Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982 : Tentang Beban Para Perempuan di Keluarga

Menjadi salah satu buku yang dibaca oleh RM BTS a.k.a Kim Nam Joon, buku Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982 (KIm Ji-Yeong Born in 1982) menggoda pembaca Indonesia yang juga penyuka budaya pop Korea. Salah satunya tentu saja Ka Acha. Setelah bersabar beberapa waktu, akhirnya saya punya juga cetakannya yang kelima belas.

Buku ini sebenarnya sudah banyak banget yang bahas. Mengangkat sudut pandang kehidupan kaum perempuan yang seringnya dinomorduakan dalam budaya Asia. Banyak yang bilang, keadaan Kim Ji-Yeong di buku ini, sama banget sama situasi yang juga dihadapi perempuan Indonesia. 

Kim Ji Yeong Born in 1982 terjemahan Indonesia

Profil Buku Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982

Judul                         : Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982

Penulis                      : Cho Nam-Joo

Penerjemah             : lingliana

Editor                        : Juliana Tan

Penyelaras Aksara : Mery Riansyah

Ilustrator                 : Bella Ansori

Penerbit                   : Gramedia Pustaka Utama

Cetekan                    : Kelima belas, September 2023

Tebal                         : 192 halaman

ISBN                         : 9786-0206-3619-1

Blurb Buku Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982

Kim Ji-Yeong adalah anak perempuan yang terlahir dalam keluarga yang mengharapkan anak laki-laki, yang menjadi bulan-bulanan para guru pria di sekolah, dan yang disalahkan ayahnya ketika ia diganggu anak laki-laki dalam perjalanan pulang dari sekolah di malam hari.

Kim Ji-Yeong adalah mahasiswi yang tidak pernah direkomendasikan dosen untuk pekerjaan magang di perusahaan ternama, karyawan teladan yang tidak pernah mendapat promosi, dan istri yang melepaskan karier serta kebebasannya demi mengasuh anak.

Kim Ji-Yeong mulai bertingkah aneh.

Kim Ji-Yeong mulai mengalami depresi.

Kim Ji-Yeong adalah sosok manusia yang memiliki jati diri sendiri.

Namun, Kim Ji-Yeong adalah bagian dari semua perempuan di dunia.

Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982 adalah novel sensasional dari Korea Selatan yang ramai dibicarakan di seluruh dunia. Kisah kehidupan seorang wanita muda yang terlahir di akhir abad ke-20 ini membangkitkan pertanyaan-pertanyaan tentang praktik misoginis dan penindasan institusional yang elevan bagi kita semua.

Nonton Dulu Film Kim Ji-Yeong Born in 1982

Film yang diperankan oleh Gong Yoo dan Jung Yu Mi ini, mengisahkan sebuah keluarga dari pasangan berusia 30-an. Keduanya pun menikah bukanlah di usia muda. Terhitung cukup mantang secara mental dan finansial.

Namun di suatu pagi, ketika Kim Ji Yeong dan Jung Dae Hyun yang memiliki seorang putri bernama Jung Ji Yoo melakukan rutinitasnya, suaminya menyadari ada yang salah dengan istrinya. Kim Ji Yeong lebih betah bengong. Bahkan kadang dia mengoceh bukan seperti dirinya sendiri, melainkan orang lain yang sudah tiada.

Kim Ji Yeong seolah kerasukan hantu. Padahal sebenarnya, Kim Ji Yeong mengalami depresi berat. Apalagi, Kim Ji Yeong mengalah seolah kalah pada dunianya, semenjak ia berhenti dari karierya karena tanggung-jawab sebagai seorang ibu sekaligs istri.

Terdengar biasa, bukan? Wajar bila seorang ibu yang memilih memutus atau menunda karier dan impiannya demi menguru dan mengasuh anak. Saya pun sempat berpikir, bukankah memang demikian kodratnya?

Perasaan saat jadi ibu - Kim Ji Yeong Lahir Tahun 1982

Ditambah lagi, sebenarnya sosok Jung Dae Hyun yang diperankan Gong Yoo, sudah berusaha sedemiian rupa untuk mendukung dan memudahkan Kim Ji Yeong setiap harinya. Ada waktu ia memandikan anaknya. Ada kesepakatan-kesepakatan yang ia buat untuk menyenangkan istrinya. Jung Dae Hyun sangat bertangung-jawab sebagai kepala keluarga. Bahkan ia selalu berusaha langsung pulang ke rumah selepas bekerja.

Sebuah scene yang paling membekas di benak saya, ketika Kim Ji Yeong di perayaan chuseok, berkunjung ke rumah mertuanya. Ibu mertuanya bersikeras agar seluruh sajian di meja makan, dibuat sendiri saja. Artinya, Kim Ji Yeong diminta ikut turun tangan. Maka, sang mertua menghadiahkan sebuah celemek hadiah toko swalayan pada Kim Ji Yeong. 

Lalu, ketika putri dari si ibu mertua ini akhirnya pulang ke rumah selepas berlelah-lelah di rumah mertuanya, sang ibu mertua memperlakukan putrinya itu begitu istimewa, berbeda dengan cara ia memperlakukan Kim Ji Yeong. Saudara kandung Jung Dae Hyun ini hanya duduk dan menikmati penganan yang sudah tersedia. Sementara Kim Ji Yeong nggak bisa sebentar saja melepas celemeknya.

Selalu ada tugas di dapur. Mulai dari cucian piring. Makanan yang harus disajikan. Ditambah dengan beragam ucapan betapa lelahnya iparnya itu setelah mengurusi chuseok di rumah mertuanya. Lalu, apa perasaan Kim Ji Yeong nggak terluka? Bukankah dia juga anak perempuan dari seorang ibu yang pasti menunggunya pulang? 

Ada lagi scene ketika Kim Ji Yeong dikuntit seseorang saat pulang sekolah. Kemudian ia meminta tolong pada perempuan lain saat berada di bus. Tapi yang buat miris, ayahnya bukannya khawatir malah menyalahkan pakaian putrinya. Padahal Kim Ji Yeong pakai seragam sesuai aturan sekolah lho.

Pengaruh masa remaja perempuan - Kim Ji Yeong Lahir Tahun 1982

Jujur, siapa sih yang nggak nangis sepanjang nonton film Kim Ji Yeong Born in 1982? Siapa yang nggak nyesek sama kehidupan Kim Ji Yeong? 

Selepas menamatkan film inilah, Ka Acha makin tergerak untuk punya buku Kim Ji Yeong Lahir Tahun 1982. Tergoda untuk membaca detail-detail kisahnya melalui buku. Bagi saya, buku seringnya lebih gamblang penyajiannya, dibanding film yang terbatas durasi. Sehingga pastilah kisah akan fokus pada beberapa bagian dari bukunya saja.

Perang Batin Perempuan di Buku Kim Ji Yeong Lahir Tahun 1982

Kalau saya nggak mengambil buku Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982 yang telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia di sebuah rak toko buku ternama, mungkin kesempatan untuk mencicipi sesaknya kehidupan Kim Ji Yeong yang lebih realistis, hanya sebatas hingga ranah layar kaca saja.

Saya nggak akan tersulut kesal karena tingkah neneknya Kim Ji Yeong. Dari sini saya percaya, luka-luka itu diturunkan dari generasi ke generasi. Begitu pula anggapan menomorsatukan salah satu gender di banding gender lainnya. Padahal Allh SWT menciptakan ielaki dan perempuan secara setara, hanya fitrahnya yang berbeda.

Jadi, neneknya Kim Ji Yeong dengan pemahaman ala generasinya ini, begitu membanggakan keberadaan laki-laki dalam keluarganya. Ia dikaruniai empat orang anak-laki-laki. Baginya, itu keistimewaan untuk dirinya. Sayangnya, hanya ayahnya Kim Ji Yeong yang mau menerima ibunya di usia senja, karena : ayahnya ini anak bungsu, keadaan ekonomi paling di bawah saudara kandungnya, istrinya berbesar hati mengurusi mertuanya. 

Di sisi lain, kakeknya Kim Ji Yeong dianggap lelaki paling baik oleh sang nenek. Hanya karena dia nggak berselingkuh atau main perempuan. Padahal, si kakek ini pemalas. Keluarga mereka hidup dari mengolah lahan pertanian, tapi seumur hidupnya si Kakek nggak pernah ikut bertani. Lah, jadi yang selama ini habis-habisan ari pemasukan itu istrinya?

Jadilah di masa ia tinggal bersama anak bungsu dan menantunya, ia jadi orangtua yang banyak menuntut. Apalagi alasannya kalau bukan karena ibunya Kim Ji Yeong hanya punya anak perempuan? Lalu baru berhenti ocehan rewelnya setelah adik bungsu Kim Ji Yeong yang seorang laki-laki, lahir ke dunia. 

Anggapan generasi tua tentang kaum lelaki - Kim Ji Yeong Lahir Tahun 1982

Sepanjang hanya membesarkan anak perempuan itulah, ibunya Kim Ji Yeong diam-diam menahan perasaan tertekan karena tingkah mertuanya. Gongnya, ketika ibunya memilih menggugurkan anak ketiganya seorang diri di rumah sakit, setelah hasil USG menunjukkan kalau anaknya itu perempuan. Tanpa ditemani siapa pun. Bahkan suamnya sendiri saja nggak tahu.

Sampai sini, kamu sudah mulai marah? Apa masih di tahap kesal? Kalau Ka Acha, marahnya yang sudah nggak sanggup banting buku tipis ini lagi, tapi beneran nangis. Demi apa, dry banget sepanjang baca bagian ini. 

Ketika perempuan tertekan - Kim Ji Yeong Lahir Tahun 1982

Ini baru masa ketika ibunya sudah berkeluarga dan Kim Ji Yeong sudah lahir ke dunia. Jelas sekali, anak seringnya bisa merasakan emosi ibunya. Banyak yang bilang, ibu yang bahagia mampu menularkan bahagia itu pada buah hatinya, begitu pula sebaliknya. Ah, jadi ingat novel Di Batas Pelangi deh. Anak-anak di luar rumah adalah cerminan kehangatan di dalam rumahnya.

Masa muda ibunya Kim Ji Yeong juga nggak kalah menyesakkan dada. Inilah yang tanpa sadar "ditipkan"pada Kim Ji Yeong. Puluhan tahun kemudian, seleas Kim Ji Yeong berkeluarga dan punya seorang putri, meledaklah semua.

Kim Ji Yeong Lahir Tahun 1982 adalah Cerminan Generasinya

Berbeda dari pengalaman membaca buku fiksi, buku Kim Ji-Yeong Born in 1982 karya Cho Nam Joo ini begitu banyak menyelipkan data-data pendukung kisahnya. Maka, terasa sekali kalau Ka Acha bukan sedang membaca cerita rekaan semata. Lebih kepada esai panjang yang dipaparkan melalui sesosok tokoh rekaan dengan nama yang banyak dimiliki perempuan pada masa itu.

Memang sih, kalau kamu penyuka kisah yang ngefiksi banget dan berpegang pada "show don't tell" susah banget dirasakan di buku ini. Atau ... Bisa jadi karena memang selera Ka Acha yang lebih menyukai buku cerita tipe begitu ya. Jadilah otak saya mendeteksi kalau yang tengah saya baca kali ini bukan fiksi.

Selain itu, gejolak rasa tertekan yang memicu munculnya depresi bagi kaum perempuan di buku ini, nggak terbatas hanya tentang Kim Ji Yeong yang memilih menjadi ibu rumah tangga. Ada secuil sudut pandang lain dari perempuan yang tetap berkarier walau sudah berkeluarga dan punya anak pula.

Kacaunya perbedaan peran di keluarga - Kim Ji Yeong Lahir Tahun 1982

Satu kesimpulan yang kemudian terlintas di benak Ka Acha. Lelah ternyata jadi perempuan, bila tumbuh dan besar dalam lingkungan yang menganggap salah satu gender lebih berharga dibanding yang satunya lagi. Sebuah anggapan mayoritas yang butuh waktu super panjang untuk engubahnya menjadi lebih memanusiakan manusia itu sendiri.

Buku Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982 asik banget kamu baca, bila sedang mencari referensi tentang sudut pandang kehidupan perempuan. Saran Ka Acha, sebaiknya nonton dulu filmnya baru baca bukunya. Dengan begitu, kamu yang lebih nyaman berimajinasi seperti Ka Acha, sudah punya bentuk karakter dan suara tokoh juga beragam latarnya dulu, sebelum dapat banyak cerita-cerita pemicu depresi Kim Ji Yeong lainnya.





Komentar