Langsung ke konten utama

Anime Toku 2016 : Toys Fair Asik di Mall

Seharusnya saya meng-update post ini sekitar dua mingguan lalu. Tapi duuu … ternyata ada saja hambatan saya untuk menyelesaikan postingan ini ya. Mau nggak di post, sayang juga. Soalnya acaranya lumayan seru, sehingga lumayan sedih sih kalau nggak berhasil saya bagikan.

By the way, beruntunglah saya yang sudah kangen untuk main main ke event event bertema jepang-jepangan sejak beberapa waktu lalu, menemukan info mengenai event Anime Toku 2016 ini via Twitter. Sepertinya, Anime Toku ini event untuk para pecinta Anime dan Tokusatsu ya. Anime Toku Convention 2016 yang diadakan di Hall Lt. 3 – 4 Kuningan City Mall, Jakarta Selatan ini, sedikit membayar rasa kangen saya untuk cuci mata. Menikmati suasana bazaar dengan berjalan di antara sekumpulan costum player yang … hmm, dulu sih saya masih suka minta foto bareng. Kalau sekarang? Eum, sebenarnya mulai lebih senang membiarkan si costum player berpose di depan saya yang membidikkan kamera smartphone sih. Atau … cenderung memotret benda benda diam.


Ada Gundam di Lantai Dasar Kuningan City

Sejak punya partner yang sukanya kebangetan sama mainan – kita sebut saja sebagai action figure ya biar lebih spesifik – saya yang tadinya cuma punya level rasa suka dan gemas sama mainan mainan lucu,  apalagi yang berbau mobil mobilan – baiklah, lebih spesifiknya sih mini 4 WD yang pakai baterai dan ada boneka boneka yang duduk manis di kokpitnya – mendadak jadi lebih semangat kalau diajak main-main ke Toys Fair. Alasan nggak egoisnya sih menemani si partner yang doyan ke bazaar mainan. Alasan egois saya sih, mau motret, mau main dan menikmati keramaian, mau jalan-jalan sampai capek, mau menikmati panggung musiknya, makanannya, eum … apapun yang bertema festival pop maupun budaya, saya suka.

Ketemu Juga Tempat Acaranya

Urusan main main ke Toys Fair sejak awal tahun ini entah bagaimana ceritanya, mengalir saja, menjadi kegiatan penghibur kalau sedang nggak bisa mendatangi beberapa festival bertema Asia lainnya, seperti festival Film Korea yang diadakan salah satu lembaga beberapa waktu lalu, atau nimbrung di Festival Film Jepang yang diadakan oleh salah satu jaringan bioskop. Basically, saya punya kesenangan sendiri  berada di tempat ramai, menikmati pertunjukan yang menarik, sama seperti di Anime Toku 2016 ini.


Display action Figure Pertama yang Saya Capture di Anime Toku 2016

Memasuki ruang pamernya yang mungil, poster poster besar berbagai komunitas yang terpajang di sekat dinding dengan latar kain hitam, juga sebuket action figure saint seiya, seolah membawa saya memasuki lorong imajinasi – dunia kami – dunia milik kebanyakan anak anak kelahiran 90-an yang tumbuh besar di jaman jepang-jepangan sedang populer banget.

Cantik Ya

Ada beberapa benda yang menggoda untuk saya potret selanjutnya. Termasuk ada lah ya, beberapa foto yang nggak ada hubungannya sama tema jepang-jepangan tapi tetap saja saya paksa si partner untuk berdiri manis di salah satu sudut Hall Lt. 3 Kuningan City itu. Bagaimana pun, setiap menemukan tempat yang menarik mata, saya selalu mensyukuri keberadaan partner saya yang suka dan senang-senang saja iseng saya manfaatkan untuk mengisi frame di photo yang saya capture biar nggak sepi sepi amat. Tetap deh ya, sisi egois saya ke event-event begini ya selain menikmati suasananya, tentu saja memotret dengan smartphone saya.

Bajaeger 1 (Keren Ta)

Walaupun beneran deh, Anime Toku 2016 ini event sederhana, tapi sudah cukup mengajak saya kembali sebentar ke dunia imajinasi saya. Apalagi waktu yang saya lewati di sana pun sebentar banget, tapi sudah cukup me-refresh diri saya setelah merasa hidup saya cukup monoton beberapa hari ke belakang. Dan lagi, inilah kali pertama saya mendatangi event toys fair mini yang digelar di mall pula.

Seperti sebuah artikel yang pernah saya baca di majalah Marketing edisi Oktober 2016, dikatakan bahwa Toys Fair, dimana action figure dan figure bertebaran di baxzaar ini, merupakan sebuah bazaar yang bersifat emosional dengan segmen pasarnya yang beneran segmented. Kalau kamu nggak eungeuh dan nggak punya kedekatan emosional tertentu dari sebuah action figure yang dipajang di sana, maka sulit timbul ketertarikan bahkan keinginan untuk mengoleksinya. Jujur saja ya, action figure ini sebenarnya benda yang kebanyakan dibeli berdasarkan keinginan, its mean muncul dari dorongan hobi yang punya kedekatan dengan si figure maupun si action figure ini. Entah karena suka animenya, komiknya, game-nya, dan masih banyak lagi.

Hebatnya, saya menemukan bahwa orang-orang yang menyukai action figure ini, entah bagaimana ceritanya, selalu paham saja dengan detil benda benda berupa “boneka” yang bertebaran di display. Tentunya, pemahaman yang nggak dimiliki orang dengan pengetahuan cetek tentang dunia anime seperti saya ini. Level orang-orangnya pun berbeda lho, dibandingkan jika saya mengunjungi event dengan bazaar bertema Jepang yang bernuansa festival.

Sekali lagi … senang banget awal bulan lalu saya bisa main ke Anime Toku 2016. Semoga semakin menyenangkan ya event-nya di tahun depan.




Komentar

  1. Baru dengar tentang anime Toys Fair, mungkin karna aku nggak suka anime kali ya. Tapi kalau ada event-event kayak gitu, pengennya sih ikutan, sekedar foto-foto doang! Hahahaa... :D

    #SalamKunjunganBalik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam juga.

      Semoga kapan kapan bisa ikutan ya.

      Hapus
  2. Pernah ikut yg seperti ini.. Keren2 memang.. Kdang ingin rasanya miliki maenan seperti itu.. He
    Selain bagus, buat dikoleksi juga menarik..

    Boneka perempuannya selain cantik,lebih bags dr barbie waktu aku kecil ya 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya. Cantiknya detil gitu, dan bukan mainan anak anak sih menurutku.

      Hapus
  3. Figures mean.. Bring your imaginative characters into the real world...hihii.
    XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyup Mas. And i appreciate it so much. I appreciate every kind of things you like too. :)

      Hapus
  4. Aaaaaa kangen pergi ke event jejepangan kaya gini :((
    Dulu setiap kali ke j-fest rasanya gak afdhol bila gak foto bareng, sekarang sama-sama lebih memilih buat moto aja XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi ciri ciri udah masuk golongan penikmat nih kalau begini. :)

      Hapus
  5. Wiiiihhhhh keren-keren...
    -_- kenapa oh kenapa ya gue selalu telay soal beginian...paling sering tau dari Tv yang ngabarin "hari terakhir pameran" :/ duh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaaahhh ... mungkin perlu lebih update lagi ya. Semoga lain kali bisa ikutan ya.

      Hapus
  6. Temen aku ada yg suka banget sama mainan2 kayak gini... Sampe beli miniatur2 yang harganya lumayan... Aku mah cukup menikmati liat2 aja ihihihi XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Partner-ku pun begitu Mba. Tapi karena bisa dikoleksi dan kalau langka bisa dijual lagi, aku sih senang senang aja mba. Apalagi bantuin motretinnya.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Time

Malam minggu saya terlalui dengan hati kebat-kebit karena anime series ini. Golden Time kembali menghadirkan imajinasi saya yang rasanya, sudah lama sekali nggak saya munculkan lagi dalam pikiran saya. Terakhir, saya menuangkannya dalam cerpen berjudul The Black Guardian Angel yang menjadi cerpen persembahan dari saya untuk tugas dari para editor di event Just Write 2 yang sudah lama sekali.

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.