Hijab for Little Sisters - Kamu Belajar Banyak Hal di Pesantren : Tentang Hidup Wulan Setelah Boyong dari Pesantren
Kenapa sih orang dewasa itu suka nyebelin? Memang benar ya, usia dewasa nggak menjamin kedewasaan berpikir seseorang.

Menamatkan novel Hijab for Little Sisters - Kamu Belajar Banyak Hal di Pesantren demi melengkapi cerita yang sebelumnya dirajut di novel seri Hijab for Little Sisters - Kamu Nggak Sendirian di Pesantren karya Shakila Raya, membawa saya tertegun lama. Merenung. Apa karena tuntutan hidup dengan beragam benturannya, menjadikan orang dewasa nggak jarang bertindak terlalu sesukanya ya?
Gara-gara tingkah mereka, ada anak remaja yang harus bersusah-payah menjalani hidupnya. Maunya bisa tenang, eh ... malah diobok-obok sama keadaan. Duh ya, orang dewasa tuh suka ada-ada saja memang kelakuannya.
Profil Novel Hijab for Little Sisters - Kamu Belajar Banyak Hal di Pesantren
Judul : Hijab for Little Sisters - Kamu Belajar Banyak Hal di Pesantren
Penulis : Shakila Raya
Editor : Dion Rahmam
Penyelaras Bahasa : Hania Latifa
Penata Letak : Debora Melina
Desain Sampul : Hana Widiani @hhonhon
Penerbit : Elex Media Komputindo
Cetakan : Pertama, 2026
Tebal : 222 halaman
ISBN : 978-623-00-7793-7
Blurb Novel Remaja Hijab for Little Sisters - Kamu Belajar Banyak Hal di Pesantren Karya Shakila Raya
Kamu kaget saat Mama datang ke pesantren dan ngajakin kamu pindah. Alasan kepindahanmu kali ini juga nggak kalah bikin syok : Mama sama Papa akan bercerai!
Seolah belum cukup, Mama mendaftarkan kamu ke sekolah umum. Kehidupanmu yang teratur sebagai anak asrama langsung berubah. Kamu mesti beradaptasi di lingkungan sekolah umum yang lebih majemuk. Ketemu teman-teman yang anehnya bikin kamu mulai nyaman, sampai kamu ikut terlibat masalah mereka.
Masalahmu di rumah sudah banyak: orangtuamu berebut hak asuh kamu, keinginan kamu kembali ke pesantren, pertengkaran dengan Mama yang selalu menuntut kamu nurutin semua keinginannya. Bagaimana cara kamu mengatasi semua itu, sementara masalah teman-temanmu juga sama mendesaknya untuk diselesaikan?
Setiap Orang Dewasa juga Punya Jejak Luka
Ingatan Ka Acha lekas terbawa pada novel Dompet Ayah Sepatu Ibu karya JS. Khairen yang menancapkan pesan lembut bahwa orangtua juga tengah belajar menjadi sebenar-benarnya sosok dewasa. Jiwa mudanya pernah dihantam luka. Makanya, mereka sering tanpa sadar melukai orang-orang di sekitarnya yang lebih muda. Terutama antara orangtua dengan anaknya.
mBerkali-kali sikap Mama dan Papa dari Wulan, membuat saya ternganga. Bisa-bisanya mereka bersikap begitu egois tanpa mempertimbangkan kalau selepas membangun rumah tangga, lalu memiliki anak, maka setiap langkah yang diambil salah satu pihak, perlu -- butuh malah -- didiskusikan bersama.
Hanya saja, anggapan tadi boleh dibilang sebagai teori di masa-masa awal keduanya jatuh cinta. Realita seringnya menggerus hingga nggak mudah diaplikasikan setiap hari. Iya nggak sih, Dears?
Banyak banget orangtua yang saling berbenturan setelah menikah. Beda keinginan lah, pandangan lah, ujungnya yang satu berjuang mengalah, satunya abai untuk berbenah. Saling bergiliran. Hasilnya, sudah dipastikan berakhir berantakan. Siapa coba yang kena imbas dari segala kekacauan tadi?
Pesan serupa juga saya dapatkan saat membaca novel remaja berjudul Di Batas Pelangi. Betapa keluarga dengan sepasang orangtua adalah pondasi. Kalau runtuh, anak-anak deh yang otomatis kena imbas dan terjepit oleh situasi.
Sebagai anak remaja, Wulan terjebak di tengah-tengah badai dari keributan tadi. Ia belum punya kendali penuh atas diri dan hidupnya. Masalah kedua orangtuanya sukses buat dia sakit kepala, bahkan sampai demam tinggi saking kepikirannya.

Dunia bukan hanya berputar untuk Wulan. Nasib serupa juga dicicipi teman barunya, Talita. Lebih menyiksa pula.
Novel ini rasanya bukan hanya layak dibaca pembaca remaja deh. Bagi Ka Acha, orang dewasa yang sudah berkeluarga pun, nggak ada salahnya ikutan menikmatinya juga. Biar diambil segala pembelajaran tipis-tipisnya.
Seri Hijab for Little Sisters - Kamu Belajar Banyak Hal di Pesantren bukan tentang indah dan damainya hidup sebelum, selama, lalu setelah jadi santri. Pesannya lebih dalam lagi. Mengenai mengenal diri, juga bertahan sepanjang beradaptasi tanpa melepaskan segala hal-hal baik yang sudah dipelajari selama nyantri.
Adaptasi Itu Kunci Bertahan Hidup
Bagian yang belum apa-apa sudah memancing gelak dan gelengan Ka Acha sepanjang menamatkan novel remaja Hijab for Little Sisters - Kamu Belajar Banyak Hal di Pesantren ini tuh, momen ketika Wulan susah payah beradaptasi sama kehidupan barunya selaku siswi di sekolah umum. Kaget dan nggak nyamannya dia. Bingungnya dia. Berasa banget.

Mulai dari urusan pakaian. Bahkan tentang bagaimana pertemanan yang biasa terjalin di sekolah umum. Beda banget kan sama lingkungan pesantren.
Di dalam novel ini, makna beradaptasi juga bukan dijalani Wulan seorang kok. Ada Rania, juga teman-temannya yang lain. Bentuknya pun beragam rupa.
Baca Cerita Versi Euis, Baru Lanjut ke Wulan
Saya mensyukuri pilihan random saya yang meraih novel versi Euis dulu baru ke versi ceritanya Wulan. Dengan begitu, perasaan sepi dan terombang-ambingnya Wulan jadi lebih bisa saya rasakan.
Cover novel Hijab for Little Sisters - Kamu Belajar Banyak Hal di Pesantren sudah ngasih kode ke kamu juga kok. Kalau dicermati baik-baik, sampul depan novel seri cerita hidupnya Euis tergambar jelas lagi dipegang sama tokoh Wulan di novel ini. Sepaket, kan?
Setelah mencicipi guncangan hidup dan terombang-ambingnya Euis ketika beradaptasi sebagai santriwati yang pindah dari sekolah umum, lanjut ke hidupnya Wulan yang mendadak harus migrasi ke dunia yang berkebalikan dari hidup tenang ala asrama di pesantren. Lucu dan seru deh.
Komentar
Posting Komentar