Gara-Gara Menunda Ujungnya Malah Sia-Sia

Masih mau menunda melunasi segala janji ke diri sendiri buat bikin post blog? Atau menunda menyelesaikan tulisan lainnya dengan alasan belum sempat atau lagi nggak mood

Sejujurnya, ini tuh teguran buat diri Ka Acha sendiri sih. Soalnya, baru-baru ini, tingkah bandel saya itu malah membuat saya kecewa karena merasa segala yang sebelumnya sudah dilakukan, berakhir sia-sia cuma gara-gara saya bilang ke diri sendiri, "nanti dulu deh" atau "yang lain dulu deh".

Kapok? Saat ini, iya. 

Apakah habis ini berubah? Hmmph ... sebenarnya Ka Acha malah nggak berani janji. 

Awal Mula Niat Latepost Datang

"Dek, cobain kedai ramen yang baru buka yuk!"

Ajakan itu berkumandang di suatu sore pada akhir pekan yang santai. Mendapati saya sering uring-uringan berujung hobi manyun di rumah akibat padatnya tuntutan pekerjaan juga urusan domestik hampir sebulan lebih, membuat wajah saya yang tadinya sering tersenyum, jadi lebih rajin ditekuk. Kening saya makin rajin berkerut, bahkan nada bicara manja dan canda saya, hilang sepanjang weekend itu. 

Bagaimana nggak jadi begitu, coba? Kalau sedang kejar-kejaran sama deadline yang kelewat banyak, Ka Acha auto nggak bisa diajak main apalagi becanda sering-sering. Jeleknya saya, memang. 

Sebenarnya, sebagai sosok yang cukup pengertian sama adiknya ini, Mas paham kalau saya butuh dibawa keluar rumah. Tingkat tertekannya sudah akut di mata dia, kalau mendadak saya nggak rewel minta ditemani jalan-jalan ke luar rumah untuk refresh pikiran sebentar. 

"Di mana?" tanya saya seolah nggak tertarik. 

"Ada tuh. Nggak jauh dari stasiun."

Sejenak saya membayangkan kedai ramen halal yang terakhir kali kami kunjungi. Ka Acha kira, mau ke sana lagi. Ternyata, mau icip-icip yang baru. 

"Udah halal, belum?"

Pertanyaan tajam saya menghentikan Mas. Sebagai yang lebih dewasa, mendapati adiknya mendadak ketus, tentu paham harus bagaimana. 

Pekan pun berganti. Saya masih saja doyan ngambek. Apalagi sedang dalam proses revisi dari project pribadi yang saya garap di tengah deretan pekerjaan harian lain yang jadi penghasilan utama tiap bulan. Segala jenis camilan kesukaan saya, Mas bawa setiap pulang. Tujuannya tentu saja, berharap saya kembali ke mode santai yang biasa. Dengan begitu, keadaan di rumah bisa ramai dan seru kembali. 

Hingga, project itu akhirnya selesai. Saya bersorak bak anak kecil yang baru keluar dari ruang ujian. Saya melompat ke sana ke mari, sambil memutar lagu kesukaan saya. Suara nyanyian menggema. Rusuh lagi lah rumah ini, tepatnya. 

"Dek, yuk, kita cobain kedai ramen baru." Rupanya Mas nggak menyerah. "Udah halal lho. Bahkan logo halalnya dipasang gede banget di depan pintu masuk kedainya."

Mendengar ajakan itu kembali, tentu saja Ka Acha mengangguk. Kapan lagi kan, jalan-jalan kulineran, dan pastinya dibayarin pula. Masa mau nolak? 

Walau di keseharian rasanya sudah mulai cukup tenang dan bisa dilalui dengan lebih terkendali, sebenarnya masih ada hal-hal lain yang menuntut untuk dituntaskan. Apa lagi kalau bukan urusan kerjaan utama saya, coba? 

Maka, ketika kaki saya pertama kali menginjak area parkiran dari kedai ramen saat turun dari boncengan motor Mas, saya sudah niatkan agar cerita makan-makan hari itu akan saya buat jadi cerita latepost saja. Demi nggak keteteran dan kejar-kejaran sama waktu lagi. Secara ... belum lama marathon ngetik dan ngulik-ngulik, masa mau diulang lagi? 

Semangat Menyiapkan Bahan Cerita Sepanjang Makan Bersama

Mas tersenyum lebar ketika memperhatikan saya menyalakan kamera ponsel dan merekam keadaan di sekitar tempat makan. Hari itu pun, hati saya terasa ringan. 

Bangku-bangku yang kosong, sore itu menjadi objek yang menarik perhatian. Food stall dan para pekerja kedai berseragam chef ala Jepang, menebar sapaan ramah. 

Saya mengekori Mas belakangan, selepas menentukan meja yang ingin saya tempati. Pengunjung tak terlalu ramai hari itu. Tetapi, para pengemudi ojek daring berbaris panjang, menunggu pesanan untuk mereka antarkan. 

Harga di sini memang murah meriah. Serupa jargonnya yang menyebut kalau menu-menu ala Jepang yang dihadirkan merupakan "menu merakyat". Maka saya nggak berharap banyak dengan rasanya, sebab pastilah sudah banyak penyesuaian, bukan? 

Benar saja, saat mencicipi kuah miso ramen yang saya pesan, taste-nya persis menu ramen yang sering saya makan kalau sedang ke festival Jepang ala kampus. Mirip tapi lebih upgrade

"Kurang kakigori sama ringo ame aja nih biar serasa makan di J-Fest," celetuk saya ketika Mas bertanya pendapat saya tentang tempat serta menu yang disajikannya. 

"So so ya, Dek." Mas sepakat. 

Tapi ya ... sebenarnya rasa dan tempatnya itu sukses buat nyaman. Kelasnya jelas berbeda karena lokasi dan cara penyajiannya. Harganya sedikit lebih di atas, tapi termasuk nominal yang cukup terjangkau untuk mahasiswa area Depok. Sedikit lebih menyamankan kantong daripada jajan ramen di mall. 

Sepanjang makan, kemudian kami berjanji untuk lain kali main lagi ke sini. Kami berangan, akan mengajak Geng Bocil juga orangtua kami. Tempatnya terhitung dekat dari rumah, soalnya. 

Hari itu, galeri di ponsel Ka Acha penuh oleh materi post untuk mendukung cerita tentang tempat makan yang sedang kami kunjungi. Lengkap dan cukup. Pas bila nanti saja jadikan bahan post video di platform medsos juga. 

Lama Ditunda Ujungnya Terlupa

Minggu berganti bulan. Pekerjaan dan beragam kegiatan silih-berganti minta ditunaikan. 

Sebagai yang senang kalau dapat cuan -- siapa coba yang nggak girang kalau diajak kerjasama untuk menuliskan pengalaman jalan-jalan -- membuat Ka Acha memprioritaskan post blog yang itu. Padahal sudah masuk antrean untuk ditayangkan, akibat keterbatasan waktu serta segala alasan ini itu yang saya cipta sendiri, akhirnya cerita makan ramen itu tertunda lama sekali. 

Hampir setahun berlalu, saat naik ojek daring menuju ke stasiun dan melewati tempat makan itu, Ka Acha baru teringat kalau saya punya utang janji sama diri sendiri. Sayang sekali, ketika perjalanan kembali ke rumah dan lewat lagi, perasaan resah yang mampir di benak saat pagi, nggak terasa lagi. 

Ih, capeeekk. Batin saya memberi alasan kuat untuk kembali menunda. 

Hingga di beberapa minggu lalu, saya tersadar kalau label kuliner di blog ini sudah lama didiamkan. Sementara, satu-satunya momen kulineran terbaru yang bahan ceritanya sudah lengkap, ya di kedai ramen dengan jargon merakyat itu. 

"Dek, kan kedainya udah tutup." Seloroh Mas yang sedang duduk santai menatap ponselnya ketika saya meminjam laptop miliknya malam itu. "Udah lama."

Saya membeku. Enggan lekas percaya, saya menjelajah akun medsos si kedai ramen. Benar saja, bahkan di beberapa cabang, mereka telah menyatakan undur diri sampai waktu yang nggak ditentukan.  

Yah, gagal deh diceritain pengalamannya. Saya menghela napas panjang. 

Nggak mau rugi dua kali, materi post yang ada, saya jadikan bahan curhat di beberapa platform medsos yang saya punya. Tentu, saya jujur mengungkapkan "niat latepost berujung gagal post" itu rupanya bikin kecewa sama diri sendiri. 

Beberapa rekan sesama blogger menanggapi dan menyemangati. Senang bisa menemukan sedikit ucapan yang menghibur dan menenangkan. 

Pokoknya, saat ini, saya masih menyesal sih. Gara-gara menunda, ujungnya malah sia-sia. Salah siapa, coba? 





Komentar