Label

Senin, 14 Januari 2019

Milly & Mamet : Suami Istri Memang Butuh Untuk Kompak


Sejak menonton film Cek Toko Sebelah, rasanya saya seperti tersihir dan mulai ketagihan menyaksikan film yang disutradarai oleh Ernest Prakasa. Apakah saya nge-fans banget sama Ko Ernest makanya sejak nonton Cek Toko Sebelah, rasanya kalau bulan Desember nggak nonton film dia itu, hampa? Hahaha … bukan. Saya menyukai karyanya. Saya suka caranya menyampaikan komedi segar tapi menyelipkan makna yang manis di baliknya. Dan kali ini, Milly Mamet menjadi film penutup yang saya saksikan di tahun 2018.


Nonton Milly dan Mamet sama partner sendiri ... asik
                                                                   
Baiklah. Mari kita memulai curhat tentang apa sih yang saya rasakan setelah menyaksikan akting Sissy Prisilia sebagai Milly yang tulalit namun ceria, juga Dennis Adhiswara sebagai Mamet yang hobinya gagap dan segan. Dalam film Milly Mamet yang merupakan spin-off dari Ada Apa Dengan Cinta ini, pada akhirnya Cinta, Carmen, Maura, dan Milly tumbuh dewasa. Sudah bekerja dan menjalani kehidupan orang dewasa pada umumnya, Milly mengalami dilema cinta. Bukan karena nggak punya pacar, tapi karena pacarnya terlalu sibuk sampai-sampai Milly – di sebuah acara reuni yang juga dihadiri Mamet – harus pulang sendiri. Nah, di sinilah awal kisah cinta dari Milly dan Mamet dimulai.

Mobil tua Mamet yang mogok … hey, kalau kamu ingat adegan legendaris dari film Ada Apa Dengan Cinta dimana Milly menyetir ngebut mobil Mamet, demi mengantar Cinta untuk bertemu Rangga di bandara, nah … itulah mobilnya. Milly yang mau menemani dan terus dibuat tertawa, selagi menunggu tukang derek sampai merasa lapar dan kedinginan karena udara malam. Juga cerita Mamet yang ternyata setelah dewasa, malah suka memasak. Hobi. Umm … mungkin passion ya. Lalu kisah bergulir singkat dan mereka berdua pun memutuskan untuk membina rumah tangga bersama. Awalnya kehidupan mereka adem ayem, walaupun sebenarnya buih-buih calon masalah sudah muncul sedari menit-menit awal film ini dimulai.

Mamet setelah menikahi Milly, bekerja di pabrik konveksi milik mertuanya yang galak dan membuat Mamet tertekan, karena untuk mengambil keputusan sepele soal menerima order saja, harus melalui persetujuan mertuanya sendiri. Di lain sisi, Milly yang hanya berdiam diri sebagai ibu rumah tangga di rumah, mengurusi bayi, dan bosan, diam-diam menyimpan keluh-kesahnya.  Hingga pada suatu ketika, ujian untuk rumah tangga mereka pun datang.

Tersebutlah Alexandra, seorang teman lama Mamet muncul, mengajaknya mewujudkan mimpi lamanya untuk membuka sebuah restoran makanan sehat. Wah, impian Mamet untuk menjadi chef dan menghabiskan lebih banyak waktu di dapur restoran, nampaknya akan segera terwujud dong ya. Nah, di sinilah, masa dimana kehidupan berumah tangga antara Mamet dan Milly, diaduk-aduk.

Saya akan menghentikan cerita saya soal kisah Milly Mamet hanya dibagian sini saja, agar saya nggak menyakiti hatimu yang sudah menonton film ini, pun nggak bikin sensi kamu yang belum menyaksikannya. Sebab … seperti biasa, sudut pandang saya dan kamu bisa berbeda setelah menyaksikan film yang sama, bukan?

Menjadi Suami Istri Memang Butuh Dua Orang yang Mau Kompak
Saya mendapati kesimpulan ini seusai film Milly Mamet berakhir dan lampu ruang studio mulai dinyalakan. Bahwa dua orang yang pada akhirnya memutuskan untuk menikah, membangun sebuah keluarga bersama-sama, sangat butuh untuk menurunkan egonya, lebih banyak mendengarkan, dan nggak memandang sebelah mata pasangannya, agar bisa menjadi pasangan yang kompak. Jelas saja, sebab rumah tangga tanpa tantangan itu akan terasa hampa. Bukan begitu? Lagipula, kalau sudah memutuskan untuk menikah, bukankah sudah siap untuk saling berkontribusi dalam hal sesepele apapun yang menyangkut kehidupan berkeluarga berdua, ya kan?

Tokoh Milly dan Mamet sukses membuat saya tertawa ngakak, pun berkaca-kaca haru dalam waktu yang berdekatan. Betapa cinta yang Milly tunjukkan kepada Mamet begitu luar biasa. Bahwa kemampuan seorang istri yang memilih untuk berdiam di rumah demi mengurusi anak itu … jangan sekali-kali dipandang sebelah mata, karena ada kecerdasan dan wawasan yang akan muncul pada waktunya, di sana. Pun tokoh Mamet yang menunjukkan rasa cintanya dengan menurunkan sejenak egonya sebagai lelaki – kepala rumah tangga yang sudah kodratnya menjadi nahkoda dalam pelayaran bernama keluarga, lalu menemukan jalan untuk kompak dan rekat kembali, tapi ternyata malah nggak mengorbankan apa-apa. Ah cinta, begitulah seharusnya, lebih indah setelah dijalin dan diikat dalam pernikahan. Kalau menurut saya sih, demikian.

Melucu Nggak Harus Jadi Pelawak
Saya berterima kasih atas kehadiran Isyana Sarasvati dalam film ini. Saya sukses ngakak sama akting tulalitnya. Selesai sudah penasaran saya setelah menyaksikan berbagai video singkat Behind The Scene dari film Milly dan Mamet yang dimunculkan di akun instagram pribadi milik Ernest Prakasa, beberapa bulan ke belakang. Beneran sarap ih.

Saya juga dibuat gemas oleh Melly Goeslaw yang muncul diakhir film. Benar-benar penutup yang lucu, tapi juga membuat saya sukses terharu. Tadinya saya kira, beliau akan menyanyi di film ini, ternyata malah ambil bagian dan … duh, apa ya, pokoknya … coba deh kamu tonton dulu, maka setelahnya kamu akan mengerti maksud saya.

Pesan Manis Tentang Perjuangan Berkeluarga
Kalau ada yang bilang, setelah menikah, semuanya akan baik-baik saja, bebas dari keributan karena orang ketiga, atau cemburu buta, itu bohong banget. Karena sebenarnya menikah bukanlah akhir bahagia dari sebuah kisah cinta, tapi tahap baru untuk menyongsong ujian cinta yang baru.

Tambahan sedikit ya. Kalau di film Ada Apa Dengan Cinta, kalimat yang terkenal itu, “Yang kamu lakukan ke saya itu, jahat!”, maka di film Milly dan Mamet, malah menjadi “Yang kamu lakukan ke saya itu, jahit!”. Nah, kok bisa begitu? Kalau kamu sudah menyaksikan film ini, pasti tau deh. Saat mengingat kalimat itu saja, saya masih tertawa geli. Komedi yang manis, buat saya.


Dari dua film garapan Ernest Prakasa sebelumnya, yaitu : Cek Toko Sebelah dan Susah Sinyal, sedikit banyak saya menemukan pesan yang hampir sama, yaitu tetap jatuh cinta pada seseorang yang kita jadikan keluarga dengan ikatan cinta, pun seseorang yang hadir karena adanya cinta. Ungkapan cinta yang ditunjukkan dalam film Milly dan Mamet ini pun, terlihat sederhana, nggak terlalu berbunga-bunga seperti kisah Ada Apa Dengan Cinta, tapi mendalam sekali.

Sepanjang menonton film Milly dan Mamet ini, rasanya saya bisa ‘lepas’, bebas menertawakan scene-scene yang lucunya natural dan menyeka air mata yang mendadak rembes karena cinta yang ditunjukkan oleh tokoh Milly dan Mamet.


Akhir kata, saya akan menunggu kehadiran film garapan Ernest Prakasa lagi di akhir tahun 2019 ini, dan entah kejutan apa lagi yang akan saya rasakan.


22 komentar:

  1. saya juga suka banget karya nya ernest prakasa.
    cuman untuk film milly dan mamet ini gak sempet nonton. semenjak nikah dan punya bayi udah ga pernah nonton lagi. sediihh.. hehe..

    masih ada gak sih ini di XXI? saya kudet banget sekarang..

    BalasHapus
  2. laki-laki dan perempuan itu kalo udah menikah memang kudu mengesampingkan yang namanya ego ya .... intinya saya akan bahagia jika bisa membuatmu bahagia hehe ...

    BalasHapus
  3. Saya gak kebagian nonton ini di bioskop hiks
    Pas lagi liburan keluar kota
    Begitu balik Bogor, udah turun layar huhuhu

    Baca reviewnya bikin makin mupeng
    Apalagi bagian soal perlunya komunikasi suami istri
    Lafffff

    BalasHapus
  4. Film ini menghibur banget, tapi kalau diliat lagi sebenernya penuh pesan moral ya..suka ama karakternya Milly.

    BalasHapus
  5. Milly Mamet keren banget sih yaa.. karya2 dari Ernest Prakasa makin ke sini makin oke.
    semua tuh dapet, cara penyajiannya keren

    BalasHapus
  6. Film yang bagus ya Mbak. Sarat Makna. Padahal yang garap komedian. Ernest benar-benar berbakat ya. Semoga film Milly dan Memet pun sukses seperti yang sudah-sudah. Amin

    BalasHapus
  7. Penasaran, sudah lama nonton traillernya dan penasaran, baca ini semakin penasaran deh.
    Belum sempat nonton cek toko sebelah sih, tapi film2 Ernest itu beneran bikin greget lucunya :D

    BalasHapus
  8. salah satu film Indonesia kategori drama favorit, yang campur aduk rasanya dapat semua

    BalasHapus
  9. Jadi penasaran deh mbak dengan filmnyaa. Penasaran bagaimana dengan kisah Milly dan Mamet. Harus nonton kayanya nih.

    Memang bener mbak, berumah tangga itu bukan akhir bahagia kaya di dongeng-dongeng, justru setelahnya bakal ada tantangan besar. makasih sharingnya mbak.

    BalasHapus
  10. Jadi penasaran sama filmnya, apalagi temanya tentang rumah tangga. Makasih mba reviewnya 😊

    BalasHapus
  11. Waduh makin penasaran di sana sini baca review film ini. Sayang di Cianjur tidak ada bioskop. Harus ke luar kota nih....

    BalasHapus
  12. Setujuuu.. Ini salah satu film yang harus ditonton suami istri biar makin kompak :D

    BalasHapus
  13. Baru pengen nonton kapan hari, eh udah turun aja dari layar-layar bioskop di sini. Maklum sayanya belakangan ini baru berani ke bioskop, masih parno sejak kejadian gempa di Lombok yang beruntun itu. Takut ada gempa pas lagi enak-enak nonton hahahaha

    BalasHapus
  14. Yah kok kisahnya dipotong. Hihi. Tapi memang lebih asyik nonton sendiri. Jadi penasaran apakah mamet berhasil jadi koki dg restu milly

    BalasHapus
  15. Daku belum nonton film Milly dan Mamet ini, banyak pesan bermanfaat yah terutama buat yang akan menikah

    BalasHapus
  16. Wah baca reviewmu jd bikin aku pengen nonton film ini mbak. Awalnya aku kira ah paling ceritanya garing ya? Ternyata sepertinya sarat makna gtu ya mbak, khususnya buat yg mau memulai hidup berumahtangga.

    BalasHapus
  17. Saya sampai terbawa perasaan pas baca paragraf-paragraf pertama review ini dan tersentak pas Mba hentikan ��

    BalasHapus
  18. Suka banget klo ada cerita komedi tapi ada makna yang didapat... Ringan rasanya ga usah terlalu puyeng dengan cerita hehe salam kenal mbak

    BalasHapus
  19. aku kebetulan sejak nikah kurang suka sama film2 komedi romantis, tp baca ini kok seru ya

    BalasHapus
  20. liat posternya aja bikin penasaran, apalagi setelah baca ulasan soal filmnya, mau nonton wiken ini sama syuamik ah

    BalasHapus
  21. Dari sejak kisah AADC, saya memang lebih suka dengan 2 tokoh ini dibanding Cinta dan Rangga. Dapat lah polos-polosnya yang bikin ngakak

    BalasHapus
  22. Saya nggak nonton karena harus bawa balita, tapi dari thriller0nya aja sudah suka. Next nunggu video-nya aja deh. Atau nggak nunggu di netflix aja, hehe

    BalasHapus