Label

Rabu, 02 Januari 2019

Mortal Engine : Kengerian Masa Apocalyptic yang Saling Memburu


Kalau kamu sudah menonton seenggaknya film yang bertema Apocalytic alias masa kehancuran dunia seperti A Quite Place, mungkin kamu sudah mempersiapkan diri pada seberapa ngeri dan menegangkannya dunia yang perlahan menuju kehancuran hakiki, namun manusia berusaha bertahan untuk tetap hidup di Bumi, walau dengan cara yang keji tetapi dianggap lebih baik dibandingkan mati tanpa arti. Menikmati Mortal Engine, saya dijebak dalam kengerian yang membuat saya harus beberapa kali menahan napas di bangku merah studio teater bioskop senja itu. Ngeri yang terlalu, ditambah pikiran awam saya yang terus saja berusaha mencerna tebaran kode-kode (keras) yang makin memaksa saya untuk fokus saja ke layar, nggak peduli keadaan penonton sekitar yang terkadang saling berbisik menyampaikan komentar.


Review film Mortal Engine (2018)

Boleh ya, saya sedikit mengisahkan awal kisah pembuka dalam film Mortal Engine ini. Semoga kamu nggak menganggapnya sebagai spoiler, sebab saya berusaha menyampaikan sedikit-banyak yang saya dapat, agar obrolan kita soal film ini akan saling terkoneksi … mungkin juga malah menggoda kamu untuk menonton film ini melalui aplikasi online, sebab rasanya Mortal Engine sudah nggak beredar lagi di bioskop tanah air. Satu kata deh sebelum saya memulai bercerita. Fantasi dalam film Mortal Engine ini cakep, kecuali cinta-cintaannya yang terlalu klise.

Film Mortal Engine dibuka dengan gambaran dunia yang kacau balau, dimana kota-kota bergerak untuk saling menghancurkan. Kenapa? Sebab tanah di Bumi sudah nggak bisa lagi ditinggali, dan kota-kota bergerak yang dibangun dari berbagai teknologi masa lalu – dalam artian teknologi di masa kita saat ini – saling bergerak dan menghancurkan, demi mendapatkan teknologi juga bahan makanan untuk keberlangsungan hidup warganya. Tersebutlah kisah sebuah kota besar bergerak yang bernama London. Berjalan terus mengelilingi dunia untuk menghancurkan kota-kota bergerak yang lebih kecil.

Awal mula kemunculan kota bergerak tadi adalah upaya dari kelompok-kelompok manusia untuk bertahan hidup, seusai “60 minute war” yang menghabiskan hampir setengah dari penduduk dunia. Lalu di kota bergerak yang bernama London, dimunculkan karakter tokoh dengan latar belakang seorang arkeolog yang berjuang agar kehidupan manusia menjadi lebih baik, dengan mencari sebuah alat penghancur bernama Medusa, dia … Thaddeus Valentine (Hugo Weaving).

Diam-diam, Thaddeus Valentine dicari-cari oleh seorang gadis yang merupakan putri dari sahabat lama yang dulu ia khianati dan bunuh … Pandora Shaw … sebab berhasil menemukan bagian dari Medusa, si alat penghancur yang telah lama ia cari-cari. Gadis yang terus-menerus mencarinya itu adalah Hester Shaw (Hera Hilmar), satu-satunya saksi yang melihat pembunuhan keji Thaddeus Valentine akan ibunya sendiri.

Walau gagal melancarkan rencananya untuk membunuh Thaddeus Valentine, Hester Shaw dipertemukan dengan seorang arkeolog muda yang cinta sekali akan teknologi di masa lalu, Tom Natsworthy (Robert Seehan) yang pada akhirnya menjadi teman perjalanan terbaiknya untuk menyelamatkan dunia dari keinginan gila Thaddeus Valentine. Ditambah pertemuannya dengan Anna Fang (Jihae) si Wind Flower yang diam-diam juga punya tujuan untuk menghentikan rencana Thaddeus Valentine.

Bagaimana kisah dalam film Mortal Engine yang katanya memiliki naskah dan penggarapan yang apik sehingga pesan dalam novel dengan judul yang sama, bisa terangkum manis dalam film berdurasi 128 menit ini? Silakan kamu tonton saja film-nya dan selamat menemukan sudut pandangmu yang bisa jadi akan berbeda jauh dengan saya yang masih cukup awam dalam soal film begini. Namun, ijinkan saya menyampaikan beberapa kode keras yang terus saja berkecamuk dalam pikiran saya, seusai menonton Mortal Engine.

Dunia Akhirnya Rusak Sebab Ulah Manusia
Beginilah gambaran yang saya dapatkan sepanjang menikmati setting tempat, terutama tanah dan penampakan Bumi yang disajikan dalam fantasi Mortal Engine. Dunia kacau balau tanpa adanya tanah yang dapat dijadikan pondasi bagi bangunan-bangunan untuk memunculkan kembali sebuah kota yang diam, sehingga setiap manusia pun akhirnya saling berkelompok dan hidup dalam kota-kota bergerak yang bernama dan nggak bernama. Kemudian saling menghancurkan, alih-alih untuk mempertahankan kehidupan. Bagi saya, masa jahiliyyah seperti kembali, dimana yang kuat akan semakin kuat, dan yang lemah akan terlindas lalu mati melarat – eh, sengsara aja deh biar berasa ngenesnya.

Rasa Kasihan Hanya Milik Bangsawan Naif
Apa itu peri kemanusiaan, di saat manusia saling terdesak untuk dapat mempertahankan hidup, sementara dunia sudah sebegitu kejamnya pada manusia yang hidup? Orang-orang yang katanya bertujuan untuk menjadikan dunia lebih baik, malah saling menghancurkan. Sementara hidup sudah semakin abnormal. Bayangkan saja, ada karakter Shrike yang mengerikan, persis Frankeinstein namun hidup di jaman Apocalyptic. Berhasil membesarkan Hester Shaw pula, dan ternyata dia masih punya hati dan rasa sayang. Bertahan hidup sebagai mesin di tubuh yang mati. Ini ngeri. Sementara beberapa karater yang digambarkan baik hati dalam film ini, justeru menjadi karakter yang pada akhirnya mati karena mengorbankan dan dikorbankan. Duh, makin ngeri.

Kekuasaan Dunia Pindah Ke Tangan Asia
Ini menjadi kunci dari kisah yang disajikan sepanjang 128 menit oleh film yang disutradarai oleh Christian Rivers, tentang kekuatan dunia yang tadinya dikuasai oleh Barat, pindah ke Timur. Keberuntungan wilayah Timur yang tetap subur dan aman, namun saya ngeri sebenarnya – secara pribadi – sebab pada film Mortal Engine ada gambaran kekuatan lain yang sebenarnya mendamaikan dunia, yaitu U.S.A yang jelas sekali dimunculkan sebagai kunci rahasia untuk membatalkan kerja teknologi sakral bernama Medusa. Dan … si kunci berlogo U.S.A ini disembunyikan pada kalung berliontin besar dengan rupa mata satu alias Illuminati. Duh mamak, lemes kaki Ka Acha sampai di bagian ini.

Memang, orang-orang Asia dalam Mortal Engine dimunculkan sebagai kaum yang gigih namun lembut dan tulus. Tapi sepanjang menonton, saya terjebak, bingung untuk berpihak, dan pada akhirnya memutuskan untuk diam saja menikmati alur cerita tanpa harus berpikir macam-macam. Sebab ada banyak kejutan lainnya dalam film ini yang sukses membuat saya terhenyak, lalu geregetan sendiri.


Pada akhirnya, saya senang sekali punya kesempatan untuk menyaksikan film ini langsung di bioskop. Senang pula menikmati fantasi dari kehidupan sama apocalyptic yang dibangun dengan epik begini. Mungkin ada beberapa kekurangan, tapi namanya juga karya kan ya … akan ada saja yang memuji dan memberikan kritik. Sudah biasa lah ya.





4 komentar:

  1. Wahhh jadi pengen nntn juga, kalo diliat dari ceritanya seru bngt tuh keknya yaa hehe

    BalasHapus
  2. Wah, kalau ada mesin penghancur kayak gitu, apa faedahnya? Ketika dunia yang mestinya damai ditempati manusia hanya bisa dihuni sebagian kecil saka. Duh, efek peperangan dan teknologi yang diumbar serampangan memang menyeramkan. Mau adi apa masa depan manusia di bumi?
    Saya belum nonton ilmnya, dan kurang suka pada segi suram kehidupan di masa mendatang. Entahlah, seperti ada semacam skeptisme bahwa hidup di masa mendatang malah tak akan lebih baik daripada sekarang. Itu bisa mencuci otak penonton.
    Ingin ada film yang menggambarkan dunia masa depan damai, atau malah perang yang ditimbulkan di belahan lain negara bisa diselesaikan secara perdamaian. Kekuatan serakah itu menakutkan kala ada banyak weilayah yang mestinya berdaulat mlaha dijajah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rata rata film soal masa depan yang bertema apocalyptic seringnya begini Teh. Ngeri memang.

      Sampai aku pun rasanya, jangan sampailah aku mengalami, cukup menikmatinya melalui imajinasi saja. Serem.

      Kayaknya aku nggak bakalan bisa sanggup ada di masa kehancuran yang nyeremin deh.

      Semoga kelak dunia jadi lebih baik dan damai.

      Hapus