Langsung ke konten utama

Meet Andrei Aksana at Grand Indonesia in Relaunch “Sebagai Pengganti Dirimu”

                Bagaimana rasanya bisa berjabat tangan dengan seorang penulis yang sebelumnya hanya dikenal dekat melalui karya-karyanya saja? Bagaimana rasanya bisa berfoto bersama seorang Andrei Aksana? Ya ya ya. Rasanya ingin teriak histeris. Hwaaaaaa.....

                Heboh ya. Hehehe......

                Tanggal 29 kemarin adalah hari yang begitu menyenangkan. Selain menghadiri acara relaunch kedua dari novel Andrei Aksana yang berjudul “Sebagai Pengganti Dirimu”, aku juga bisa menikmati suasana yang penuh keakraban dengan orang-orang yang bergelut dalam bidang kepenulisan dan juga para penikmat buku.  Mendapatkan banyak sekali suntikan motivasi dari Mas Andrei Aksana yang menceritakan bagaimana proses dia menghasilkan beberapa novel yang ditulisnya, membuat niat dan tekad untuk menulis pun semakin menggebu-gebu.

                Andrei Aksana yang tidak hanya berprofesi sebagai penulis, tetapi juga beliau adalah seorang pekerja kantoran yang menyukai traveling. Dari berbagai pengalaman dan riset yang dilakukannya saat traveling, atapun dengan sengaja mengunjungi suatu tempat hanya untuk mendapatkan ide segar dalam menghasilkan karya, membuat karya-karya Andrei Aksana ini terasa begitu dekat dan mendalam. Dan satu hal yang menurutku cukup unik, karena dalam setiap novel karya Andrei Aksana, disertakan sebuah CD yang berisi lagu-lagu yang tentu saja dinyanyikan sendiri olehnya. Waw. Inilah yang menyebabkan novel karyanya jadi sulit untuk dibajak rupanya.

                Pokoknya, sukses terus untuk mas Andrei Aksana. Dan terima kasih banyak untuk penyelenggara acara ini, yaitu Andrei Aksana Fans Community yang sudah membuat acara “Berbagi Cerita Bersama Andrei Aksana”  yang diadakan di Gramedia lantai 2 Grand Indonesia,  menarik dan luar biasa. Sungguh pengalaman yang sulit untuk dilupakan.





Salam hangat

Komentar

  1. selamat selamat selamat.... hehehehee

    BalasHapus
  2. Dear Cha,

    Suatu kebanggan memiliki ponakan seperti Cha, senang rasanya bila Cha tetap semangat untuk terus berkarya.

    Best Regards,
    _ayip_

    BalasHapus
  3. salam cinta <3 <3 <3
    terima kasih banyak untuk Om-Om Cha yang selalu memberikan semangat perjuangan untuk lebih maju
    I Love U

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Time

Malam minggu saya terlalui dengan hati kebat-kebit karena anime series ini. Golden Time kembali menghadirkan imajinasi saya yang rasanya, sudah lama sekali nggak saya munculkan lagi dalam pikiran saya. Terakhir, saya menuangkannya dalam cerpen berjudul The Black Guardian Angel yang menjadi cerpen persembahan dari saya untuk tugas dari para editor di event Just Write 2 yang sudah lama sekali.

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.