Label

Kamis, 17 Oktober 2019

Buku Drama Mama Papa Muda : Menikmati Kisah Cinta Mas Topan dan Mba Pungky Yang Ala Kadarnya


Sebenarnya sudah lama sekali saya membaca buku ini. Senang karena saya mendapatkannya setelah mengikuti giveaway yang diadakan oleh penerbit Laksana kala itu. Tertarik banget, karena yang dibahas di dalam buku ini adalah, betapa pernikahan nggak seindah yang orang-orang di luarnya bayangkan. Melainkan, butuh perjuangan yang ampun-ampunan dari dua orang yang sudah berkomitmen untuk melangkah bersama, berdoa dan berjuang agar tetap bisa saling membersamai sepanjang jatah usia yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa.


Buku Drama Mama Papa Muda
Drama Mama Papa Muda - Penerbit Laksana

Maka, sini, mari duduk di samping Ka Acha. Akan saya ceritakan, sedikit banyak pengalaman membaca yang saya nikmati di setiap lembar halaman buku ini.

Informasi Buku
Judul        : Drama Mama Papa Muda (Kisah-Kisah Renyah Penuh Tawa dan Air Mata)
Penulis     : Topan Pramukti dan Pungky Prayitno
Penerbit    : Laksana
Cetakan    : Pertama 2018
Tebal         : 232 halaman
ISBN         : 978 – 602 – 407 – 319 – 0

Blurb
“Kami berdua, melewati hari-hari paling sulit ; keuangan keluarga carut marut, bayi kami merindukan ibunya, pekerjaan yang menumpuk, dan istri yang terus hidup di kolong kasur sambil menangis menggerung-gerung.”

***

Hidup itu penuh warna, begitu juga dengan kehidupan rumah tangga, apalagi bagi pasangan yang pertama kali menjadi orangtua. Selalu ada drama yang mewarnai, seperti yang dikisahkan oleh Pungky dan Topan dalam buku ini.

Mulai drama postpartum depression yang begitu mengerikan, hujatan di dunia maya, pola pengasuhan anak, perdebatan tentang sekolah untuk anak, hingga mengajari anak berbagi, semua diceritakan mengalir tanpa kesan menggurui. Membaca buku ini, emosi Anda diajak terlibat, membuat Anda tertawa di satu bagian, lalu termenung, berpikir, dan bahkan terharu di bagian lain.

Selamat membaca!

Pengalaman Membaca Ka Acha
Saya dapat pengalaman menyenangkan tersendiri sepanjang membaca buku ini. Seolah saya sedang menikmati dongeng ceplas ceplos ala Pungky Prayitno, dan  tentunya Topan Parmukti, dimana sesungguhnya buku ini didedikasikan untuk anak mereka, Sujiwo Arkadievich. Sementara para pembaca seperti saya? Jadi teman yang duduk di antara ketiganya, untuk mendengarkan begitu banyak cerita ala Mama Papa Muda.

Apakah saya kemudian jatuh cinta pada buku ini? Nggak juga. Tapi bagi saya, buku ini layak dibaca untuk kamu -- atau temanmu – yang baper ingin buru-buru menikah, merasa patah hati karena hidup menjomlo terlalu lama, atau yang baru menikah seperti saya dan partner. Sebab banyak sekali pengalaman yang dikisahkah Mas Topan dan Mba Pungky yang membuat saya berkeinginan – terutama kalau ketemu Mba Pungky – maunya minta peluk dan berterima kasih atas tulisan pengalamannya di buku ini.

Seorang Topan Pramukti, mengibaratkan pernikahan dan rumah tangga yang dijaganya bersama Pungky Prayitno, layaknya seperti mobil klasik yang indah namun sayangnya, ringkih. Dibangun dengan cara yang ala kadarnya dengan metode yang terkesan coba-coba. Mas Topan selaku tokoh nyata Bapak dalam buku ini, mencurahkan begitu banyak cerita yang dia alami selama hampir 5 tahun pernikahan, hingga menemukan sebuah intisari.

Sebaliknya, si tokoh nyata Ibu dalam buku Drama Mama Papa Muda -- Pungky Prayitno, sebelumnya menolak dan mengamit-amiti impian teman-temannya yang ingin menikah muda. Ya, menikah di bawah usia 25 tahun itu, seperti menyia-nyiakan masa merekah yang cerah nan gemilang, lalu menggadaikan hidup dengan sebuah sangkar emas yang bernama pernikahan. Kenyataannya, si ibu ini harus menjilat sendiri ludahnya, setelah menerima ajakan Mas Topan untuk membina rumah tangga ala kadarnya, dengan resepsi yang hanya makan makan untuk keluarga dan teman dekat saja.

Pernikahan memang nggak selalu mudah dan indah seperti yang dikisahkan di dongeng putri-pangeran ya. Pernikahan juga bukan sesuatu yang “layak” dijadikan bahan basa-basi dengan pertanyaan sepele namun menyakiti hati, “Hey, kapan nikah?”. Sebab sejatinya pernikahan memang merupakan rangkaian bahagia dan derita yang – pasti ada waktunya sendiri. Setiap orang akan menemukan waktu yang tepat, kesiapan, dan lain sebagainya, dalam fase kehidupan yang dijalani, tanpa perlu diceletuki dengan pertanyaan basa basi yang bikin keki.

Menjadi seorang Ibu di usia yang bisa dibilang cukup muda walaupun sudah bukan remaja lagi, bagi Mba Pungky, bukan hanya membawa serta kebahagiaan, namun juga tantangan. Mba Pungky, membuka mata banyak perempuan – termasuk saya -- tentang ancaman Post Partume Depression. Depresi yang datang seusai Baby Blues, namun begitu membuat pusing, dan cenderung membawa petaka -- dianggap sebagai Ibu yang sudah gila.

Buku ini memang pada akhirnya tidak terlalu mengenalkan pada saya, lebih jauh lagi mengenai Post Partume Depression – kecuali apa yang Mba Pungky rasakan dan lakukan, tapi ada lebih banyak hal sepele lainnya yang sebenarnya begitu berharga, untuk dimiliki  seorang istri dan Ibu, dari sudut pandang Mba Pungky. Betapa seorang Bapak tak boleh terlena dan lupa, kalau selama mengurusi anak, Ibu sebaiknya jangan dibiarkan merasa sendirian, bahkan … bahaya sekali kalau si Ibu sudah sampai di titik, merasa kalau impiannya secara personal pun “direnggut paksa” sebab posisinya telah berubah menjadi seorang istri dan Ibu.

Dalam buku ini saya menemukan semangat baru, bahwa bagaimanapun juga, para Bapak perlu tahu kondisi setiap tim dalam “rumah tangga”-nya. Sementara si Ibu, seperti halnya Mba Pungky, dituntut oleh dirinya untuk memperjuangkan kewarasan dan kebebasannya, hanya agar dia bisa cukup merasa bahagia, sehingga tak berimbas pada Jiwo, putra mereka.

Di bagian lain dari buku ini, Mas Topan benar-benar banyak mendobrak pemikiran sesederhana “Kapan anak harus sekolah?”, “Sekolah seperti apa yang layak bagi anak saya?”, termasuk, sosok seperti apa yang sebenarnya perlu para Bapak posisikan, selaku kepala keluarga. Mas Topan berkisah bahwa Bapak bukan hanya bertugas mencari pendapatan untuk keberlangsungan hidup keluarga, namun punya hak merasakan rasanya menggendong anak, menyuapinya, mengganti popoknya, memandikannya, mengurusi anak sepanjang hari, tanpa perlu mendapat cibiran “tetangga” bagi dirinya, seolah si Ibu sebegitu malas dan egois sampai meninggalkan Bapak dan anak hanya berdua saja di rumah.

Saya berterima kasih pada Mas Topan, dan berdoa agar banyak lelaki muda yang merupakan calon suami atau sudah sah menjadi suami, turut pula membaca buku ini. Sebab lelaki sejati, bukan yang menikahi seorang anak gadis milik orang lain, lalu mengurungnya dalam ikatan yang membuatnya terjebak dan kehilangan banyak impian. Lelaki yang akan menjadi suami ini, sebaiknya belajar, bukan hanya egois pada diri dan impiannya sendiri, namun siap menemani istrinya mengejar impian yang dia punya, juga mengajarkan anak-anaknya untuk pandai mengembangkan diri demi masa depannya nanti. Hey, banyak sekali sebenarnya tugas sepanjang hayat seorang lelaki ya.

Saya termasuk ke dalam geng istri yang agak rewel sama suami dalam urusan mengurus anak dan rumah kami. Jelaslah, sebab bagi saya, tugas istri itu bukan dapur sumur kasur seperti ocehan generasi sebelum kami. Melainkan, rumah yang dibeli bersama, diperjuangkan untuk melunasi utangnya bersama, ya … sudah selayaknya diurus bersama, termasuk membersihkan dan membuatnya nyaman, bersama-sama. Pun anak-anak yang … ehm, masa bikinnya bareng-bareng tapi yang banyak dipusingkan oleh urusan semacam menyuapi, ganti popok, main, memandikan, meninabobokan, hanya ibunya saja, sementara si Bapak keukeuh kalau tugasnya hanya mencari nafkah untuk penghidupan anak dan istrinya. Sungguh finansial yang coba diberi banyak tetapi masalah kebahagiaan dalam rumah tangga yang terlupakan.

Pada akhirnya, buku ini saya anggap sebagai pembuka jalan untuk membaca dan mencari tahu lebih banyak lagi mengenai ilmu pernikahan. Buku ini membuat saya begitu haus untuk mencari tahu lebih banyak, termasuk mengenai post partume depression.

20 komentar:

  1. Duh .Jadi pengin punya anak. :(

    BalasHapus
  2. buku ini real story dari Mba Pungky ya? penasaran mau baca selengkapnya, kata teman yang sudah baca juga buku ini bagus

    BalasHapus
  3. setuju, mengelola rumah tangga itu harus bersama. jadi pengen baca bukunya

    BalasHapus
  4. Wah, makasih reviewnya, udah lama banget penasaran pengen baca buku ini, tapi belum kesampaian aja...

    BalasHapus
  5. Ya ampun saya keingetan ini buku. Keinget juga masa-masa ketemu Punky, dan Grace Melia, para ibu muda yang menurut saya sangat menginspirasi. Aduh buku ini entah dimana nih, abis baca saya lupa naruh, hahaha

    BalasHapus
  6. Wah menarik banget nih bukunya. Aku sebagai mamah muda ngerasa relate sama konflik-konfliknya

    BalasHapus
  7. Kok saya jadi penasaran sama bukunya ya. Pengen baca langsung, kayaknya bagus dan pastinya banyak pelajaran yang didapat nih.

    BalasHapus
  8. Bagus nih bukunya mbak. Suka dengan tulisan2 Pungky. Menginspirasi dan menghibur

    BalasHapus
  9. Bukunya sepertinya seru ya...
    Emang kehidupan berumahtangga itu seperti roller coaster. Up n down

    BalasHapus
  10. Duh udah sejak kapan hari deh kepengen baca buku ini. Sejak Punky posting tentang bukunya deh. Tahun lalu atau sebelomnya. Baca tulisan ini, jadi keingetan lagi deh. Itung-itung nostalgia saat baru jadi mama muda dulu :D

    BalasHapus
  11. Emm, aku merasakan ini saat ribetnya punya anak masih kecil lalu hamil lagi dengan jarak usia anak pertama yang berdekatan.
    Tapi setelah anak-anak makin gede, aku makin slow dalam rumah tangga.
    Alhamdulillah,
    andaikan dulu punya ilmunya yaa...

    **banyak baca buku itu sungguh bagus, karena bakalan dapet banyak energi dan insight baru dari sang penulis.

    BalasHapus
  12. Penasaran sama isi bukunya. Walau saya ga nikah muda tapi bisa jadi referensi nih buat adek adek saya. Buat ngingetin menikah itu bukan sekadar karena i love u n i love u too. Karena setelah menikah ada hal lain yg lebih besar dihadapi selain kata kata cinta semata.

    BalasHapus
  13. aku udah lama banget ngikutin Mbak Pungky, selalu suka tulisan tulisannya yang lugas dan berani. dari blog laama di sampee skrg hihi jadi penasaran sama buku ini

    BalasHapus
  14. Menarik mb.. Bisa dibaca pasangan muda. Agar punya gambaran bagaimana rumitnya mempertahankan mahligai rumah tangga dengan segala dinamikanya..

    BalasHapus
  15. Bukunya kerenn aku jadi pengen beli mba, pengen banget denger cerita mba pinky dan suami tentang bagaimana berumah tangga

    BalasHapus
  16. Saya setuju dengan bahwa tugas istri itu bukan hanya di dapur, sumur, kasur melainkan lebih dari itu seorang istri itu harus mengusai segala ilmu.

    BalasHapus
  17. Aku juga lagi baca buku ini. Sedikit cerita mirip dengan yang aku alami. Lumayan enak sih dibacanya.

    BalasHapus
  18. Keren juga yaaaa buku ini. Cerita sederhana namun dikemas dengan apik menjadi penuh makna... mbak, aku jadi penasaran deh pengen baca juga bukunyaa.. masih bisa dibeli gak yaaa

    BalasHapus
  19. Wah, sempat menghindar dari pertemuan keluarga untuk menghindari pertanyaan, kapan nikah?

    BalasHapus
  20. wah mba pungky buat buku?
    padahal aku followersnya, tapi malah kelewat bukunya

    BalasHapus