Label

Sabtu, 16 November 2019

Chicago Typewriter (2017) : Kisah Yang Ditulis Akan Abadi


Saya mendadak teringat akan quote manis dari salah satu penulis kenamaan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, seusai menamatkan serial drama Chicago Typewriter ini. Beliau berucap bahwa, “Menulis adalah bekerja untuk keabadian”, dan saya mengiyakannya, tepat di episode terakhir dari serial drama Korea yang naskahnya ditulis oleh penulis Jin Soo Wan ini.

Senang sekali saya bisa menyaksikan serial drama bertema romance fantasy yang salah satu karakter dalam drama ini adalah Han Se Ju – diperankan oleh Yoo Ah In – merupakan seorang penulis terkenal yang pada suatu ketika terjebak oleh rutinitas menulisnya yang gila-gilaan, namun diam-diam dia merasa frustrasi dan malah terserang writer block.


Chicago Typewriter
(image from kdramalove(dot)com)

Aduh saya banget deh. Di awal-awal mencari serial drama yang saya harap … bisa mengembalikan sedikit banyak semangat saya, setelah terjebak dengan banyak sekali deadline yang kejar-kejaran di bulan lalu. Mengeplak saya yang mulai merasa, menulis membuat saya tetap bisa hidup, tentu saja karena alasan uang. Padahal dulu sekali, saat memulai karir saya sebagai copywriter in house di salah satu perusahaan jamu, saya mengelu-elukan bahwa menulis membuat saya merasa hidup karena saya punya guna dengan sudut pandang yang bisa saya bagikan. Terima kasih, Chicago Typewriter.

Padahal poster film ini bernuansa oldiest, tapi ternyata kisahnya cukup modern. Unik, dengan alur yang sulit sekali ditebak, plot twist yang kece, dan pemeran Yoo Jin Oh – diperankan oleh Go Kyung Pyo – yang tampan. Tunggu, Yoo Jin Oh ini siapa? Sini sini, Ka Acha ceritakan sedikit kisahnya. Tapi maaf, nggak bisa banyak-banyak, biar kamu nonton sendiri kelanjutannya nanti ya.

 Kisah berpusat pada sebuah mesin tik tua yang dibuat sekitar tahun 1930 di masa Joseon, dimana saat itu Korea sedang dijajah oleh Jepang, sehingga langka sekali menemukan mesin tik yang menggunakan huruf Hangeul dibandingkan hiragana. Yoo Jin Oh ini merupakan hantu … atau mari kita sebut sebagai arwah lelaki muda di masa lalu yang nggak bisa bereinkarnasi … yang terjebak di dalam sebuah mesin tik Chicago Typewriter tadi. Dia berada di Chicago, berdiam di sebuah café yang suatu ketika menggelar acara meet and greet dari penulis Han Se Ju dengan para pembacanya yang berada di sana, untuk peluncuran novel terbarunya yang berjudul Stalker. Iseng, Yoo Jin Oh memanggil nama Han Se Ju. Bukannya takut atau kenapa, si Han Se Ju ini malah penasaran dengan Chicago Typewriter dan menanyakannya kepada si bule pemilik café yang nggak diberitahu siapa namanya dalam kisah ini.

Suatu malam, si pemilik café pun diteror oleh hantu Yoo Jin Oh yang minta dikirimkan ke Korea, tepatnya kepada Han Se Ju. Karena takut, sudahlah si Chicago Typewriter dikirimkan secara cuma-cuma. Lalu sesampainya di bandara, Yoo Jin Oh yang terjebak di dalam mesin tik ini, dipertemukan dengan Jeon Seol – diperankan secara apik oleh Im Soo Jung – seorang petugas antar barang yang merupakan mantan atlet menembak nasional dan juga seorang dokter hewan yang sedang melarikan diri dari profesinya karena terbayang-bayang oleh ingatannya di kehidupan sebelumnya.

Ok, sampai sini, kamu mungkin sudah menangkap bahwa dalam serial Chicago Typewriter ini, reinkarnasi – sesungguhnya saya nggak percaya dengan hal ini ya – menjadi salah satu bagian terpenting dari jalannya cerita. Tapi bukan hanya soal ini saja, melainkan ada sedikit scene yang mirip mirip dengan time traveler, patriotisme, juga tentu saja urusan perasaan yang sukses bikin saya berbunga-bunga dan patah hati secara mendadak dalam waktu yang berdekatan.

Hubungan antara Han Se Ju yang mengalami writer block dan hampir menyerah untuk kembali menulis. Jeon Seol yang sebenarnya merupakan penggemar berat dari berbagai karya novel Han Se Ju, namun entah bagaimana dia bisa sering sekali terjebak dengan berbagai pertemuan yang pelik sekali rasanya dengan si idola, sampai dia nggak mau lagi jadi penggemarnya. Juga menggemaskannya Yoo Jin Oh yang malah menjadi ghostwriter untuk Han se Ju dalam arti sebenar-benarnya “penulis bayangan”, tanpa diminta, dan malah bikin Han Se Ju makin sakit kepala. Ada niat terselubung nih dari Yoo Jin Oh sepanjang menulis naskah novel berjudul “Chicago Typewriter” untuk Han Se Ju, dan ngeselinnya susah ditebak alasannya kenapa. Pertemuan dari berbagai emosi yang salin-menjalin dari ketiga tokoh tadi, pada akhirnya membuka jalan mengenai kehidupan Han Se Ju dan Jeon Seol di masa sebelum reinkarnasi, membuat saya sulit sekali untuk sanggup memberi jeda pada diri saya agar nggak marathon nontonin drama ini.

 Kenapa Jeon Seol masih terbayang-bayang akan kehidupan buruknya sebelum bereinkarnasi? Lalu siapakan Han Se Ju di masa lalu? Kemudian, Yoo Jin Oh ini punya maksud apa, sehingga iseng sekali melibatkan Han Se Ju dan Jeon Seol dalam maksudnya yang sesungguhnya susah ditebak? Silakan saksikan saja serial drama ini selengkapnya. Saya menyaksikannya di platform Viu, maka kamu pun bisa menontonnya di sana ya.

Menulis Butuh Kejujuran
Saya angkat topi untuk karakter Han Se Ju yang walaupun pekerjaan menulisnya sungguh gila-gilaan, sampai punya jeda sedikit saja untuk menikmati perjalanan, malah tetap dipakai untuk menulis, alih-alih dia benci untuk menyewa ghostwriter. Dia pun jujur untuk memilih berhenti sejenak dari pekerjaannya, walaupun dia dikejar-kejar sekali oleh timnya di penerbitan, sebab pada akhirnya, dia kembali kepada semangat menulisnya di awal karirnya dulu. Ya, bukan sepenuhnya karena uang, bukan pula ketenaran, melainkan pemenuhan kebutuhan diri yang lebih daripada itu. Di beberapa scene yang menonjolkan soal hal ini, saya sesungguhnya ikut memegangi kepala saya yang pusing. Lelah hati yang mengajak saya menghela napas bersama Han Se Ju.

Jujur dalam berkarya pun membuat diri menjadi lebih tenang, hidup pun nyaman, dan berkarya jadi mengalir saja. Ada sisi yang disinggup soal plagiat karya di serial drama ini, sehingga saya menyadari bahwa sebenarnya para plagiat karya itu hanya lelah untuk berjuang membuktikan kemampuannya sendiri, sehingga mengambil karya orang lain adalah jalan tersingkatnya. Padahal kalau ketahuan, duh … ngeri, bisa bikin niat bunuh diri muncul lebih cepat dibandingkan mengucapkan kata trilili.

Penulis yang Baik Bermula dari Pembaca yang Baik
Saya menangkap hal ini dari beberapa setting tempat tinggal karakter penulis dalam serial drama Chicago Typewriter, terutama karakter Han Se Ju, dimana banyak sekali scene yang diambil dengan setting rumah tinggalnya. Entah itu sebenarnya rumah atau perpustakaan, coba. Bukunya banyak banget sampai ke space tangga di lantai pun dimanfaatkan sebagai rak buku. Terkesan, dia suka bacanya kebangetan, sampai bahan bacaannya pun banyaknya lebih kebangetan lagi.

Tapi ya, saya menyadari itu. Alasan karir menulis saya nggak berkilau-berkilau amat seperti kamu yang sedang membaca tulisan saya ini, atau beberapa nama teman seangkatan atau senioran dikit lah dari saya yang karyanya sudah ada dimana-mana, terutama yang menempuh jalan sebagai penulis fiksi. Saya masih mentok di pekerjaan meng-handle media sosial milik brand, sesekali menulis untuk website milik brand, dan ya … curhat suka suka di blog doang. Mencium kemunculan buku solo pertama saja belum, padahal sudah bertahun-tahun sekali. Antologi pun nggak sampai sepuluh jumlahnya. Duh Acha, kamu bikin malu sekali, mengaku-ngaku sebagai penulis padahal banyak membaca saja belum benar.

Karya Menjadikan Seseorang Abadi
Inilah salah satu kesan yang membuat saya pada akhirnya agak-agak sedih ketika sampai di episode terakhir serial drama ini. Betapa karya adalah sesuatu yang membuat seseorang akan terus dikenang, walau raga sudah nggak di dunia, tetapi jiwanya tetap diam dalam karyanya. Huwaaa … saya menitikkan airmata di bagian ini. Menghela napas. Dan … terpecut. Sekali lagi, terima kasih banyak Chicago Typewriter.

Oh ya, salah satu original soundtrack yang saya suka sekali setelah menyaksikan serial Chicago Typewriter ini, dinyanyikan oleh Baek Yerin. Blooming Memories. Suara lembutnya manis sekali dinikmati, dan … sukses saya putar berkali-kali sepanjang menyelesaikan curhatan saya tentang Chicago Typewriter ini. Ada pula lagu dari SALTNPAPER berjudul Satelite, dan SG Wannabe dengan Writing Our Stories yang keduanya bikin … menghela napas.


Kamu sudah menonton serial drama Korea Chicago Typewriter? Bagaimana kesanmu? Atau tergoda untuk menontonnya juga? Silakan ungkapkan di kolom komentar ya. Salam hangat dan terima kasih sudah setia membaca tulisan panjang saya hingga akhir.   

18 komentar:

  1. Saya nontonnya cuma beberapa episode awal. Dapat dari hasil sedot koleksi film punya Si Ghina anak sahabat saya.
    Suka banget dengan alur ceritanya yang bikin penasaran. Pun desain interiornya yang dominan dengan buku.
    Jadi penulis itu butuh usaha keras. Saya juga malu pada diri sendiri. Pencapaian masih nol besar. Sibuk dengan media sosial.

    BalasHapus
  2. Aku jadi tergoda nonton siapa tau jadi terinspirasi buat nulis lagi...salam kenal mba

    BalasHapus
  3. Aku belum pernah nonton Bun. Tapi suami aku pernah hahaha. Makanya aku pernah lihat drakor ini dari paksu. Jadi penasaran ikh aku. Jadi pengen nonton juga apalagi aku juga sekarang berada dalam dunia menulis

    BalasHapus
  4. Aku belum pernah nonton mba, serta nya seru sekali ya.
    apalagi ada Im so jung. Haha, cuss ah cek langsung film nya..

    BalasHapus
  5. Wah ini, menarik nih untuk ditonton, langsung masuk dalam daftar. Suka banget dengan kisah-kisah para penulis, baik kisah nyata maupun fiksi karena dari sana bisa dapat banyak pengetahuan dan pengalaman mengenai dunia penulis. Makasi sudah menuliskan reviewnya ya, Kak Acha

    BalasHapus
  6. Aku belum nonton nya mba, tapi sepertinya bakalan seru banget.
    Nanti dech bakal aku nonton berdua bareng suami pas pulang beraktifitas

    BalasHapus
  7. Aku belum nonton drama Korea ini tapi karena ada di Viu bisa deh nanti aku cari. Setuju banget kalau karya membuat kita abadi, diingat terus dengan semua pengagumnya.

    BalasHapus
  8. Dengan tulisan kita bisa berbagi ilmu, pengalaman dan segala rasa, setuju tulisan itu abadi, tapi aku belum nonton ini mbak, lebih suka yang drama romantis gitu hehehe

    BalasHapus
  9. Aiih...manisnya drama Chicago Typewriter.
    Aku tertarik nonton karena Kyung Pyo. Tapi melihat settingnya kembali ke zaman penjajahan, emm...urung.
    Sekarang ada yang bahas, jadi pengin lagi...
    hihii...maknanya dallem~

    BalasHapus
  10. Wah belum nonton aku..
    Msh ngikuti CTG aku
    Nanti aku cari deh, seru kayaknya

    BalasHapus
  11. writer block ahahahha aku jadi kepingin nonton ini... sering banget kena writer block soalnya :)

    BalasHapus
  12. Reinkarnasi itu masuk genre horror bukan Mbak? Judulnya unike banget, ternyata bercerita tentang seorang penulis yaah. Noted banget pesanmoralnya, Anw.

    BalasHapus
  13. Drama Korea gak banyak yang ku tonton, untuk pertama kali nonton kemarin di pesawat pas perjalanan dari Indonesia ke Ausie. Aku nonton Descendant of The Sun, ini sudah beberapa kali aku tonton setelah kemarin menamatkan di pesawat.

    BalasHapus
  14. Senang banget dengan artikel ini mbak, setuju kalau penulis yang baik itu berasal dari pembaca yang baik dan juga kalau ketika menulis maka kita akan abadi melalui karya.

    BalasHapus
  15. Aku tergodaaa mau nonton ini. Tapi ntar deh abis extra ordinary you 😂

    BalasHapus
  16. wih hantunya jd ghost writer 😆 yap nulis harus jujur, apalagi blogger. harus bawakan karya sendiri, bukan menyadur punya orang lain. ah tulisan blog saya banyak yg dicopas nih

    BalasHapus
  17. menarik sekali untuk ditonton, langsung masuk dalam daftar untuk ditonton weekend ini. Suka banget dengan kisah para penulis, baik kisah nyata maupun fiksi karena bisa jadi referensi dalam menyelesaikan masalah saat buntu dalam menulis artikel

    BalasHapus
  18. Saya belum nonton, Kak. Tapi kayaknya bagus nih dramanya. Oh iya, saya setuju dengan pernyataan bahwa penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Jelas kan, pas ngedit juga harus baca tulisannya sendiri. Kalau nggak suka baca, susah memperbaiki tulisan sendiri.

    BalasHapus