Label

Jumat, 05 Februari 2016

Bertemu Primata di Schmutzer


Schmutzer Ragunan Pagi Hari

Katanya ... primata itu mirip sekali dengan manusia. Bahkan menurut teori evolusi Darwin, manusia yang sekarang merupakan evolusi dari primata. Ya ... walaupun saya nggak meyakininya sebab Tuhan memang sudah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna karena memiliki akal. Bukan begitu? Nah, untuk menyadari banyaknya perbedaan itu ... saya mengiyakan ajakan teman-teman saya untuk mengunjungi Schmutzer di Kebun Binatang Ragunan.


Teman Jalan-Jalan

Jakarta di pagi hari, saat jam digital di smartphone saya menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Matahari memang sudah tinggi, tapi minggu pagi di bilangan Cipete nggak seramai di hari-hari sibuk, sehingga saat berjalan keluar dari kos, saya, Rara, dan Fani, asik menikmati udara hangat yang jarang-jarang bisa kami nikmati. Berselang lima menit, kami senang sekali menemukan Mba Ukhti yang sudah bersedia menunggu agak lama di meeting point yang sudah kami janjikan.

Pagi itu, kami menikmati sarapan kami di dalam angkot S11 yang lengang. Tumben kan, Jakarta sepi? Sepertinya banyak orang yang memilih untuk berdiam saja di rumah, bermain ke daerah Puncak, atau mungkin ikut menyemut di car free day sehingga Jakarta Selatan arah Pasar Minggu jadi tenang. Tetapi ... jeng jeng, di dalam bus transjakarta banyak juga remaja tanggung yang berkaos dan bersepatu olahraga. Hmm, ok, daerah Ragunan memang sering dijadikan tempat untuk berolahraga pagi warga Jakarta juga sih.

Tepat pukul setengah delapan pagi, saya, Rara, Fani, dan Mba Ukhti sudah berdiri mengantre di loket masuk Kebun Binatang Ragunan. Pas sekali, kebetulan loket pembelian tiketnya baru saja di buka. Lagi-lagi, udara di pagi hari Jakarta itu masih bersahabat. Walaupun rasanya cukup hangat, tapi masih bisa dianggap menyenangkan. Nah, dalam petualangan setengah hari kali ini, Fani yang sengaja kami pilih sebagai guide. Tentu saja karena saat kuliah beberapa waktu lalu, Fani pernah menjadi relawan untuk mengurusi orangutan di Kebun Binatang Ragunan. Duh, senangnya bisa jalan-jalan sama yang sudah punya pengalaman untuk di-share habis-habisan.
Mba Ukhti, Fani, Rara

Pusat Primata Schmutzer

 Saran dari Fani untuk kamu yang ingin mengunjungi Kebun Binatang Ragunan di hari minggu pagi, sebaiknya kamu jangan langsung berkeliling menjenguk hewan-hewan lainnya, tetapi mulailah dari Schmutzer. Kenapa? Arus pengunjung di Schmutzer makin siang akan makin ramai, sehingga kamu terancam kurang bisa menikmati suasana. Untungnya, memasuki kawasan perawatan primata ini, kamu diwajibkan untuk membeli tiket lagi, sehingga jarang ada yang memutuskan untuk mampir ke Schmutzer lebih dulu. Hmm ... buat saya, bagus sekali. Semoga tiket masuk yang saya beli bisa menjadi tambahan biaya untuk merawat para primata.

Berkeliling di pusat perawatan primata, membutuhkan konsentrasi dan tenaga yang lumayan. Tetapi tingkah polah para satwa sesekali akan membuatmu tertawa geli. Hanya saja, ingat ya, jangan melemparkan makanan ringan pada mereka. Pola makan dan asupan makanannya kan sudah diatur oleh pihak pengelola.

Gorilla 'Kimbo'

Orangutan

Monyet

Kura-Kura

Datang ke Schmutzer, jangan pikirkan satwa apa saja yang sudah kamu jenguk ... tapi nikmati suasananya, itu sudah sangat cukup. Ocehan Owa, Gorila yang malu-malu, Orangutan yang doyan makan, Monyet yang nggak bisa diam, Simpanse, dan masih banyak lagi, termasuk saya menemukan sepasang kura-kura yang bikin saya mendadak baper dan hati saya berbisik, “Kura-kura saja punya pasangan, nggak mungkin banget kalau saya nggak akan berhasil menemukan jodoh saya. Duh, baper.”

The First Director of Ragunan Zoo

Selain itu, sebaiknya kita semua berterima kasih kepada Benjamin Galstaun sebagai The First Director of Ragunan Zoo (1965 – 1978) sehingga hingga hari ini kita semua bisa belajar mengenai dunia satwa di Kebun Binatang Ragunan. Sayangnya, jumlah pengunjung yang selalu saja membludak di siang hari menimbulkan banyaknya sampah yang bertebaran, padahal pengelola sudah menyediakan tempat khusus untuk pengunjung membuang sampah. Belum lagi keadaan ramai yang seringnya membuat saya jadi susah menikmati suasana. Haduh haduh, tempat liburan murah memang selalu memancing kedatangan banyak pengunjung ya. Makanya, perlu diingat, berwisata bukan berarti kamu bisa bersikap seenaknya di tempat wisata tanpa memperhatikan kebersihan ya. Nggak perlu banyak bicara, cukup kita mulai dari diri kita sendiri dulu saja. Perilaku seperti itu kan ... (maaf) mirip dengan primata yang nggak paham bedanya sampah dan makanan. Apa butuh dijaga juga?

Tuh kan, akhirnya kesimpulan norak saya tentang bedanya manusia dengan primata malah ujung-ujungnya tentang membuang sampah yang baik dan benar. Btw, kalau kamu mengunjungi pusat perawatan primata, satwa apa yang sangat ingin kamu jenguk? Kenapa?




32 komentar:

  1. Setuju banget,
    Manusia pertama di ciptakan dengan sempurna dan memiliki akal.

    Asek ya yg jalan2.. gak ngajak2. *ehh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwkwkwk ... mau diajak banget? *eh

      Hapus
  2. iya bener, manusia diciptakan sempurna dan memiliki akal, kalaupercaya teori darwin, perlu dipertanyakan hahaha :v

    tapi mbak, kalau ngomongin primata, gue lebih suka liat gorilla. gagah dia, dari pada monyet, kadang kampret moyet mah :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkkwk kwnapa ya kalo monyet suka dikatain kampret?

      Iya tuh, kalo percaya teori Darwin perlu dipertanyakan.

      Hapus
  3. Waaah itu gak jauh dari rumah saya loh, Mbak. Saya sendiri tinggal di Pasar Minggu soalnya. Eh enggak sendiri juga sih ya haha.
    Setuju banget kita itu udah diciptakan dalam sebaik baiknya wujud. Seharusnya kita penuh syukur akan nikmat Tuhan tersebut.

    Sama kayak bang Erdi. Lebih suka liat gorilla karena kegagahannya sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walah pada suka sama Gorilla ya. Btw Gorilla yang namanya Kimbo di Achmutzer ini emang bawaannya tenang pula.

      Hapus
  4. gue masih inget pas ngajakin temen gue ke kebun binatang, eeh dia bilang "mau ketemu saudara loe, atau mau nyamain muka." kampret bener temen gue tuh.

    ini nih liburan murah meriah tapi ngak kalah seru juga. kebun binatang ragunan, cuma sering gue lihat di tipi. yaa jelas gue lihat dari tipi lah, jauh banget dari sini tapi kalo mau ngajakin kesana sih ayok :D keberadaan kebun binatang emang penting, disamping sebagai tempat rekreasi bisa juga sebagai tempat opservasi hewan agar tidak punah. keren deh kebun binatang ragunan.

    kalo primata sih gue suka ama tuh yang udah difilmkan, eehh banyak yaa. ituloh yang gede kayag gorila *emang gorila itu* gagah gitu kelihatannya. keren deeh, tapi yang lain ngak kalah kok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha ... parah banget temennya, bilang mau nyamain muka. Jangan jangan temen kamu masih percaya teori evolusi Darwin ya. Hihihi ....

      Hapus
  5. Eh, Mbak. Ngomong-ngomong remaja tanggung itu gimana sih ciri-cirinya? Gue jadi penasaran. Hahaha.

    Satu hal yang gue salut dari Mbak adalah, tidak merasa keberatan ketika harus membayar lagi untuk memasuki kawasan perawatan primata. Tidak banyak orang yang berfikiran seperti Mbak.

    Jujur, gue sama sekali belum pernah ke kebun binatang. Entah apa rasanya. Mungkin, nanti sesekali gue akan mengunjungi kebun binatang yang ada di Pekanbaru ini. Kalau mau ke akarta mah, kejauhan. Hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, di Pekanbaru ada Kebun Binatang? Asik tuh diceritain buat bahan nge-blog.

      Btw, remaja tanggung itu seumuran SMP gitu. Mau dibilang remaja, masih kayak anak-anak. Mau dibilang anak-anak, tapi penampakannya udah remaja.

      Hapus
  6. Kok gue jadi ikut2an pensaran, ya. Sama misteri Remaja Tanggung.:D "Kasi tau ciri-cirinya dong kakak.."

    Ehm, ini sudah jelas banget manusia diciptakn dengan kesempurnaan akalnya. SO, kenapa Teori Darwin sejak dulu gue gak percaya. Bahkan, zaman SD gue malah mikir? "Kalo gue dari monyet? Artinya semua keluarga gue pernah jadi monyet dong!!"

    Akhirnya gue nanya sama Nenek gue. Eh, mereka jawab, di sejarah dulu, gak ada teori seperti itu. Pasti itu kerjaan si Darwin aja, biar terkenal dan masuk di buku pelajaran. "Dasar Darwin."

    Di tempat gue ada juga kebun bintang mbk, tapi ya gitu. Gak sekeren di situ... Gak terawat lagi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Remaja tanggung-nya udah dijawab di komen atas ya Mas Heru. Nah, Ragunan juga sebenarnya belum semua bagiannya keren dan lumayan terawat, cuma di Schmutzer nya aja yang lebih baik daripada tempat pemeliharaan hewan yang lainnya.

      Btw, setuju banget sama Nenek nya kamu.

      Hapus
  7. Xixixi. Kayanya di tiap pintu masuk harus disediakan kantong plastik khusus sampah bagi pengunjung deh. Kalo tempat sampahnya kejauhan, bisa diletakkan di kantong. Plus ada tulisannya : Buang Sampah Sembarangan DENDA 100.000. Pasti pada mikir tuh orang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwkwk ... iya juga ya Mba. Semoga ada yang membaca saran Mba ya. Tapi emang butuh kesadaran pribadi sih ya Mba, jadi walopun tempat sampah rada jauh ... yang punya sampahnya rada tau diri. Hehehe.

      Hapus
  8. Banyak banget ya primatanya. Saya malah belum pernah kesana selama ini cuma denger2 aja ttg ragunan.
    Tp bener kak kita harus buang sampah pada tempatnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Hanan. Koleksi di Ragunan memang cukup banyak.

      Soal buang sampah, iya banget. Tosss.

      Hapus
  9. Wah kebun binatang ya. Lubuklinggau nggak ada kebun binatangnya. kapan ya aku bisa ke sana :D
    Culik aku lah, culik!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ciyeeee Hadi ... pengen diculik banget buat ke Jakarta. Wkwkwkwk ... ayolahhh.

      Hapus
  10. wah ragunan.. udah nggak pernah kesitu lagi, terakhir udah lama banget.. waktu sd kali terakhir saya kesitu. dan saya juga masih lupa, itu yang saya kunjungi ragunan atau safari yak? :")
    belum pernah ketemu orang utan secara langsung, dan pingin sih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwkwkwk ....

      Kamu di Jakarta kan Jev? Berarti bolehlah sekali-kali kamu main ke Schmutzer biar ga penasaran sama orangutan.

      Hapus
  11. Tiket masuk ke ragunan berapa sih? Kemarin mau kesana tapi gak jadi gara-gara dipaksa ke Bandung :(
    Yang pastinya pengin ngelihat Gorila! Kalo orangutan, monyet, simpanse udah sering di sini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwkwk ... waduw, kok udah sering liat yang selain Gorilla? Hehehe ...

      Humph, pokoknya untuk tiket tiketnya ga sampe habisin uang 25K kok.

      Hapus
  12. Hihihi... gitu ya Mbak, bisa baper liat kura-kura berdua aja :D
    Btw kesadaran masyarakat soal buang sampah pada tempatnya emang masih rendah sekali ya Mbak, di Indonesia ini. Hemm... sedih :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe ... iya Mba. Secara umur kura kura kan panjang, terus kemana mana berdua sama pasangannya. Gimana saya nggak mendadak baper coba?

      Iya nih. Kalau ga dimulai dari generasi kita, kapan lagi sikap tertib buang sampah bakalan mendarah daging?

      Hapus
  13. Belum pernah ke bonbin ragunan, kapan2 kesana :).
    Bonbin di sini juga banyak sampah, banyak yg masih buang sampah sembarangan :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, semoga kapan kapan bisa coba main ke Ragunan ya.

      Iya banget. Masalah buang sampah itu ternyata ribet juga.

      Hapus
  14. sekarang ragunan jadi cakep ya, pantesan temen2 minta dianter kesini mulu, saya pikir masih kaya dulu yg agak berantakan dan hewannya kurus2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mulai ada perubahan sih Ev. Semoga Ragunan terus berkembang lebih baik lagi ya. Aamiin.

      Hapus
  15. klo kesana pasti pengen liat gorila makan.. kan emang itu yg paling diminati heheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. He em iya banget. Pas jam Gorilla diberi makan, emang banyak yang penasaran.

      Hapus
  16. Waah ragunan, wahhh monyeeet. Sukaaaak. Ahhh, kapan kesini yah. Tapi jalan jalan je kalimantan, mbak. Monyet banyak, tapi liar. Kalo bawa pisang, kadang suka rusuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walahhhh monyet di Kalimantan kok serem ya. Hehehe ... tapi alam Kalimantan masih keren banget, by the way.

      Hapus