Label

Senin, 14 Januari 2019

Milly & Mamet : Suami Istri Memang Butuh Untuk Kompak


Sejak menonton film Cek Toko Sebelah, rasanya saya seperti tersihir dan mulai ketagihan menyaksikan film yang disutradarai oleh Ernest Prakasa. Apakah saya nge-fans banget sama Ko Ernest makanya sejak nonton Cek Toko Sebelah, rasanya kalau bulan Desember nggak nonton film dia itu, hampa? Hahaha … bukan. Saya menyukai karyanya. Saya suka caranya menyampaikan komedi segar tapi menyelipkan makna yang manis di baliknya. Dan kali ini, Milly Mamet menjadi film penutup yang saya saksikan di tahun 2018.

Kamis, 10 Januari 2019

Bumblebee : Tentang Pencarian Diri dan Hangatnya Pertemanan


Sebelumnya, saya akan mengakui dulu, kalau saya bukanlah klan pengikut setia film Transformer. Saya hanya tahu sedikit banyak, namun saat berkesempatan untuk menyaksikan film Bumblebee yang bahkan dipenuhi oleh banyak anak-anak di ruang studio, saya merasa beruntung karena bisa menikmati film yang sebenarnya disarankan untuk ditonton seseorang pada rentang usia 13 tahun ke atas ini. Sedikit menyayangkan memang, tentang banyaknya orangtua yang bahagia sekali mengajak anak-anak ke bisokop untuk menonton film animasi atau bertema fantasi, tanpa memerhatikan saran usia dan review terlebih dahulu. Semoga kelak saya nggak akan begini. Makanya saya sekarang semakin menikmati hobi menonton saya dan latihan menonton film yang “warna-warni” biar punya cukup referensi untuk tontonan anak-anak saya di rumah, nanti. Mohon doakan saya ya.

Rabu, 02 Januari 2019

Mortal Engine : Kengerian Masa Apocalyptic yang Saling Memburu


Kalau kamu sudah menonton seenggaknya film yang bertema Apocalytic alias masa kehancuran dunia seperti A Quite Place, mungkin kamu sudah mempersiapkan diri pada seberapa ngeri dan menegangkannya dunia yang perlahan menuju kehancuran hakiki, namun manusia berusaha bertahan untuk tetap hidup di Bumi, walau dengan cara yang keji tetapi dianggap lebih baik dibandingkan mati tanpa arti. Menikmati Mortal Engine, saya dijebak dalam kengerian yang membuat saya harus beberapa kali menahan napas di bangku merah studio teater bioskop senja itu. Ngeri yang terlalu, ditambah pikiran awam saya yang terus saja berusaha mencerna tebaran kode-kode (keras) yang makin memaksa saya untuk fokus saja ke layar, nggak peduli keadaan penonton sekitar yang terkadang saling berbisik menyampaikan komentar.