Langsung ke konten utama

Rindu Kota Yogya : Malioboro

                Jiah. Ngapain juga aku nulis postingan tentang Malioboro yang udah terkenal sampe kemana tau. Tapi, apa iya di Indonesia Raya ini masih ada yang belum pernah menyambangi Malioboro? Belum pernah kenalan sama dua patung kelinci emas yang nangkring di pinggir jalan Malioboro? Atau sekedar ikutan lomba tawar-menawar harga disana yang sebenarnya udah termasuk murah meriah? Bagaimana dengan halte mini busway transyogya yang warnanya merah mungil itu? Uuuwww...

Icha, Acha, dan Patung Kelinci


Jalan Malioboro

Jalan-Jalan

Halte Transjogja di Malioboro

                Take and look that. Bukan hanya sekedar suasana menyenangkan yang ada disana. Udara segarnya yang sedikit hangat-hangat dingin. Belum lagi logat orang Yogya yang enak didengar. Apalagi ya? Oh iya. Bahkan becak punya lahan parkirnya sendiri.

Rambu Parkir Khusus Becak

                Ya. Kangennya pengen ke Yogya lagi dan lagi.


Komentar

  1. Jadi pengin pulkam..Jogja Never Ending Asia

    BalasHapus
  2. hey Anonim :)
    wah, kamu asalnya dari yogya ya? menyenangkan sekali...
    Kota Yogya itu nyaman...
    U all right kawan
    Yupz, never ending asia

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.

Buku Antologi “Intai” dari Loka Media

Setelah lama, duh kalau terakhir diingat-ingat, saya yang lelet ini baru bisa lagi memunculkan karya fiksi saya dalam buku antologi di tahun ini. Umm … akhir tahun lalu sebenarnya. Berapa tahun berselang coba, saking saya leletnya? Nah, dalam kesempatan ini, saya mau berbagi kebahagiaan saya sama kamu.