Langsung ke konten utama

Jejak Hijau Gunung Gelap #Touring2Garut Bag. 2

Menuju Garut bagian selatan, meninggalkan keramaian tengah Kota Garut yang persis kota tua dengan delman yang bebas lalu-lalang mengangkut penumpangnya. Ditambah dengan mobil angkutan berbagai warna dan panasnya udara yang menyilaukan.
                
Motor-motor kami melaju melewati jalan perkampungan. Mataku menyapa deretan padi yang menjelang kekuningan. Sementara sebuah gunung di kejauhan, gagah menopang langit.
             
   
Pemandangan perkampungan yang tenang, berganti menjadi jalan mendaki dan berkelok yang beberapa jam nggak berakhir. Hujan yang sempat turun, menambah syahdu. Melintasi jalan berliku di Gunung Gelap, menembus kabut yang mengembun di kacamataku.

Acha
                
Tebing curam ada di kiri, dan bukit terjal ada di kanan. Dari ujung tebing, dapat kutemukan kabut yang memberat, berusaha menimpa tanah.  Ketika pandanganku beralih ke kanan, rimbunan pepohonan dataran tinggi, berdiri angkuh dalam tenang. Cantik sekali. Sayangnya aku nggak punya keberanian untuk mengeluarkan kamera sakuku, sebab laju motor kami kian kencang tiap kali jalanan sepi, mengejar matahari senja menuju pantai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.

Buku Antologi “Intai” dari Loka Media

Setelah lama, duh kalau terakhir diingat-ingat, saya yang lelet ini baru bisa lagi memunculkan karya fiksi saya dalam buku antologi di tahun ini. Umm … akhir tahun lalu sebenarnya. Berapa tahun berselang coba, saking saya leletnya? Nah, dalam kesempatan ini, saya mau berbagi kebahagiaan saya sama kamu.