Label

Selasa, 10 November 2015

A Begin of a Journey to Pangandaran

Menjelang adzan magrib di hari Jumat, saya melangkah santai keluar dari kos saya yang berada di bilangan Jakarta Selatan. Ijin cuti untuk hari Sabtu sudah berhasil saya dapatkan. Walaupun senja itu, Jakarta Selatan kembali macet, parah, as usually it never change. Angkot yang saya tumpangi menuju stasiun Pasar Minggu mulai melaju dengan kombinasi ngebut dan menyiput. Tapi, seiring malam yang mulai turun, dan juga ekspektasi saya tentang Pangandaran sebagai pantai yang menyajikan sunrise dan sunset dalam satu kawasan, membuat saya tetap duduk tenang dan diam.

    
Kereta-kereta jurusan Bogor yang penuh sesak di Stasiun Pasar Minggu pun, beberapa kali saya lewati. Backpack yang gendut membuat saya sedikit enggan untuk menyerobot masuk, namun jam yang sudah mulai mendekati pukul 7 malam, memaksa saya. Otak saya mulai berspekulasi, jika saya terus menunda-nunda, maka kemungkinan besar saya akan ketinggalan bus Budiman jurusan Depok – Pangandaran yang berangkat paling malam jam 8 nanti. And, how blessing i am, sebuah celah terbuka dari para penumpang seolah saya dipersilakan untuk masuk.
                
Tiba di Stasiun Depok Baru, saya dengan mudah turun dan kemudian memilih berdiri di dekat tangga menuju tunnel, menunggu Nurul Djanah, sahabat saya. Beberapa minggu lalu sebelum perjalanan ini, mengetahui saya yang sedang patah hati, dia langsung mengajak saja melihat pantai, hingga terpilihlah Pangandaran. Padahal jarak Depok – Pangandaran, hampir sama dengan jarak Jakarta – Jogja. Tetapi entah mengapa, Pangandaran sudah memiliki daya tarik tersendiri untuk Nurul dan saya.
                
Nurul yang baru turun dari kereta di menit ke 40 menuju jam 8 malam, terlihat sedikit panik, takut terlambat mungkin. Tetapi karena saya yang pernah berkuliah di kota Depok sudah tahu seberapa dekat Stasiun Depok Baru dengan Terminal Depok, mencoba bersikap biasa. Pada akhirnya, kami memang mendapatkan kursi penumpang bagian belakang di bus Budiman. Kami naik di saat bus itu bersiap melaju menuju Terminal Pangandaran.
                
Di atas bus, dalam perjalanan panjang yang memaksa kami tidur-tidur ayam selama hampir 11 jam, sedikit banyak kami mengobrol tentang apa yang telah saya dan Nurul capai, juga ambisi-ambisi kecil yang ingin kami wujudkan demi karir kami masing-masing. Pertemuan kami dulu terjadi di Indonesian Model United Nation 2011, di divisi UNESCO, membuat saya menyadari, betapa saya ini masih penakut untuk mengejar banyak hal yang dulu ingin saya kejar. Termasuk, masihkah saya ingin menjadi diplomat? Apa motivasi saya? Bahagiakah saya menjadi seorang Copywriter? Apakah jenjang karir seorang Copywriter nantinya akan menyajikan banyak perjalanan untuk melihat dunia ini, dan menikmati bermacam budaya di berbagai tempat? Sebuah impian yang bertahun-tahun saya pelihara, sebab perhatian saya begitu mudah teralih oleh kebiasaan-kebiasaan serta pola pikir masyarakat yang di Indonesia saja, sudah banyak perbedaannya, lalu bagaimana dengan dunia?
                
Obrolan pun teralih pada pekerjaan yang sedang kami jalani. Nurul Djanah yang terjun ke dunia HR, sementara saya terjebak sebagai Junior Copywriter of Digital Media, mulai mengoceh tentang team player. Muncullah teori DOPE personality, tentang karakter personal yang bisa menyerupai Dove, Owl. Peacock, dan Eagle dalam sebuah tim. Termasuk bagaimana keempat jenis unggas itu mengambil keputusan. Hingga sadarlah saya kalau saya ini bukan seorang debater yang baik, kurang pandai melakukan lobi, kurang vokal, seperti status Silent Delegates yang dulu saya dapatkan di Indonesian Model United Nation 2011, kebalikan dari Nurul Djanah. Saya lebih senang diam dan bermain dengan pikiran saya sendiri, mengamati sekitar saya, menyusun logika sistematis dari masalah yang disajikan untuk saya, lalu memunculkan ide yang lebih sering nyeleneh tetapi menyelesaikan masalah, ternyata. Jika ditanya soal spontanitas, i will answer yes I am. Kesimpulannya, maybe I am a weird peacock.
                
Malam semakin larut, dan tidur-tidur ayam pun makin sering terjadi. Penumpang yang naik dari berbagai tempat semakin memenuhi bus Budiman. Karena malam, saya mengalami diorientasi tempat dan bahkan nggak tau, sudah sampai dimana bus Budiman membawa kami.

Hingga di pagi hari, matahari sudah terbit dan kami belum juga sampai ke Terminal Pangandaran, saya mulai berpikir kalau bisa saja kami nyasar. Kalau memang kami mau ke kawasan pantai, seharusnya sedari tadi sudah beberapa kali bus Budiman membawa kami menikmati suasana pesisir. Ini malah busnya melaju naik turun di jalanan Lembah Putri. Namun, voila, setelah turun dari lembah dan terlihat suasana kota kecil di Jawa Barat, kami sampai ke tujuan akhir bus Budiman, Terminal Pangandaran. Dimana pantainya? Akan saya ceritakan di post selanjutnya ya. 

10 komentar:

  1. Senang deh kalo blogwalking terus nemu tulisan yang bicara soal mimpi penulisnya. Coy, jaga mimpi itu, ya. Karena saya dan orang lain pun berusaha menjaga mimpinya masing-masing. :)))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baiklah. Doakan aku sanggup menjaga mimpi-mimpiku untuk memperkenalkan budaya Indonesia pada dunia dan budaya dunia pada orang-orang open minded Indonesia agar bisa saling bersinergi untuk mengembangkan sekaligus melestarikannya. Aihhh, bahasanya berat banget ya? Semangat buat kamu juga.

      Hapus
  2. Artikelnya menarik, aku suka. Jadi pengin jalan-jalan bareng ke pantai Pangandaran ...

    Ditunggu ya postingan selanjutnya, semoga gak nyasar ke Pangandaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh. Kapan-kapan jalan-jalan bareng, biar makin rame dan hemat. Hmm, siap Selamat menunggu ya.

      Hapus
  3. jaga terus mimpinya sob... tapi jangan lupa bangun juga... (hehehe... gk nyambung) walaupung saya udah tua tapi dalam hal blog mengeblog masih se umur jagung jadi kalo liat postingan kaya gini wajib kita baca buat membelajari diri sendiri.. #SalamEnergi aja dah pokoknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam BE

      Terima kasih banyak sudah mampir ke blogku. Semoga dengan postingan ini, kita bisa sama-sama saling menyemangati ya. Insha Allah aku akan mempertahankan mimpi ini, tapi tentunya nggak lupa bangun biar nggak terlalu idealis sampai-sampai jadinya nggak melakukan apa-apa. Semangat.

      Hapus
  4. Mimpi kalo ngga diraih juga ngga ada gunanya. Saya dulu cuman seorang siswa biasa, tapi, semenjak teman saya memperkenalkan saya Blog, saya jadi ketagihan buat nulis cerita keseharian saya. Saya ngga peduli seberapa besar ejekan masuk ke saya, saya jadikan itu pertanda mereka telah menilai saya, berarti saya sudah pantas untuk dinilai. Gitu aja sih logikanya, jangan takut malu, idup ciuman sekali~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan takut malu.

      Ah, aku ini masih suka pemalu dan penakut. Tapi tulisanmu ini aku bold ya. Terima kasih banyak sudah berkunjung ke blogku dan menularkanmotivasi baru untukku. Yuk semangat.

      Hapus
  5. dipertengahan ada istilah yang nggak saya pahami. apa itu DOPE personality, gimana contohnya

    eh tapi itu beneran tidur di bis. saya sihmungkin nggak nyaman

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya, aku nggak paham terlalu dalam tentang DOPE Personality. Intinya, dalam sebuah tim, karakteristik setiap anggota di dalamnya itu digambarkan seperti burung Dove (Merpati : ramah dan damai). Owl (Burung Hantu : bijaksana dan logis), Peacock (Merak : mencolok dan optimis), dan Eagle (Elang : berani dan tegas). Ketika tipe personal ini bisa saling bersinergi dalam sebuah tim atau perusahaan atau apapun dalam berbagai aspek kehidupan kita untuk mencapai keberhasilan dari suatu visi yang sudah ditentukan bersama-sama. Gitu sih, singkat dan mudahnya. Setauku ada tes online-nya, tetapi lebih banyak dipakai sebagai tes masuk perusahaan (departemen HRD).

      Iya, aku tidur di bus. Memang nggak nyaman sih, makanya jadi tidur-tidur ayam. Hehehe.

      Hapus