Label

Kamis, 10 Januari 2019

Bumblebee : Tentang Pencarian Diri dan Hangatnya Pertemanan


Sebelumnya, saya akan mengakui dulu, kalau saya bukanlah klan pengikut setia film Transformer. Saya hanya tahu sedikit banyak, namun saat berkesempatan untuk menyaksikan film Bumblebee yang bahkan dipenuhi oleh banyak anak-anak di ruang studio, saya merasa beruntung karena bisa menikmati film yang sebenarnya disarankan untuk ditonton seseorang pada rentang usia 13 tahun ke atas ini. Sedikit menyayangkan memang, tentang banyaknya orangtua yang bahagia sekali mengajak anak-anak ke bisokop untuk menonton film animasi atau bertema fantasi, tanpa memerhatikan saran usia dan review terlebih dahulu. Semoga kelak saya nggak akan begini. Makanya saya sekarang semakin menikmati hobi menonton saya dan latihan menonton film yang “warna-warni” biar punya cukup referensi untuk tontonan anak-anak saya di rumah, nanti. Mohon doakan saya ya.

via MovieWeb(dot)com


Kisah dalam film Bumblebee ini dimulai dari planet Cyberton, masa peperangan sengit antara Autobots dan Decepticon. Nah, sebenarnya, si Bumbleebee ini punya nama asli, yaitu B-127. Karena film Bumblebee ini spin off dari seri Autobots yang lain, mungkin kamu sudah tahu ya. Si Bumblebee ini ditugaskan sama ketuanya, Optimus Prime, untuk ngebangun markas di planet Bumi. Itulah awal mula kisah perjalanan Bumblebee di Bumi sampai menemukan teman dan perlahan tapi pasti, menjalankan misinya.

Set cerita yang menunjukkan kehidupan remaja di tahun 1987 membuat saya belajar, oh … ternyata teknologi di jaman itu, begitu ya. Ceritanya pun jadi khas tahun 80-an – walau saya tahunya dari bacaan karena jaman itu, saya lahir pun belum … hihihi. Lanjut ya.

Lalu si B-127 tibalah di Bumi, sayangnya dia dikejar Blitzwing yang merupakan anggota Decepticon, dan suaranya pun dirusak oleh Blitzwing. Beruntungnya, walaupun B-127 juga dikejar oleh Jack Burns dan timnya karena dikira si Bumblebee ini robot penyerang nggak terduga atau mungkin juga alien, tapi Bublebee bisa menyelamatkan diri dan berakhir di tumpukan mobil tua pada sebuah bengkel. Bumblebee sebelumnya sudah mengadaptasi dirinya menjadi mobil VW Bettle warna kuning. Mobilnya kiyut lho.

Di tumpukan mobil dan kapal bekas itulah, Bumblebee bertemu sama teknisi muda cantik dan juga berani bernama Charlie. Sebenarnya sih, kalau dari sudut pandang saya, Charlie yang beruntung karena bertemu dengan Bumblebee, mobil VW Bettle yang ternyata robot pintar dan bikin dia bisa senyum lagi, setelah kesedihan panjang yang membuatnya murung akibat meninggalnya sang Ayah. Pun Charlie harus menerima kenyataan kalau ibunya menikah lagi, dan adiknya bahagia-bahagia saja sementara dia nggak.

Dari sinilah, warna-warni kehidupan Charlie yang masih remaja, 18 tahun kalau saya nggak salah ingat – kalau saya lupa mohon diingatkan di komen ya – dengan Bumblebee yang lucu, dan pintar, juga baik hati. Nah, karena si tokoh Charlie ini 18 tahun alias remaja juga sih yang bikin saya sempat lirik kanan-kiri di ruang studio. Itu anak-anak yang kelihatan berusia di bawah 10 tahun kan jadi pada banyak nanya kritis ke orangtua mereka sepanjang menonton.

Memang sih, film Bumblebee ini bikin hati saya hangat, karena menitikberatkan sama kisah persahabatan remaja. Tapi, ada bumbu cinta ala remaja 80-an yang … memang … manis sih. Tapi, adalah ya, scene dimana yang ditampilkan adalah remaja – saingan Charlie – yang berbaju seksi dengan dada kemana-mana. Kadang kasihan juga kalau anak-anak jadi bertanya soal kepantasan berpakaian seperti itu sama orangtuanya sepanjang menonton, apalagi mereka belum remaja. Bukannya nggak boleh, bagus malah. Tapi mbok ya di rumah atau pas pulang ya Dek, biar Ka Acha nggak ikutan noleh dan penasaran trus lupa kalau lagi nonton. Hihihi ….

Tambahan lain. Dalam film Bumblebee ini, para robot tampil dengan gaya klasik, seperti yang juga digambarkan dalam film animasinya. Senangnya lagi, film Bumblebee kali ini nggak terlalu banyak ledakannya. Jadi kalau kamu mencari film yang banyak ledakannya, mungkin nggak ketemu. Film ini lucu buat saya. Di beberapa scene, tingkah Bumblebee bikin saya tertawa lepas. Karena kekonyolannya, apa adanya banget. Dengan kekonyolannya itulah yang membuat kehidupan remaja Charlie jadi makin seru, bahkan pada akhirnya Charlie menemukan jalan damai dengan diri dan kesedihan panjangnya.

Hhh … nggak perlu panjang-panjang lagi ya saya. Kalau kamu sudah nonton, silakan tuliskan komentarmu setelah menyaksikan film ini di kolom komentar. Ingat kembali kalau saya adalah orang yang cukup awam dalam dunia animasi anak laki-laki semacam Transformer ini, jadi saya akan bingung kalau diajak berdebat soal film Transformer yang bisa jadi belum saya lirik. Kalau kamu belum berkesempatan menonton ini, silakan, semoga segera punya kesempatan untuk menyaksikannya. Kalau mau ajak anak-anak, pastikan dia masuk masa remaja, biar makin seru nontonnya, dan makin sampai pesan filmnya.



Akhir kata, dengan nggak bermaksud membuat kamu bosan membaca ocehan saya yang sepertinya nggak udah-udah, terima kasih banyak sudah menyempatkan waktu untuk mampir ke blog saya ini. 



6 komentar:

  1. Belum nonton, itu film baru, ya? Ah, kayaknya palung juga gak boleh nonton tapi dia pasti pengen karena ada robotnya. Inilah hal yang dibutuhkan anak. Film yang tak ada adegan cinta ala remaja atau dewasa. Kalau kasih sayang dan persahabatan tak masalah. Duh, jadi kangen fil keluarga yang aman ditonton kala saya masih remaja. Sekarang cenderung vulgar, sih.

    BalasHapus
  2. Saya juga belum nonton. Suami yang udah, krn memang penggemar beratnya transformer. Btw soal rentang usia itu emang PR banget deh buat konsumen Indonesia. Harus banget dikasih tau biar gak kecolongan nonton, dikira film action taunya 21+ duuuh, pengalaman pribadi nih

    BalasHapus
  3. Aku belum nonton nih, biasanya si bungsu suka film beginian. Robot2an mobil2an ini kesukaan anakku. Nanti ah weekend ke XXI ��

    BalasHapus
  4. belum sempat nonton bumblebee. Kayaknya udah gak tayang lagi ya di bioskop?
    Tapi, reviewnya pada bagus-bagus, seru kayaknya

    BalasHapus
  5. Aku penyunka BumblebeešŸ˜

    BalasHapus
  6. Ini bukan lanjutan Transformer kah mba?
    Saya juga bukan pecinta transformer sih, cuman dulu tuh taun berapa ya lupa, pernah ikutan euforia nonton Transformer, gak ngeh kalau ternyata film kayak gitu hahaha

    Terus sekarang anak saya sih yang suka bumblebee, tapi suka gimana gitu bolehin nonton, karena kadang ada adegan vulgar

    BalasHapus