Langsung ke konten utama

SAND STORM


                Sand Storm  memang hanyalah judul dari sebuah film yang malam ini baru saja selesai aku tonton. Awalnya aku nggak mengerti sama sekali mengenai sebuah film yang berlatarkan negara India yang aku tonton di JakTv itu. Aku sendiri awalnya merasa bingung, memangnya apa yang sedang aku tonton ini? Kenapa sangat menarik perhatianku sebagai seorang wanita?



                Hmm...OK...sebenarnya aku saat ini belum menjadi seorang wanita seutuhnya. Aku masihlah seorang anak gadis yang selalu bergantung kepada kedua orang tuaku. Aku pun belum memiliki sebuah keluarga kecil. Namun terselip impian indah yang kuharapkan Tuhan akan mengabulkannya kelak, mengenai keluarga kecil itu. #nggakpenting!!!!tapi amien^.^

                Baru saja selesai menonton film heroik ini, aku pun segera menelurusi dunia maya untuk mencari tahu lebih dalam mengenai film ini. Siapakah Saawnri Devi yang digambarkan oleh film ini? Lalu mengapa hidupnya menjadi begitu banyak liku-likunya?

                Ya. Penggambaran Saawnri Devi dalam film ini adalah seorang wanita dari kasta rendahan (pembuat tembikar) di India yang berusaha menuntut keadilan bagi kaum wanita di India. Berawal dari ketika Shapoo Devi mengajaknya bergabung dalam Shaatin, yaitu sebuah organisasi sosial yang membela kaum perempuan India.  Kemudian ketika Saawnri Devi berusaha membela hak seorang anak perempuan yang masih berusia 4 tahun yang ingin dinikahkan oleh orang tuanya? Padahal secara akal sehat, apakah kedua orang tuanya itu memikikan bagaimana nasib anaknya kelak? Apakah anak itu akan mendapatkan kebahagiaan daam hidpnya jika diusianya yang masih sangat muda sudah dinikahkan? Dan hal itulah yang akhirnya dilihat oleh Saawnri Devi.

                Awalnya, memang alasan Saawnri Devi bergabung dengan Shaatin karena masalah keuangan keluarganya. Tapi, coba dilihat sisi positifnya. Bahkan seorang Shapoo Devi yang berpendidikan dan berasal dari kasta tinggi pun berjuang untuk memberikan keadilan bagi kaumnya sendiri. Shapoo Devi mengajak Saawnri Devi masuk ke dalam Shaatin dan mengajaknya berjuang bersama. Demi sebuah keadilan. Walaupun, sempat, suami dari Shapoo Devi ternyata malah menodai perjuangan dari istrinya itu dengan cara ikut berperang melawan istrinya dan mulai memberi batasan agar istrinya nggak terlalu sering menyibukkan dirinya dengan organisasi sosialnya. Padahal, suami dari Shapoo Devi pun ternyata seorang profesord i bidang sosial. Oh, sungguh miris! Aku sendiri pun kesal saat melihat tingkah suaminya yang kurang mengerti apa yang istrinya perjuangkan diluar sana. Malah menjadikannya bahan lelucon dengan teman-temannya. Dan akhirnya pernikahan mereka pun berantakan.

                Humph, cukup sudah kisah Shapoo Devi. Aku akan kembali kepada di pemeran utama dalam film ini, Saawnri Devi.

                Saawnri Devi yang menolak membuatkan tembikar untuk pengantin kecil itu pun, akhirnya dimusuhi oleh si kepala desa, si pendeta, dan beberapa keluarga si pengantin kecil. Tentu saja karena Saawnri Devi melaporkan hal itu kepada pihak berwajib. Tapi, jangan kalian pikir pihak berwajib itu malah dengan serius menjalankan tugasnya memperhatikan laporan Saawnri Devi, si kepala polisi malah dengan santai mempersilahkan dan makin mempersulit kasus yang dilaporkan Saawnri. Astaga!!! Aku menemukan sifat kurang bermanusia sekali lagi. Bukankah sudah menjadi peraturan negara kalau gadis kecil tidak boleh dinikahkan? Lalu apa karena pendeta dan kepala desa yang melakukan, maka di anggap sah dan nggak masalah? Uwh!!!

                Kemudian si pendeta dan kepala desa beserta para anteknya yang berasal dari kasta Gujar itu pun melakukan pembalasan kepada Saawnri Devi. Saat Saawnri dan suamianya sedang berusaha membuka lahan untuk bercocok-tanam, mereka malah dihajar dan Saawnri mereka perkosa secara bergiliran. Wah, makin kurang bermartabat aja nih!!! Hahaha..tapi, aku nggak menemukan adegan porno itu ko!!! Pokoknya tiba-tiba Saawnri udah tergeletak nggak berdaya dan suaminya yang penuh cinta dan berusaha menjaga kehormatan istrinya itu, langsung datang untuk membantu Saawnri.

                Sulit memang ketika Saawnri kembali berusaha membuat pengaduan yang kali ini menimpa dirinya. Dia telah diperkosa massal. Tapi dengan perjuangannya dan datangnya banyak sekali dukungan dan bantuan, walaupun sampai 5 tahun kasusnya belumlah selesai, ternyata mengantarkan Saawnri menjadi aktivis perempuan yang menolak pemerkosaan. Di akhir film, naratornya mengatakan bahwa Saawnri membantu siapa saja gadis yang telah diperkosa dan berusaha menguatkannya dan menjadi inspirasi baginya.

                Wah, keren  nih filmnya. Kebetulan banget aku nonton film ini. Dan menemukan banyak banget pelajaran yang aku ambil.

                Satu lagi. Suami dari Saawnri Devi benar-benar terlihat penuh cinta. Dia mendukung istrinya terus. melindunginya. Dan menjadi pendorong dan penyemangat istrinya untuk terus berjuang.

                Aku pikir, pria dan wanita adalah sama. Makhluk ciptaan Tuhan juga. Hanya perannya saja yang berbeda. Jadi, buat apa pria merasa berkuasa? Padahal tanpa wanita mereka kekurangan kekuatan untuk bangkit. Wanita untuk berada di sampingmu. Bukan di bawahmu atau di atasmu.  Pelajaran lain yang bisa aku lihat adalah sebenarnya manusia itu sama saja di hadapan Tuhan. Punya hak dan kewajiban yang sama. Bukan kasta yang membedakan, apalagi gender.  Dan manusia sebaiknya hidup dengan rasa kasih. Contohnya suami dari Saawnri Devi, begitu melindungi istrinya dan siap membantunya berjuang mencari keadilan untuk kaumnya. Lalu Saawnri Devi yang begitu menghormati suaminya. Bahkan ketika suaminya dipukuli, dia pasang badan untuk melindungi suaminya. So sweet ya ^.^

               

Oh Lord....

                You always bless every human are always say your name in they heart...

                Tuhan Sang Maha Adil nggak akan meninggalkan suatu kekacauan begitu saja. Dia akan memberi cahaya terang di hati pejuangnya. ^.^


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.

Buku Antologi “Intai” dari Loka Media

Setelah lama, duh kalau terakhir diingat-ingat, saya yang lelet ini baru bisa lagi memunculkan karya fiksi saya dalam buku antologi di tahun ini. Umm … akhir tahun lalu sebenarnya. Berapa tahun berselang coba, saking saya leletnya? Nah, dalam kesempatan ini, saya mau berbagi kebahagiaan saya sama kamu.