banget bersikap terbuka bisa jadi jalan terbaik untuk mendapatkan banyak pengalaman sepanjang liburan. Prinsip banget ini.

    BalasHapus
  8. Etika berwisata seperti ini memang perlu diketahui banyak orang kak. Biar gak semakin sembarangan. Terlebih ke tempat-tempat wisata yang memang harus dijaga kelestarian dan nilai budaya nya. Thanks for sharing this kak Acha ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih juga sudah berkunjung ke mari ya Mas Adhe.

      Hapus
  9. Suka sedih kadang ada wisatawan yang buang sampah sembarangan di tempat wisata soalnya kan ya kasihan juga petugas kebersihan yang harus bersusah payah membuat tempat jadi bersih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali Mba.

      Nggak perlu merasa "oh itu kan pekerjaan dia" tetapi dengan sedikit bantuan sederhana yang kita berikan, anggap saja sebagai sedekah dengan memudahkan pekerjaan mereka.

      Hapus
  10. nah, benar banget untuk belajar tentang budaya setempat, biar kita bisa saling menghormati. Saya tipe kalau jalan-jalan itu suka eksplorasi hanya saja kadang teman seperjalanan tidak mau mengerti apa yang kita mau atau penginnya cuman foto-foto terus pulang.

    Oh iya, paling sebal juga kalau lihat orang seenaknya merusak apa yang ada di tempat pariwisata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, aku pun termasuk yang maunya eksplorasi.

      Ada momen dimana sedang jalan-jalan sama beberapa teman yang gaya jalan-jalannya itu "kejar tempat wisata buat foto doang" jadilah nggak menyenangkan.

      Hapus
  11. bagus banget tips/etika berwisata nya, Cha

    dulu sering banget saya ngeblank sewaktu datang kee suatu lokasi wisata

    sesudah googling sebentar, jadi tahu dan bisa foto di spot yang tepat

    BalasHapus
  12. Setuju banget mbak dengan pembahasan di atas, setiap daerah pasti memiliki aturan dan adat istiadat yang harus di hormati. Aku juga pernah nih mbak, waktu itu masih tinggal di Bukittinggi, di sana lumayan masih kental sekali adat istiadatnya. Kalo berkunjung ke tempat-tempat wisatanya pasti pengunjung tidak boleh menggunakan pakaian terbuka dan minim.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah ini dia. Kadang aturannya nggak selalu tertulis ya Mba. Kesediaan mencari tahu atau bertanya saja sama petugas yang menjaga, mungkin akan lebih membantu ktanya yang sedang berkunjung ke sana.

      Hapus
  13. Setuju banget nih, kita harus kenal dulu sama tempat yang akan kita kunjungi, cari info via medsos, supaya perjalanan kita ga sia-sia , pengalaman aku , karena asal aja cari info, sampai rumah pernah nyesel kok aku ga masuk ke tempat itu ya? Jadi ada tempat yang terlewat , nyesel jadinya, padahal di tempat yang aku kunjungi. Dan paling sebel kalo lihat orang-orang ga bisa jaga kebersihan, sayang banget jadi banyak sampah di tempat yang harusnya kita jaga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jaman sekarang, mau cari tahu tentang suatu tempat wisata baru atau menarik, gampang ya Mba. Tinggal berselancar saja di dunia maya.

      Sedih banget kalau pas sudah selesai liburan malah baru sadar begitu.

      Hapus
  14. Terima kasih sudah mengingatkan tentang etika sebagai traveler ini mba.. Setuju sekali bahwa kita harus pandai2 membawakan diri di manapun kita berada..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak sudah berkunjung ya Kak.

      Hapus
  15. menjaga kebersihan ini paling penting sih mba, kadang sebagai turis atau wisatawan kita nggak hafal di tempat mana yang ada tempat sampahnya, kalau saya pribadi berada di situasi tersebut biaasanya saya selipkan sampah di tas atau kantong kecil dan baru dibuang saat lihat tempat sampah, thanks for sharing ya kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak juga sudah berkunjung ya Kak Anda.

      Senang sekali dengan trik yang Kak Anda biasa lakukan. Semoga banyak yang meniru ya Kak.

      Hapus
  16. Hal sederhana yang harus benar-benar dipelajari dan sebagai pengingat bagi aku adalah ketika staycation di hotel baik ketika sarapan ataupun makan malam. Jangan sampai mengambil makanan/minuman/cemilan yang berlebihan. Karena kasihan saja, aku sering banget melihat tamu hotel yang tidak menghabiskan makananannya.Kan mubazir, ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah ini dia nih Mas Yopi.

      Makanan dan minuman yang diambil berlebihan terus cuma buat icip icip doang tapi nggak dihabiskan, kan mubadzir ya Mas.

      Nggak ada yang mau makananin juga. Ujung-ujungnya bakalan dibuang deh.

      Hapus
  17. Nah sepakat kak hal kecil ketika staycation harus memperhatikan hal2 kecil yang manfaatnya besar ya misal tidak membuang sampah sembarangan dan membawa makanan dari luar dengan bau menyengat ..karena kan bnyk orang pasti ya di hotel jadi sama2 lah menjaga kenyamanan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, bawa makanan dengan bau menyengat.

      Baru nih terpikirkan. Terima kasih banyak Mba Bayu.

      Hapus
  18. Aku yg tinggal di Jogja lg mikir tadi, ori kak acha berkunjung ke tempat wisata apa yaaa.. Kok aku ga bisa nebak.

    Memang bener nih, mengetahui adat dan kebiasaan suatu tempat emang pntg bgt. Jangan cuma haha hihi foto sana sini terus gatau sejarah tempatnya yaaa.
    Dulu aku pun begitu sih

    Skrg malah jd lupa pepohonan karena terlalu fokus menelusuri tempat yg dikunjungi . Tapi ya ujung ujungnya nyesel jg kalau ga ada hasil foto gitu. Wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huwaaa ... itu lho Kak Ghina, Sumur Gumuling, Masjib Bawah Tanah yang ada di Taman Sari. Udah masuk sebagai salah satu tempat bersejarah yang dijaga kelestariannya oleh UNESCO lho Kak.

      Iya ... dulu pun aku nggak jauh beda Kak. Namun lama kelamaan jadi banyak belajar juga sih.

      Waduw, kalau ujungnya jadi lupa pepotoan, kok sedih juga akunya Kak.

      Hapus
  19. iya, saat jalan-jalan pun ada etikanya ya mbak
    klo aq tu yg paling utama ya memahami aturan setempat, biar nggak salah dalam berbuat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat Mba. Dicari tahu dulu biar nggak merugikan diri sendiri dan sesi jalan-jalan jadi menyenangkan.

      Hapus
  20. Etika saat di tempat orang ini harus dijaga betul yaa.. Agar tidak menyebabkan kerusakan dan kekacauan.
    Unik dan pasti orang-orang yan sering travelling adalah orang yang adaptif, mudah beradaptasi dan cepat tanggap akan hal-hal baru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali Teh.

      Rasanya orang yang kemudian sering traveling akan memahaminya secara perlahan, dan semoga makin jadi lebih baik.

      Hapus
  21. Jaga kebersihan saat berwisata itu harus banget lah sebagai pengunjung. Jangan malah meninggalkan jejak sampah ya. Biar saat datang lagi kan enak meninggalkan jejak baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali Kak Fenni. Mana tau kedatangan kita bisa jadi cerita juga buat orang lain. Cerita yang baik tentunya.

      Hapus
  22. Sebagai seorang backpacker khususnya selama sebelum menikah, aku sebelum backpacking selalu survei tnpat yang bakal kudatangi dan sebisa mungkin menjaga adat supaya tetap selamat dan bisa menikmati backpackingan ku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, ternyata Kak Visya dulunya suka backpackeran. Mantap.

      Hapus
  23. Belajar kembali lewat postingan ini. Semua betul banget, saya juga setuju.
    Apalagi ketika berwisata dengan mengajak anak, kita harus mengajarkan etika-etika berwisata seperti ini. Supaya mereka paham, bahwa tempat wisata adalah tempat berbagi dengan orang lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya, apalagi saat mengajak anak.

      Mana tau, apa yang diajarkan ke anak, akan dia teruskan saat dewasa ya.

      Hapus
  24. Nah, aku sangat sepakat dengan mbak Acha. Karena setiap tempat memiliki aturan. Gimana kalau tempat yang dikunjungi ini memang cukup legendaris dan menyisakan hawa mistis? Ini sebagai seorang traveler atau backpacker memang butuh waspada lebih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah kalau ada hawa mistisnya, jadi perlu makin menjaga diri dengan baik lagi ya Mba.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels