Memilih Samudra Ancol Sebagai Destinasi Liburan Keluarga

Bisa bertemu dengan Lumba-Lumba, Penguin, dan lainnya tapi nggak cuma sekadar melihat hewan-hewan air itu dari jauh? Mau banget. Bisa naik wahana yang ngajakin teriak lepas karena keseruannya? Nah, wajib nih. 

Samudra Ancol Jakarta destinasi wisata keluarga muda

Diskusi kami soal destinasi liburan yang bukan hanya ramah dan nyaman bagi dewasa melainkan juga anak-anak, berakhir tanpa banyak drama. Saya dan Geng Bocil sepakat untuk menghabiskan akhir pekan di Samudra Ancol. Alasannya, karena tempat bermain ini sudah beberapa kali kami lirik dari luar waktu main ke Taman Impian Jaya Ancol.

Theme park bernuansa laut yang memang bersebelahan -- eh, bukan lagi sih, tapi dempetan -- sama Seaworld dan Jakarta Bird Land ini belum sempat kami jelajahi. Sudah berkali-kali ke sana, tapi masuk ke Samudra Ancol masih jadi wacana. Padahal memandangi gerbang depannya saja, sudah buat Ka Acha dan Geng Bocil saling main mata mengatur rencana.

Setelah cukup lama berselang dan kesempatan bermain di Samudra Ancol itu datang, pagi jelang siang kami sudah berdiri diam di dalam gerbong commuter line menuju Stasiun Jakarta Kota. Saya sangat bersyukur, Geng Bocil duduk manis dan tenang sepanjang perjalanan.

Menuju Pintu Gerbang Masuk Samudra Ancol

Dari Stasiun Jakarta Kota, kami memilih memesan taksi daring. Perhitungan kami, karena jarak tempuh dari pintu masuk Ancol menuju ke Samudra Ancol cukup jauh bagi kaki-kaki kecil Geng Bocil. Saya meminimalisir kemungkinan mereka merasa lelah sebelum menjelajah, lalu timbul drama minta digendong sepanjang berkeliling. Hal begini pernah terjadi saat kami berwisata ke Taman Burung - TMII.

Sebenarnya, ada cukup banyak opsi yang bisa dipilih pengguna transportasi umum dari Bogor untuk bisa sampai ke Ancol. Mulai dari naik commuter line hingga Stasiun jakarta Kota kemudian transit untuk naik kembali commuter line tujuan Tanjung Priok menuju Stasiun Kampung Bandan atau Stasiun Ancol. Bisa juga turun di Stasiun Juanda, naik bajaj menuju halte Transjakarta koridor Kampung Melayu - Ancol, dan turun di halte Ancol. 

Mudah, sebenarnya. Tetapi berganti-ganti moda transportasi belum masuk dalam pertimbangan Ka Acha dan Si Partner saat ini. 

Kemudian, setibanya nanti di gerbang masuk area wisata Ancol, ada Bus Wara-Wiri yang bisa ditumpangi secara gratis kalau enggan berjalan kaki. Tapi, kembali lagi pada pertimbangan saya dan Si Partner yang membawa serta Geng Bocil. Energi kami dan mereka tentu berbeda, maka kenyamanan sepanjang perjalananlah yang kami utamakan.

Halte Wara Wiri Bus Gratis di Taman Impian Jaya Ancol
Begini penampakan halte wara-wiri yang tersebar di beberapa titik

Sebab memilih menyambangi Taman Impian Jaya Ancol dengan taksi daring, kami juga turut membayar biaya untuk parkir mobil agar driver yang mengantar kami nantinya bisa keluar kawasan dengan tenang. Tiketnya saya pesan melalui situs resmi Ancol agar nggak berlama-lama di pintu masuk Ancol nantinya. 

Persiapan Sebelum Bermain di Beragam Wahana

Saya menahan langkah Geng Bocil yang sudah nggak sabar untuk meminta petugas memakaikan gelang pengunjung di pergelangan mungil mereka. Hampir memasuki jam makan siang. Sebelum rewel, mereka perlu dibuat kenyang. 

Ada area makan di gerbang samping Samudra Ancol yang bersisian langsung dengan gerbang Jakarta Bird Land. Di pelataran itu, tersedia booth jajanan yang agak nyempil di pojokan. 

Bekal yang saya siapkan dari rumah lekas di keluarkan. Lalu, minuman dingin sebagai teman makan pun Si Partner pesankan. 

Sayangnya, saya dibuat sebal oleh pengunjung lain yang juga datang bersama seorang balita. Bukan apa-apa sih, tapi si ayahnya itu malah merokok selepas makan. Sementara ibunya nggak protes sama suaminya. 

Ka Acha dan Geng Bocil saja nggak nyaman. Bagaimana kabar kesehatan si adik kecil itu ya? Duh, kapan ya, ada aturan ketat yang mencegah perokok merokok di area wisata untuk keluarga? 

Saya lekas teringat drama serupa di Museum IPTEK - TMII. Daripada saya atau salah satu dari Geng Bocil mulai batuk berujung sesak napas, kami mengakhiri makan siang kami. Beranjak dari situ tanpa ba bi bu. 

Fotografer keliling sudah menghadang sejak kaki kami berempat belum lama menjejak di pelataran area gerbang masuknya. Agak kurang nyaman bagi Geng Bocil, tapi saya rasa, mereka sebenarnya sedang berjuang mencari pemasukan juga dari pengunjung yang datang ke sana. Maka setelah lepas dari mereka, saya mencoba memberi pengertian. 

gerbang masuk pemertiksaan tiket Samudra Ancol Jakarta
Gerbang masuk, area pemeriksaan tiket Samudra Ancol

Kami nggak serta-merta menolak diperlakukan demikian. Hanya langkah yang kami percepat. Saat pulang pun, kami dengan senang hati membeli hasil jepretan mereka walau Si Partner menawar hingga harga terbaik kami dapatkan. Mungkin karena hari sudah jelang malam juga. 

Pilihan Wahana di Samudra Ancol

Lokasi pertama yang kami datangi tentu saja kolam Lumba-Lumba. Dari balik beningnya area pembatas kolam, Geng Bocil mengintip para mamalia laut baik hati itu tengah berenang. 

Pengunjung bisa masuk ke dalam bila ingin berpose bersama para Lumba-Lumba. Bahkan dapat kesempatan dicium juga sama si mamalia laut. Namun lagi dan lagi, mengintip biaya menikmati atraksi itu yang cukup tinggi, kami mencukupkan diri dengan melihat dari area luar saja. 

Sebenarnya kami menunggu waktu pertunjukan Dolphin Adventures. Bahkan antreannya sudah kelihatan mengular. 

Area pertunjukan Lumba-Lumba Samudra Ancol
Pasangan Lumba-Lumba yang mau manggung masih pada ngumpet

Rupanya saat memasuki area pertunjukan Lumba-Lumba, pengunjung diijinkan masuk dari beragam pintu yang tersedia. Walhasil Si Partner yang mengira bisa dapat tempat duduk di area tribun bawah, mengalah pada kepadatan pengunjung yang mulai desak-desakan. Belum lagi udara di situ terasa gerah karena matahari di luar sedang terik-teriknya. 

Keceriaan dan sorak-sorai dari penonton lain ikut menulari kami. Saat sepasang Lumba-Lumba di bawah sana berenang bersama pelatihnya, melompat di udara, bermain bola, kompak kami ikut terbawa. Sesekali penonton di area atas menertawai penonton di area tribun bawah yang dibuat basah oleh hempasan ekor dan cipratan yang dibuat oleh Si Lumba-Lumba. 

Puas dan seru sekali. Bahkan Geng Bocil meminta kami untuk menonton pertunjukan Lumba-Lumba lagi. 

Selanjutnya, kami memilih menghampiri area pertunjukan Singa Laut. Rupanya, sama seperti sebelumnya. Penonton sudah memadati tribun beberapa menit sebelum pertunjukannya berlangsung. 

Area Pertunjunga Sea Lion Samudra Ancol Jakarta

Payahnya, pertunjukan belum dimulai, Geng Bocil minta diantar ke kamar kecil. Baiklah ... tempat yang sudah kami tempati pun kami relakan bagi pengunjung lain. 

Banyak yang rela berdiri di tepi tribun demi menyaksikan kebolehan Singa Laut di Samudra Ancol ini. Para ayah yang anaknya terhitung masih kecil, menggendong anak-anak mereka di pundak. Geng Bocil juga sama. Pengunjung hari itu rasanya cukup padat. 

Berlanjut menonton film animasi di studio Cinema 5D. Akibat jumlah penonton yang dibatasi, pengunjung yang berbaris di belakang Ka Acha nggak diijinkan masuk ke dalam oleh petugas yang berjaga. Antrean di wahan ini terhitung paling panjang di antara wahana lainnya. 

Saat berada di dalam pun, Ka Acha dan Si Partner terpaksa pisah lokasi duduk. Kami sama-sama menggandeng satu Geng Bocil. 

Kacamata khusus sudah dibagikan. Kursi yang kami duduki pun diperiksa secara hati-hati, demi menjaga kenyamanan penonton sepanjang menyaksikan filmnya. Di sini, kamera dilarang dihidupkan. 

Sepanjang 20 menit, nggak terasa kalau film petualangan yang kami saksikan sudah selesai. Rasanya masih kurang saking serunya. Sensasi kursi berguncang dan miring kiri-kanan membuat Geng Bocil dan pengunjung usia kecil lainnya terbahak gembira. 

Lelah berdiri dalam antrean, Ka Acha merengek pada Si Partner untuk masuk ke wahana Mermaid Show. Saat masuk, udara dingin menyapa secara tiba-tiba. Akuarium berisi Penguin berdiam di sana. Aroma amis segar pun menguar. 

Sembari menunggu para Putri Duyung beraksi, Geng Bocil asik menunjuk-nunjuk para Penguin yang berenang ke sana ke mari. Embun dari kaca akuarium sedikit menghalangi pandangan. Tapi antusias Geng Bocil tetap bertahan. 

Kami ternyata nggak kebagian tempat duduk lesehan di area Mermaid Show ini. Berdiri paling belakang, saya menyalakan kamera dan mulai merekam tarian para penyelam berkostum ekor ikan yang muncul satu per satu. Mereka beraksi di antara ikan-ikan. 

Ada pukau yang lekas menelan saya. Ka Acha yang biasanya ikut bersorak mengikuti penonton lainnya, kali ini terdiam. Saya sesekali menahan napas, lalu tersenyum persis anak-anak yang mendapati kisah dongeng yang semasa kecil disaksikannya melalui film animasi, hadir secara nyata di depan mata. 

Puas beristirahat sejenak di area Mermaid Show, waktunya untuk menggila. Wahana Ubur Ubur jadi pilihan pertama. 

Wahana menyerupai balon udara yang dicat warna-warni di siang itu nggak terlewat pada pengunjungnya. Segera kami dapat giliran untuk naik dan terbang berputar-putar di udara. 

Wahana Ubur-Ubur di Samudra Ancol Jakarta

Geng Bocil yang duduk bersama saya adalah yang paling muda. Ia tertawa dan berteriak riang saat Ubur-Ubur yang kami tumpangi mencapai titik terbang tertinggi. Saya memegang salah satu tangannya, menggenggam dan memastikan ia tetap aman. 

Selepas keseruan itu, Mola-Mola yang kami incar sejak awal akhirnya kelihatan mulai berkurang antreannya. Nggak menunggu lama, kami bisa berteriak dan tertawa-tawa ketika diputar-putar oleh wahana bercat kuning dan shocking pink ini. 

Wahana Mola-Mola di Samudra Ancol Jakarta

Apa sampai sini Ka Acha dan Geng Bocil sudah puas bermain? Tentu saja belum. Masih ada play ground dan kandang hewan yang kami sambangi. Kami bermain hingga theme park Samudra Ancol benar-benar sepi. 

Fasilitas Pendukung Kenyamanan Pengunjung

Di beberapa titik, bangku taman untuk pengunjung beristirahat, bertebaran. Ada pula booth jajanan dan makanan yang disediakan. 

Mushola mudah ditemukan. Walau terhitung mungil, tempatnya bersih dan nyaman. 

Area wudhu bersembunyi di bagian belakang. Tersedia bakiak kayu pula untuk digunakan. Sebagai perempuan, area wudhu yang tersembunyi begini membuat momen mengangkat lengan baju jadi lebih tenang. 

Kamar mandi pun ada banyak lokasinya. Antrean di area ini juga jadi bisa dikurangi. Sayangnya, mungkin karena pengunjung yang datang dari beragam kalangan, maka penggunaan toilet kadang ada yang agak serampangan. Bisa jadi juga karena padatnya wisatawan yang datang di Samudra Ancol hari itu, ya kan. 

Fasilitas pendukung di Samudra Ancol Jakarta

Area jajanan dan makan yang tersebar pun, bisa jadi pilihan bagi wisatawan. Beberapa brand besar, turut membuka kedai mungil di sini. Hanya butuh kesiapan kaki dan kesabaran mencari menu yang sesuai keinginan saja sih, kalau di sini. Sedikit beda dengan Seaworld yang memang menyediakan foodcourt

Saya baru menyadari kalau ada photobooth juga di area dekat taman nggak jauh dari kandang burung dan area pintu keluar. Waktu mau mencoba, sayang sekali tinggi badan Geng Bocil belum memadai. Jadilah kami urung berfoto ala-ala di sana. 

Lalu, selayaknya lokasi wisata, pintu keluarnya pastilah mengarahkan pengunjung untuk mampir sebentar di toko souvenirmya. Sebab hari jelang senja, kami mempercepat langkah. Masih ada destinasi yang kami tuju hari itu. 

Saya dan Si Partner memutuskan untuk beranjak ke halte bus Wara-Wiri yang lokasinya bisa kami tempuh bersama Geng Bocil dengan berjalan kaki. Titik haltenya berada nggak jauh dari Gondola Ancol. 

Di sana kami baru menyadari, ada dua jurusan Bus Wara-Wiri. Bila lampunya merah, maka bisa menjangkau area pantai. Sementara bus dengan lampu hijau, akan membawa penumpangnya ke area pintu masuk atau keluar kawasan wisata Taman Impian Jaya Ancol ini. 

Bermain bersama Geng Bocil di Samudra Ancol ternyata jadi pilihan yang menyenangkan. Setibanya di rumah, banyak cerita yang kami kumpulkan. Mungkin di lain kesempatan, saya akan datang lagi tapi bukan di akhir pekan terutama saat momen liburan. Demi bisa menikmati setiap wahananya dengan lebih leluasa. 




Komentar