Langsung ke konten utama

Dunia Eni : Gara Gara ‘Kontrasepsi’


Eni Martini
(By : Dunia eni)

Saya memutar lagu SORE feat Atilia Haron – Silly Little Thing, saat menuliskan postingan saya kali ini. Intro lagu ini membawa saya pada beberapa tahun lalu, saat saya masih berusia belasan dan menyandang status mahasiswi di salah satu perguruan tinggi swasta, dengan tingkat keingintahuan saya yang terkadang ... ikut-ikutan membuat saya pusing sendiri.


Di sebuah toko buku besar ternama saya menemukan novel berjudul Kontrasepsi karya Eni Martini terbitan Gagas Media yang menggoda rasa penasaran saya. Dulu, saya sangat ingin membelinya. Namun setelah membaca beberapa review, saya urungkan niat saya. Kenapa? Saya merasa, novel yang membahas tentang dunia perempuan dan pernikahan ini belum waktunya saya baca. Hingga akhirnya saya beralih pada novel romance sejarah, terutama yang ber-setting di Negeri Sakura.

Kemudian, tahun pun berlalu dan kini saya sampai di usia dua puluhan ....

Kontrasepsi - Eni Martini
(By : GagasMedia)

Cemburu adalah dosa yang paling rentan dialami perempuan. Uniknya, perasaan ini tumbuh saat berinteraksi dengan dengan sesama kaumnya. Begitulah paragraf pembuka yang ada di blurb novel ini. Mengisahkan tentang tiga orang wanita : Moza, Keira, dan Neyna. Persahabatan yang diisi dengan bahasan tentang pernikahan dan kontrasepsi. Polemik  perempuan yang sudah menikah, baru menikah, dan juga belum menikah, memberikan warna yang menarik dalam novel ini.

Untuk menuntaskan rasa penasaran saya akan novel ini, saya putuskan untuk membeli e-book-nya di Google Play.Walaupun di versi e-book-nya sering saya menemukan typo, termasuk kesalahan penempatan nama tokoh, saya tetap bisa menikmatinya.

Mba Eni Martini pun sudah menghasilkan banyak novel, seperti Rainbow, dan tentunya masih banyak lagi. Selain itu, saat mengunjungi blog pribadinya di Dunia Eni, saya menemukan sisi lain dari Mba Eni yang seorang Ibu dengan 3 orang anak. Lagi dan lagi, berkali-kali saya menemukan wanita yang mau mengasuh sendiri buah hatinya, namun masih tetap mampu mempertahankan konsistensinya di dunia tulis menulis. Bahkan, di blog Mba Eni, saya menemukan beberapa tulisan mengenai resep masakan dan parenting.

So now the fun is out there
Such a flaming escapade
The sun is setting up for the game to play


Menulis ternyata memang sesuatu yang fun, santai, mungkin begitu yang dirasakan Mba Eni Martini, sehingga bisa terus menelurkan karya-karyanya hingga hari ini ya. Saya pun jadi tergoda untuk membaca novel-novel Mba Eni lainnya, setelah menikmati sajiannya di Kontrasepsi. 

Komentar

  1. Seorang perempuan yang memiliki tiga anak tapi masih konsisten nulis blog, novel dan lain2 itu keren bgt.

    Wah.. bukunya cocok untuk pria juga nih. Biar tau sebenernya perempuan klo udah menikah itu seperti apa. Biar gue sebagai lelaki tau bagaimana cara menghadapi dengan bijak... hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beuhhhh Banyol, iya banget. Lelaki juga sebaiknya tau, biar ujung ujungnya nggak malah ribut atau nyakitin salah satu pihak.

      Hmm he em, iya banget. Bikin kita yang masih muda muda ini kadang ngenes, belum bisa serajin Mba Eni.

      Hapus
  2. aku pernah sih liat buku ini mejeng di gramedia, tapi ga berani beli, takut isinya dewasa XD
    kakak suka baca e-book ya? kalo aku kurang suka sih baca e-book, bikin mata sakit kalo keasikan baca T T
    kalo kakak jatuh cinta sama penulis gara2 bukunya, aku juga mengalami hal serupa..sama tere liye..aku baca novelnya jaman belom se-femes sekarang, sekarang udah femes bukunya mahal T T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu juga kakak batal beli karena mikir, isinya dewasa. Setelah lama banget, trus udah merasa cukup umur juga, baru deh beli e-book-nya.

      Hmm soal baca buku, ebook sama buku fisik pasti kerasa bedanya. Kalo buku fisik, asik pas lagi santai. Kalo ebook karena bentuknya digital, bisa dibaca pas lagi jalan jalan atau buat ngisi waktu pas sibuk. Jadi tasnya nggak keberatan deh.

      Wah iya tuh, Tere Liye. Aku juga suka buku bukunya. Seringnya minjem ke teman. Hihihi ....

      Hapus
  3. jdul buku nya buat cewe gitu ya? kalau aku sih gak bakal baca apalagi ada cewe di sebelah. nanti di kira apa2 lagi kalau baca itu.

    suka banget org yg produktif nulis gitu walaupun punya tanggung jawab besar, kaya ngasuh 3 anak. hhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi judul bukunya bikin gimanaaaaa gitu ya. Tapi pas udah baca, seru. Yaaa ... cowok juga perlu baca sih, menurutku.

      Iya banget. Hebat ya. Sementara aku yang masih single ini sok sibuk sampe jarang berkarya.

      Hapus
  4. Kalau aku tergoda untuk jadi ibu yang produktif seperti Mbak Eni. :D apapun deh pokoknya aktif. :3 Btw judulnya gelitik hehehee...
    jadi ceritanya gara2 buku kontrasepsi ini kamu jadi nemuin sebuah pelajaran baru ya... dan jadi pengen baca bulu lainnya Mbak Eni yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Judul bukunya yang bikin kepo dan akhirnya kupikir, mungkin judul ini bisa menarik perhatian pembaca.

      Aamiin. Semoga kita tetap bisa produktif terus ya Vind.

      Hapus
  5. jadi penasaran pengen baca buku kontrasepsi karya Mba Eni ini :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.

Buku Antologi “Intai” dari Loka Media

Setelah lama, duh kalau terakhir diingat-ingat, saya yang lelet ini baru bisa lagi memunculkan karya fiksi saya dalam buku antologi di tahun ini. Umm … akhir tahun lalu sebenarnya. Berapa tahun berselang coba, saking saya leletnya? Nah, dalam kesempatan ini, saya mau berbagi kebahagiaan saya sama kamu.