Langsung ke konten utama

I Find the Beauty of World in the Global Culture

Congratulation for all the winner of 2013 International Essay Contest for Young Poeple. All of your essay were opened my mind about a world I never known. It shocked me, when I known that most of the essay wrote by the children team, came from Japanese who lived outside his/her country. And in other side, most of the winner of the youth team came from developing countries, and one from Indonesia (Sidiq Maulana). WOW!
                
After I read all of the essay who get the honor from UNESCO and Goi Peace Foundation -- hmm ... but I just feel close with english – many of you told about Indonesian culture, but not at all. Its drive me to see my country with the foreigner perspective. Thank you so much.
                
Like what I got, a culture is a way to made us became a close friend. Made a new world will be possible, not only just a dream but also a reality. Taught us, especially me, to be aware, inside the cruel world you can find the melody of happiness with just hand in hand together. Behind the differences, we find the similarities. Actually, the air we breathe, the genes we share, the moon we stare at, everything that keeps telling us, how we are one, a human who live together in the earth belongs to our Lord.
                
We have our own point of view, and Lord give us a way to communicate it in the beautifull path, name is culture. In fact, Lord just want us to became humble, open minded, and not ever bored to learn about everything, about His light, find the harmony of life which is hard to be compressed.
                
I am so proud of you, all. Wish next year, I can send my essay again and become a part of the winner. Aamiin ya rabbal alamin. ^.^

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkah Pohon Enau Dari Tepi Hutan Gunungsari Lombok

Sebuah keping ingatan membawa saya pada suatu malam, sepulangnya saya, dan kedua orangtua saya dari daerah Gondang. Lombok Utara, mengunjungi Kakek Muda – paman dari Mama saya.
Di malam yang mulai beranjak larut, Papa melajukan mobilnya dengan sedikit ngebut melewati kawasan hutan lindung Pusuk, sebuah jalan panjang membelah hutan yang terbentang sepanjang Lombok Barat hingga Lombok Utara. Tujuan kami adalah kembali ke Kota Mataram, pulang. Sementara sepanjang jalan, Mama terus berdoa, khawatir kami salah jalan karena dikerjai oleh hantu blau. Saya? Ouw, jangan ditanya. Karena sering didongengi cerita horor sedari kecil, saya sudah gemetar dan merem sepanjang jalan. Menikmati setiap kali mobil terasa berbelok, lalu ….

Mercusuar Cikoneng dan Titik Nol Kilometer Jalan Raya Daendels

Kamu penasaran nggak sih, bagaimana rupa dari titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Pos atau Jalan Raya Daendels yang membentang sepanjang Anyer – Panarukan? Saya teringat akan seorang teman sekelas saya di SLTP Negeri 2 Mataram – saat kelas kami sedang ada diskusi untuk mata pelajaran Sejarah – dulu sekali, pernah melemparkan pertanyaan yang pada akhirnya baru bisa saya jawab setelah bertahun kemudian, tentang keberadaan titik nol kilometer Jalan Raya Anyer – Panarukan ini. Hey kamu, saya lupa dulu kamu siapa, terima kasih telah bertanya ya. Kini saya mensyukuri betapa hidup membawa saya untuk langsung menghirup aroma angin laut dari tepian pantai, tepat di titik nol kilometer pembangunan Jalan Raya Daendels yang punya satu bab tersendiri di buku pelajaran Sejarah saat sekolah dulu.

Buku Antologi “Intai” dari Loka Media

Setelah lama, duh kalau terakhir diingat-ingat, saya yang lelet ini baru bisa lagi memunculkan karya fiksi saya dalam buku antologi di tahun ini. Umm … akhir tahun lalu sebenarnya. Berapa tahun berselang coba, saking saya leletnya? Nah, dalam kesempatan ini, saya mau berbagi kebahagiaan saya sama kamu.