Label

Kamis, 18 Oktober 2018

Cokelat Ndalem : Tanda Hati dari Jogja yang Saya Suka


Bagi saya, cokelat itu seperti kopi untuk para pecinta kopi. Menu yang akan segera saya pesan di meja barista, saat memasuki coffee shop. Cokelat hangat yang nikmat diseruput dengan roti tawar ala kadarnya, atau kalau boleh, ditemani dengan sepiring biskuit gurih. Atau mungkin segelas cokelat dingin, bersama buku bacaan yang menyenangkan, cocok. Saya suka sekali. Kalaupun sedang mumet sama kerjaan, mood saya lebih mudah balik jadi happy kalau dihadiahi sebatang cokelat isi kacang mede. Pun saat ke Jogja, hal pertama yang terpikir akan saya bawa pulang sebagai buah tangan, tentu saja Cokelat Ndalem – sejak pertama kali saya mengenal si merk cokelat tanda hari dari jogja ini.


Cokelat Ndalem KopiNesia semua ya ... hihi

Perkenalan pertama saya dengan sebatang Cokelat Ndalem, dimulai pada suatu siang di ruang kerja saya di kantor. Pekerjaan yang menumpuk, dengan deadline content juga sederet artikelnya yang bikin saya kalut ditambah sensi akibat brief waktu pengerjaan yang mepet semua. Sebal rasanya. Tapi memang dasar supervisor saya waktu itu mungkin sedang beruntung, tahu benar camilan apa yang akan meredakan segala luapan kesal saya pada keyboard laptop, juga sukses menahan cicitan gemas saya sama dia ya. Saat itulah, lidah saya pertama kali berkenalan dengan Cokelat Ndalem varian KopiNesia Kopi Aceh Gayo. Varian yang kemudian menjadi favorit saya hingga saat ini.

Lalu, datanglah kesempatan saya untuk traveling ke Jogja, beramai-ramai dengan beberapa teman karib si partner saya, Nofeldy Kakao. Saya ngotot sedari kami masih di Jakarta, untuk menyediakan waktu mampir ke Gerai Cokelat Ndalem. Itu saja yang saya pinta berhari-hari sebelumnya. Ya, saya begitu ingin diberi kesempatan untuk menyambangi gerai cokelat yang rasanya cocok di lidah saya ini, terutama untuk varian kopinya. Hal yang saya impikan sebenarnya, sejak saya dibuat jatuh cinta oleh  si Cokelat Ndalem Kopi Gayo.

Beruntunglah, partner saya mengabulkan rengekan saya selama di Jogja. Di hari terakhir perjalanan kami, sebelum kami kembali ke Jakarta dengan naik kereta senja menuju Stasiun Senen pada sore harinya, dia menemani saya menyusuri jalan, menuju ke Jalan Bhayangkara, hanya demi mendapatkan beberapa batang cokelat. Sementara motor sewaan yang kami gunakan selama di Jogja, terparkir tenang di sekitaran Sosrowilayan, dan beberapa teman kami pun masih menyebar mencari oleh-oleh di Malioboro. Biarlah, saya sedang nggak ingin membawa pulang beberapa potong pakaian ataupun aksesoris. Pun untuk keluarga saya dan si partner, saya ingin mereka mengenal merk cokelat yang saya gandrungi ini. Sesekali, saya ingin memberikan buah tangan yang berbeda dari biasanya. Masa bakpia pathok atau gudeg melulu? Ya kan, ya kan?

Matahari sudah hampir tepat berada di atas kepala, sementara waktu yang kami punya hanya sekitar satu jam saja. Belum lagi rengekan tambahan saya untuk bisa sampai ke sana dengan berjalan kaki. Duh bikin perkara memang, tapi kalau nggak jalan kaki, jadinya saya nggak punya kesempatan untuk memotret Gerai Cokelat Ndalem ini dari seberang jalan. Kan saya maunya, saya datang seperti pulang ke rumahnya Mbah, jalan kaki. Bagaimanapun, mengunjungi suatu tempat yang masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki, di Jogja pula, saya sangat suka. Sebab selalu ada hal hal yang bisa sekedar saya nikmati dan simpan sendiri, semisal orang-orang yang mengobrol dengan bahasa Jawa di sepanjang jalan, pun tukang becak yang berduyun-duyun datang menawarkan tumpangan.
 
Gerai Cokelat Ndalem

Lalu, saya berhasil. Sampai di seberang jalan, menemukan Gerai Cokelat Ndalem, saya seolah dipanggil untuk datang. Ah, kebahagiaan. Memasuki gerai, hal pertama yang menyambut saya adalah seorang mba berkerudung. Kamera smartphone sudah saya on-kan, tetapi demi kesopanan, saya meminta ijin dulu padanya. Masa masuk ke tempat yang nyaman, malah bersikap kurang sopan, kan nggak menyenangkan.
 
Sambutan dari berbagai Cokelat di tengah ruangan

Saya diberikan keranjang, dan diarahkan untuk menuju ke ruangan tengah – atau belakang ya. Lalu aroma cokelat menguar. Ah … nyamannya. Begitulah kata pertama yang terlintas di benak saya. Saya susuri setiap raknya, melihat-lihat semua varian Cokelat Ndalem yang tersedia. Alih-alih mengekor, si partner pun mencoba beberapa tester cokelat yang ada.
 
Banyak ya penghargaannya

Oh ya, nggak seru ya, kalau di artikel kali ini, saya sepenuhnya hanya bercerita tentang seberapa suka saya pada Cokelat Ndalem, lalu rengekan saya untuk mengunjungi gerainya dengan berjalan kaki, ditambah belanja cokelat, lalu pulang. Maka sepanjang menuliskan tulisan ini, dengan harapan tulisan ini akhirnya punya nilai, saya carikan beberapa kisah tambahan melalui website Cokelat Ndalem (silakan temukan di Google ya, mohon maaf kalau saya nggak memberikan link hidup menuju website-nya).
 
Penghargaan lagi

Ternyata, Cokelat Ndalem ini merupakan hasil kreasi penuh kecintaan akan Indonesia dari sepasang suami-istri, Meiza Hakim dan Wednes Aria Yudha, sejak tahun 2013. Wah, kok saya telat ya sadarnya? Padahal waktu itu, sudah berapa kali saya ke Jogja. Hihihi …. Tapi nggak apa lah ya, lebih baik terlambat jatuh cintanya, daripada nggak sama sekali.
 
Kebahagiaanku dengan testernya yang menggoda

Dari dalam Gerai Cokelat Ndalem yang bernuansa bangunan klasik, benar saja kalau saya mengira deretan cokelat dengan bungkusnya yang kental akan kekayaan Indonesia ini, persis museum cokelat. Bungkusnya pun bercerita banyak, mulai dari lukisan Rama-Sinta, penari nusantara, hingga batik. Dari beberapa artikel yang saya baca kemudian, pikiran saya ini diamini.
 
Deretan cokelat klasik

Varian cokelat hasil karya Cokelat Ndalem ini berderet, mulai dari cokelat dengan rasa klasik, sampai dengan rasa unik. Ada yang bercita rasa klasik seperti dark chocolate, hingga varian rempah, cabai, teh dan kopi. Tuh kan, bagaimana saya nggak mendadak betah terus tenteng-tenteng keranjang sambil kebingungan di sana, coba? Rasanya saya ingin beli semuanya, tetapi budget yang tersedia nggak boleh lewat. Yah, walaupun lewat sedikit sih, saat itu. Apalagi saya kan norak, mau beli yang paketan, tapi pengen juga makan yang batangan.

Hingga pilihan saya lebih banyak jatuh pada Cokelat Ndalem KapoNesia. Bagaimana lagi, soalnya varian Kopi Aceh Gayo kesukaan saya, seperti memanggil-manggil dan minta dibawa pulang semua. Celetukan si partner pun menambah gemas saya, karena bentuk tester dari setiap varian cokelat yang dipajang di rak pamer ini, bentuknya mungil seperti biji kopi. Duh, kalau Cokelat Ndalem ngekuarin versi cokelat mungil mungil begitu dalam toples, saya mungkin akan jadi orang pertama yang memesan. Siapapun yang membaca artikel saya ini, lalu jika nanti keinginan saya diwujudkan oleh Cokelat Ndalem, segera kabari saya baik via Instagram @akarui.cha, atau e-mail, atau dimana sajalah, kalau kamu sudah berteman dengan saya di media sosial ya.

Hard to say bye bye

Sebelum pulang, dengan sekeranjang hampir penuh oleh Cokelat KopiNesia, sebelum menyambangi kasir, saya berbelok sebentar, mengintip ruang – mungkin ruang workshop ya – yang sepi. Duh, andai di sana ada yang sedang berkreasi dengan cokelat, saya ingin masuk untuk sekedar merekam proses pembuatannya. Sayangnya sepi, jadi saya memotret dari luar pintu kaca saja.

view menuju kasir

Lalu ada ruang tamu – atau ruang santai ya, saya kurang tahu – yang nyaman sekali. Akhirnya saya pulang dari Gerai Cokelat Ndalem, bukan hanya bersama cukup banyak batang cokelat, tetapi juga foto yang menyenangkan.

Hhh … Jogjakarta terlalu istimewa bagi saya. Tempat yang nyaman sekali untuk ditinggali, untuk liburan, dan melepas segala penat dari kesibukan bekerja. Mungkinkah impian saya dan si partner untuk kembali berkuliah, dan Jogja mengiyakannya? Mana tau saya bisa lebih sering mampir ke Gerai Cokelat Ndalem kan ya.

Akhir kata, terima kasih banyak untuk staf Gerai Cokelat Ndalem yang sudah dengan sangat baik hati menerima saya yang rusuh motret sana sini. Membiarkan saya termenung sesekali di beberapa pajangan artikel, penghargaan, bahkan mungkin bisa dibilang thawaf di ruang pamernya. Terima kasih juga untuk pemilik usaha Cokelat Ndalem yang sudah menghadirkan cokelat dengan serpihan biji Kopi Gayo yang nikmatnya sampai ke hati untuk saya.

Sampai berjumpa lagi di Jogja Istimewa, kapan kapan.



30 komentar:

  1. Yogyakarta memang ngangenin selalu ya. Sering ke Yogya tapi berasa pengen balik lagi lagi dan lagi. Apalagi ini ada pabrik cokelat khas, wah selama ini saya belum tahu. Kalau ke sana suatu saat, Fahmi putra saya pasti doyan banget secara dia gila cokelat hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waahh putra teteh bakalan betah nih jangan jangan di Cokelat Ndalem.

      Hapus
  2. coklatnya enak yaa mbak, buatan indonesia banget apalagi jogja... itu di gerai tokonya jadi satu sama maker coklatnyakah ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kurang paham mba. Aku belum jelajah sampe ujung. Tapi sepertinya iya. Soalnya ada tempat workshopnya juga.

      Hapus
  3. Jogja itu salah satu kota yang ngangenin. Ada kenangan manis yang selalu disimpan di sudut hati. Hanya saja, cokelat ndalem ini saya baru kenal. Ketinggalan info soal rekomendasi oleh-oleh yang hitam euy.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah mudahan di kunjungan selanjutnya bisa jadiin Cokelat Ndalem ini oleh oleh ya.

      Hapus
  4. Kok serasa coklat buatan keraton ya Mbak. aku kalau dengar kata ndalem itu identik dngan keraton. Tadi pas belum baca kirain itu coklat buatan keraton. Ternyata bukan ya...Tapi senang sekali bisa jalan-jalan ke Jogja. Saya malah baru dengar ada coklat ndalem.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kalau ke Jogja, mba bisa mampir ke gerai Cokelat Ndalem ini ya. Didoakan sama saya.

      Hapus
  5. Belom pernah nyobain coklatnya.. jd penasaran ntr klo ke yogya berburu ahh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ditunggu cerita berburu Cokelat Ndalem-nya.

      Hapus
  6. Penasaran sama rasa coklat ndalem? Aku baru tau aja nih soal coklat ndalem

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau aku, suka banget sama edisi kopinesianya. Cobain deh. Mungkin mba bakalan suka juga.

      Hapus
  7. Sebagai coklat intolerence, kutak bisa nyicip lebih dari 3 gigitan. bisa mendadak mual, sakit kepala dan muntah. Ada coklat putihnya gak sih? atau yang lainnya yang dijual disini. Duhh penasaran yang coklat plus kopi gayo itu karena kopi gayo tuh favorit saya banget kalau ngopi euy.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cokelat putih ada mba. Seingat saya. Kalo lupa mohon maaf.

      Hapus
  8. Sering ke Jogja tapi gak pernah ke pabrik coklatnya, baru tau nih...

    BalasHapus
  9. Beberapa kali lewat di depannya, tapi belum pernah mampir. Semoga di persinggahan selanjutnya bisa mampir..

    BalasHapus
  10. Beberapa kali ke jogja blon pernah nemu nih tempat, ntar pas ke jogj lagi sdkt mampir ah..

    BalasHapus
  11. Aku tuh suka bgt coklat jd ngeces baca ini... Klo ak k yogya wajib nih k sini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyap samaan. Semoga disegerakan bisa main ke Gerai Cokelat Ndalem di Jogja.

      Hapus
  12. Yaaa aku telat tau info ini, pdhl baru balik dr Yogya. Noted kapan2 kudu nyobain ini Coklat Ndalem :D TFS

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama sama mba. Terima kasih sudah mampir di blogku.

      Hapus
  13. Saya juga suka sama coklat tapi sekedar suka sih, kalau kebanyakan suka sakit giginya..hehe

    BalasHapus
  14. ah sedih sering ke jogya tapi belum pernah kesini langsung

    BalasHapus
  15. saya juga suka minum es coklat, apalagi yang coklatnya pait alias nggak dicampur gula.
    baru tau ada coklat ndalem, lumayan nih deket sama rumah eyang saya. bisa mampir kalo pas ke jogja :)

    BalasHapus