Langsung ke konten utama

“Si Denok” di C-Magz edisi Ultah Jakarta


                Selamat ulang tahun ibukota tercinta kita, Jakarta. Semakin menua saja kota tercinta ini. Sudah 485 tahun menaungi warganya yang datang dari berbagai penjuru di Indonesia.
                Kenapa judul postingan kali ini ada kata, “Si Denok?” Ini adalah Flash Fiction pertamaku yang dimuat di C-Magz.
                Apa itu C-Magz? C-Magz atau CENDOL Magazine ini adalah majalah online dwimingguan yang terbit setiap hari Jumat pukul 20:30. Majalah online ini adalah majalah yang berada di bawah naungan kelas CENDOL (Cerita, meNulis,Diskusi fiksi OnLine).
                Si Denok ini adalah flash fiction yang kutulis dalam keadaan yang sangat ajaib. Entah kenapa, saat aku sedang kangen dengan Om-ku, Oppie Raqillie, aku teringat akan kegemarannya memotret. Dan inilah sepenggal tulisanku disana.

Kau tetap saja berpose di sana. Bersandar pada tiang penyangga besar ala Yunani yang bercat putih bersih. Ketika seseorang lewat dengan sepeda ontel, kutekan tombol kameraku dan gambarmu terekam sudah. Sayang, kau serupa noni Belanda dalam potretmu barusan. Kau berikan angle terbaik wajahmu, tadi.

                Penasaran dengan flash fictionku selengkapnya? Silahkan melenggang ke TKP (Si Denok). Eits, jangan lupa nikmati sajian dari C-Magz yang lainnya ya. Ada banyak sekali rubrik menarik disana. Cekidot!

Salam hangat untul kalian semua
^.^

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Time

Malam minggu saya terlalui dengan hati kebat-kebit karena anime series ini. Golden Time kembali menghadirkan imajinasi saya yang rasanya, sudah lama sekali nggak saya munculkan lagi dalam pikiran saya. Terakhir, saya menuangkannya dalam cerpen berjudul The Black Guardian Angel yang menjadi cerpen persembahan dari saya untuk tugas dari para editor di event Just Write 2 yang sudah lama sekali.

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.