Langsung ke konten utama

Bagaimana Sih Cara Memilih Teether Untuk Bayi?

Bagaimana sih cara memilih teether untuk bayi? Satu dari begitu banyak pertanyaan yang di minggu minggu awal kelahiran si kecil, termasuk sering bermunculan di benak saya. Namanya juga mama baru ya … petualangan dalam mengasuh anak dimulai dengan begitu banyak pertanyaan yang semangat banget dicari-tahu jawabannya.

cara-memilih-teether-untuk-bayi

Hingga sampailah di masa si bayi saya memasuki usia 3 bulan. Tangannya makin semangat ia gerakkan. Mulai pula ia belajar menggenggam, ditambah kebiasaan barunya yang senang sekali memasukkan benda apa saja ke dalam mulutnya. Aha … mungkin inilah saatnya saya mulai mempertimbangkan penggunaan teether.

Apa Sih Teether Itu?

Teether sebenarnya merupakan mainan gigitan bayi yang pemberiannya bertujuan untuk membantu mengalihkan rasa gatal dan nyeri sepanjang si kecil sedang tumbuh gigi. Nah, biasanya, jika si kecil nggak diberikan teether, ia mungkin akan memasukkan benda apa saja yang ada di sekitarnya ke dalam mulutnya.

Duh, mama baru yang khawatiran kayak Ka Acha begini mah, jadi nggak tenang saja bawaannya. Mana kadang saya dapat curhatan dari teman saya yang anaknya nggak sengaja makan plastiklah, sterofoam-lah, pokoknya saya mengantisipasi banget insiden semacam itu, walaupun saya kadang main sama si kecil sambil menyelesaikan pekerjaan saya.

Alih-alih saya nggak mau menghakimi curhatan teman saya tadi, saya lebih terpikir untuk menyarankan penggunaan teether. Pun saya sendiri menikmati manfaatnya, sesederhana saya jadi lebih tenang, sebab si kecil saya jadi bisa saya pantau, benda apa saja yang ia masukkan ke dalam mulutnya.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Memberikan Teether Pada Bayi?

Dari beberapa literatur yang saya baca secara online, terutama dari  beberapa situs kesehatan, mengatakan kalau pemberian teether pada bayi bisa dilakukan sejak ia memasuki usia 3 bulan ke atas. Sebab di usia tersebut hingga jelang 2 tahun, anak masih akan sering memasukkan benda ke dalam mulutnya, sebagai bentuk eksplorasi.

Ketika bayi memasuki rentang usia 5 hingga 12 bulan, bayi akan mengalami masa erupsi gigi pertama kali, sehingga sering muncul rasa kurang nyaman di area sekitar gusinya, sehingga si kecil jadi ingin selalu menggigit atau mengemut sesuatu. Wajar saja ya, kalau bayi di usia segitu, sering sekali memasukkan benda atau mainan ke dalam mulutnya.

memilih-teether-untuk-bayi-dari-mombella

Ciri lain yang saya perhatikan ketika si kecil saya mulai nampak mengalami masa tumbuh gigi untuk pertama kalinya adalah jumlah air liurnya yang jadi semakin banyak. Khawatir juga saya dengan berbagai mainan yang bisa saja ia masukkan ke dalam mulutnya, di saat saya sedang nggak bisa memperhatikan gerak-geriknya secara penuh. Maka … saya sedikit merasa tenang, jika saya memberinya teether bayi.

Memilih Teether Untuk Bayi Perlu Disesuaikan Dengan Usia Si Kecil

Banyak teether dengan bentuk lucu yang saya temukan dijual di marketplace, bikin gemas hati ingin memberikannya sebagai mainan gigitan untuk si kecil saya. Namun urung saya lakukan, karena ternyata memilih teether untuk bayi juga butuh pertimbangan.

Teether ada yang bagian dalamnya diisi dengan gel atau air. Namun ternyata, penggunaan teether yang berisi gel, lebih disarankan dengan teether yang berisi air. Alasannya, teether dengan isi gel akan lebih dingin sehingga lebih membantu mengurangi rasa nyeri dan gatal pada gusi bayi.

Teether pun perlu disesuaikan dengan bentuk mulut bayi lho. Bayi yang berusia 3 atau 4 bulan, bentuk mulutnya masih mungil, bukan? Oleh karena itu, teether yang disarankan bagi bayi di usia ini adalah teether bayi yang bentukan bagian gigitannya menyerupai dot atau soother. Selain itu, pemberian teether di usia ini, harus dipastikan akan mudah digenggam oleh si kecil.

Pemberian teether pun pada akhirnya perlu pula disesuaikan dengan tahap pertumbuhan gigi. Bayi di bawah usia 6 bulan, akan berbeda bentukan teether-nya, dibanding dengan bayi dengan usia di atas 6 bulan.

Biasanya, bagi bayi di bawah usia 6 bulan, teether yang sebaiknya diberikan adalah teether yang biasanya berbahan lateks bening yang berisi air maupun gel tadi. Tentu sebab fungsinya adalah untuk merangsang pertumbuhan gigi bayi.

Sementara setelah menginjak usia 6 bulan ke atas, maka teether bayi yang bisa diberikan sebaiknya sudah dalam bentuk padat. Apalagi biasanya bayi sudah memiliki beberapa gigi di usia ini, sehingga kemampuan menggigitnya sudah semakin kuat.

Teether dengan tekstur bergelombang bisa diberikan setelah bayi menginjak usia enam bulan ke atas ini, selain untuk membantu menyamankan gusinya, juga sebagai latihan untuk mengenalkan tekstur bagi bayi. Tentunya memberikan teether pada bayi, nggak disarankan terlalu lama. Semakin besar, sebaiknya lebih banyak diberikan finger food saja.

Bagaimana Sih Cara Memilih Teether untuk Bayi Agar Aman Digunakan?

Ada beberapa pertimbangan penting sebelum memilih teether untuk bayi, selain disesuaikan dengan tahap usianya, seperti yang sudah Ka Acha sampaikan di atas. Terutama dalam memilih bahan dan bentuk teether itu sendiri.

pertimbangan-memilih-teether-untuk-bayi

Nah, untuk lebih memudahkan, Ka Acha rasa, akan lebih asik jika poin-poin di bagian ini, saya buatkan dalam bentuk infografis saja ya. Mana tau kalau membaca tulisan saya ini jadinya terlalu panjang, kamu bisa men-screen-capture-nya lalu menyimpannya di ponsel kamu sebagai pengingat.

Ka Acha Pakai Teether Merk Apa Sih?

Saya senang sekali bisa berkenalan dengan teether bayi keluaran dari brand Mombella, brand khusus bayi yang berada di bawah naungan bendera Mooimom. Senangnya, berbagai produk teether bayi ini masuk ke dalam checklist yang sudah Ka Acha buat di atas. Selain itu, ternyata teether bayi dari Mombella ini 100% Food Grade Silicon lho.

Bukan hanya itu saja, tapi teether bayi dari Mombella ini, menambah deretan checklist positif lagi yang bikin hati mama senang, anak bayi pun riang. Di antaranya :

  • Bahan: 100% Food Grade Silicon Import
  • Cocok di gunakan: bayi usia 3 bulan ke atas

  • Dapat menahan suhu -40-200°C.
  • Europe bestseller
  • Silicone Teether Paling Menarik
  • Dengan desain kombinasi warna yang bisa membantu merangsang imajinasi bayi
  • Tidak beracun, tidak berbau, dan tidak mudah menjadi wadah untuk perkembangbiakan bakteri
  • Bisa dibersihkan dengan cara dipanaskan/direbus, dimasukkan ke dalam mesin sterilisasi maupun microwave dan juga disimpan di lemari es.

Waktu pertama kali mau digunakan, teether bayi Mombella ini langsung Ka Acha cuci, lalu direbus dulu alias disterilkan. Setelah itu, Ka Acha dinginkan di suhu ruang sebentar, sebelum diberikan ke si kecil saya. Nah, karena si kecil saya sedang dalam masa tumbuh gigi dan sering banget ia kelihatan nggak nyaman dengan gusinya, jadi teether-nya saya dinginkan sebentar di dalam lemari es, tentunya disimpan di tempat yang bersih ya.

Keunggulan lainnya dari produk teether bayi Mombella ini, bisa kamu lirik-lirik di deretan gambar berikut ini.

teether-mombella
dancing-elephant-teether-dari-mombella
teether-tupai-dari-mombella
mainan-gigitan-untuk-bayi

Diskon Mombella Teether Spesial untuk Kamu

Eits, para mama muda pasti senang ya kalau menemukan kata diskon. Nah, kali ini, kamu bisa dapat diskon dari Mombella untuk pembelian produknya di situs www.mooimom.id nih. Kasih tau caranya dong, Ka Acha. Ok, cekidot.

voucher-diskon-teether-mombella

Nah, semoga tulisan Ka Acha kali ini bermanfaat untuk kamu ya, terutama bagi mama muda alias mama yang baru punya bayi seperti saya. Selamat memilih teether untuk bayi yang aman dan tepat bagi si kecil kesayangan kamu.


Komentar

  1. Saya sebisa mungkin menghindari teether yang ada isinya, baik itu berisi gel atau air. Teether punya kemungkinan sobek, sehingga kalau teether itu ada isinya, isinya bisa keluar. Yang repot, kalau teether itu tidak sengaja sobek ketika sedang digigit bayi, maka isi teether bisa masuk ke mulut bayi dan bayi bisa tersedak. Itu sebabnya saya pilih teether yang padat aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sih ya Mba Vicky. Makanya kalau isinya gel atau air, saya beraninya ngasih pas belum ada giginya. Setelah muncul walau hanya sedikit, rasanya lebih bijak kalau memberi teether berbahan solid.

      Hapus
  2. Awalnya sempat bertanya-tanya, teeether itu apa. Ternyata ada hubungannya dengan teeth atau gigi ya. Btw, memang perlu banget memerhatikan teether utk si kecil,jangan sampai alat yg digunakan menimbulkan efek tidak baik.

    BalasHapus
  3. Aku juga lagi punya bayi 7 bulan mba... tapi belum aku kasih teether karena bingung milih. Akhirnya aku biarkan dia gigit2 mainan bayi yg empuk itu. Padahal sebenarnya teether itu memang khusus ya.. aduh. Otw tengok website mooimom deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan Mba Iim. Semoga informasi ini cukup membantu ya.

      Hapus
  4. Sekarang model teether lucu-lucu ya, bahkan harganya pun ada yang fantastis. Pastinya memilih teether ga boleh asal harus melihat keamanan dan kenyamana buat si bayi ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget Mba. Terima kasih sudah berkenan mampir kemari Mba Marita.

      Hapus
  5. Aku baru tau ada yang namanya teether. Waah ternyata mengurus bayi itu ga mudah ya. Banyak banget yang harus diperhatikan dan ribet juga hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi menyenangkan karena cari tau dan belajarnya seiring perkembangan si anak bayi. Terima kasih sudah berkunjung kemari ya Mba Mut.

      Hapus
  6. Krucil saya juga dulu suka mengigit apa saja, Mbak. Termasuk memasukkan jari ke mulutnya. Nah, saya abru tau, kalau yang alat gigit bayi itu namanya teether hahaha.
    Dan ini modelnya lucu-lucu ya, jadi gemas lihatnya, tapi sudah sangat berkualitas dan standar. Dulu punya krucil hanya model lingkaran saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin semasa dulu, modelnya belum sebanyak sekarang kali ya Mas Bams.

      Hapus
  7. Desain teether-nya lucu-lucu ya Kak. Dulu pas si sulung kecil kami pakai teether juga sih, modelnya masih seragam dan warnanya ga sewarna-warni sekarang. Lama-lama dia bosan dan teether-nya pakai wortel rebus pas mau tumbuh gigi hehe. Pokoknya kudu pilih teether yang aman sih karena bayi butuh dijamin steril dari ancaman kuman, apalagi kalau teether ada isinya yang bisa pecah atau bocor.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung kemari ya Mas Rudi.

      Hapus
  8. Ya ampuuun.... teether! Udah lama banget masa aku bingung nyari teether buat anak pertama :D Ya iyalah, sekarang dia udah kuliah :D Dulu itu kan nyari informasi nggak segampang sekarang. Kalo gak salah akhirnya beli di toko perlengkapan bayi balita gitu, di kawasan Cinere (aku masih tinggal di deket2 sana waktu itu).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengalaman teteh eno ngurus anak mah udah luar biasaaaa. Hihihi. Sarah kan seumuran adekku yang bungsu.

      Hapus
  9. ternyata macam-macam juga teether ini dan perlu disesuaikan dengan mulut dan usia pada bayi, jadi memang perlu ada teether khusus ya jangan malah diberi mainan, bisa bahaya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget Mba Marfa. Terima kasih sudah mampir ya.

      Hapus
  10. Kalau aku dulu yang penting ukurannya jangan sampe bisa ditelen hhe
    ternyata banyak ya kriterianya
    perlu belajar lagi nih jadi daddy

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, ini juga salah satu poin yang perlu dipertimbangkan dalam membeli teether untuk bayi, Kak Pring.

      Hapus
  11. aaakkk, teethernya lucu-lucu banget sih Ka Acha, ini bisa jadi alternatif kado juga lho buat yang lagi nyari kado tuk bayi yang baru lahir, biar bisa kepake pas nanti masa tumbuh gigi.

    BalasHapus
  12. Nah, anak kedua saya di usianya sekarang juga kayaknya udah butuh theeter ni. Waktu kakaknya saya kasih theeter yang isinya ada air gitu, belum coba jenis theeter yang diulas di atas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga informasi soal teether bayi ini bermanfaat ya Mba. Selamat memilih teether juga untuk si adek.

      Hapus
  13. ini teether untuk si kecilnya beneran imut bikin gemeshh deh. apalagi klo dipegang sama dedek bayinya hehee. Aku kira jenis teethernya macam yg pernah aku beli untuk teman waktu itu, ehh ternyata yg ini tethernya unik banget mbakk..
    Makasih sharingnya Mbak Acha ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama sama. Terima kasih juga sudah berkunjung ke mari ya Mba Rohmah.

      Hapus
  14. Ternyata serba-serbi memilih teether itu ada aturannya ya. Dulu aku gak nyari teether sih, waktu anakku usia awal tumbuh gigi gitu ada saudara yang ngasih teether. Gak ngerti juga kalo bentuk dll perlu disesuaikan dengan usianya. Tapi gak kepake sih akhirnya, soalnya digigit cuma bentar, abis itu suka dilempar sama si kecil. Lalu akhirnya Balik lagi deh ngemutin jari. Dia lebih suka jari, ya ampun... Hehe.
    Btw lucu jg ya teether-nya, bisa dimainin juga...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selama tangannya bersih, nggak masalah kok Kak. Memang teether ini paling lama saya berikan 20 menit saja. Sisanya diberi buah dingin atau biar main sama jarinya saja namun diperhatikan kebersihan tangannya.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Time

Malam minggu saya terlalui dengan hati kebat-kebit karena anime series ini. Golden Time kembali menghadirkan imajinasi saya yang rasanya, sudah lama sekali nggak saya munculkan lagi dalam pikiran saya. Terakhir, saya menuangkannya dalam cerpen berjudul The Black Guardian Angel yang menjadi cerpen persembahan dari saya untuk tugas dari para editor di event Just Write 2 yang sudah lama sekali.

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.