Langsung ke konten utama

Kutulis Namaku di Pasir Putih Santolo #Touring2Garut Bag. 3

Sore baru saja datang saat motor kami beriringan memasuki gapura yang bertuliskan, ‘Selamat Datang di Pantai Santolo Indah, Kabupaten Garut’. Kami dikejutkan oleh ramainya tepian pantai penuh pegunjung yang sedang menikmati libur panjang mereka. Hmm, sepertinya kami juga nggak bisa berlama-lama, sebab perjalanan jauh masih akan menyita stamina kami sepulangnya nanti. Tetapi aroma laut begitu menggoda, jadilah ... kami tergesa mencari tempat parkir.
               

Aku pun nggak tahan untuk berdiam diri saja menikmati deburan ombak dan angin senja. Cukup bagiku menunggu. Nggak perlu waktu lama sampai aku menekan tombol on pada kamera saku milikku.













Tapi masa aku cuma mangabadikan pemandangan dan keadaan sekitar sih? Aku juga butuh bukti, kalau kakiku pernah memijak pasir dan batu di tepian Pantai Santolo. Lagipula, garis horizon yang membelah langit dan laut di ujung sana, bisa menjadi latar yang manis, bukan?




                
Ucapkan #ROSA! pada tim Desain dan Promosi Sido Muncul! Kami ada di pantai ini bukan hanya untuk bersenang-senang, tapi mengekspresikan semangat ROSA! dari Kuku Bima Ener-G!, energy drink kebanggaan perusahaan kami.


               
Senja yang menggantung di balik awan mendung pun menjadi penanda kami untuk kembali. Sudah cukup waktu sekitar hampir dua jam menikmati warna sore di pantai Santolo. Tubh kami sudah lengket oleh asinnya air laut, juga kaki kami yang ditempeli butiran pasir.


                
Tuhan, terima kasih atas waktu yang Engkau hadiahkan untukku, sehingga aku bisa menemukan pemandangan yang jarang kulihat dari dunia ciptaan-Mu.
               

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.

Buku Antologi “Intai” dari Loka Media

Setelah lama, duh kalau terakhir diingat-ingat, saya yang lelet ini baru bisa lagi memunculkan karya fiksi saya dalam buku antologi di tahun ini. Umm … akhir tahun lalu sebenarnya. Berapa tahun berselang coba, saking saya leletnya? Nah, dalam kesempatan ini, saya mau berbagi kebahagiaan saya sama kamu.