Label

Jumat, 26 Oktober 2018

The Bedside Detective (2007) : Cari Uang Segitunya Amat


Memangnya beneran ya, ada orang yang mau dibayar hanya untuk memotret kemesraan pasangan selingkuhan? Sebegitunyakah cari uang, sampai jadi Bedside Detective ini dilakoni juga? Ini pertanyaan pertama yang muncul dalam benak saya saat kembali menemukan salah satu film yang dibintangi oleh Sunny Suwanmethanont.

Saya pertama kali mengenal Sunny Suwanmethanont dari film Thailand berjudul Heart Attack. Film yang mengisahkan tentang kerasnya kehidupan seorang freelancer demi uang. Nah, ini, saya menemukan lagi film yang dia bintangi, juga dengan benang merah, kalau mencari uang itu segitunya amat. Ngomong-ngomong, film Heart Attack ini belum saya tulis di blog ini, saya usahakan lain waktu ya. Semoga nggak terlupa lagi.


The Bedside Detective
(taken from : ijeverson(dot)com)


Di film The Bedside Detective yang bergenre komedi-romantis ini, sepertinya saya nggak ingin membahas banyak soal alur dan sinematografinya. Tentu saja karena belum banyak ilmu pengetahuan yang saya miliki soal ini. Namun sepanjang menonton film ini, sejujurnya saya memang nggak terlalu banyak tertawa, melainkan miris. Mungkin komedinya agak satir ya. Saya pun menemukan beberapa poin yang … walaupun di IMDb, film ini hanya diberi nilai 6.5/10 saja, tetapi ada pesan soal keinginan dan uang yang akhirnya bisa saya rasakan sepanjang menonton The Bedside Detective.

Walaupun film ini muncul di tahun 2007, dengan teknologi yang belum seperti sekarang, tapi saya menemukan kemutakhiran dalam tokoh Jock Mana yang diperankan oleh Sunny Suwanmethanont. Bayangkan saya, kalau ia bisa menciptakan berbagai alat unik, persis Doraemon. Sayangnya, karena terlalu unik, jadi sulit diterima masyarakat umum, dan dia berakhir dengan nggak menjadi apa-apa.

Saya rasa, mungkin begitu pula pandangan publik soal inovasi ya. Kalau “aneh” jadi sulit diterima. Sama seperti saya yang teraneh-aneh soal … memangnya ada ya pekerjaan yang namanya Bedside Detective? Kerjaannya cuma menguntit kehidupan mesra-mesraan si target yang dilaporkan selingkuh oleh pasangannya. Sering sih, nemu di sinetron, scene tentang tokoh yang kaget karena menemukan bukti foto perselingkuhan pasangannya. Tapi, memangnya ada ya profesi semacam ini? Entahlah kalau jaman sekarang.

Baiklah, saya menumukan dua pesan besar dalam film The Bedside Detective yang mengena banget untuk siapapun ini. Oh ya, film Thailand ini agak semi. Jadi, sangat nggak saya sarankan untuk ditonton oleh remaja, apalagi anak-anak. Kalau buat saya, 21+ lah ya. Nggak banyak kok adegannya, dan nggak tersurat, tetapi cukup tersirat dan bisa membuat imajinasi jadi liar, kalau nontonnya nggak cari makna. Umm … untuk hiburan, lumayan lah. Terus agak agak ada rasa seperti nonton film film Warkop DKI versi Thailand, gitu.

Yakin Mau Pinjam Uang ke Makelar?
Inilah poin pertama yang saya dapat sejak awal menonton. Tergambar jelas sekali dari lika-liku kehidupan Jock Mana, si tokoh utama yang menjadi Bedside Detective dan tentunya diperankan oleh Sunny Suwanmethanont. Dia bisa menjadi Bedside Detective ini hanya karena gagal dalam bisnis mutakhirnya – Restoran Barbeque Daging Babi Tenaga Matahari – dan bingung mencari pekerjaan untuk melunasi utangnya yang naik terus menerus.

Saya merasa miris, ketika film ini sampai di scene saat Jock didatangi penagih utang yang karena dia terlambat bayar, dengan semena-mena melipat-gandakan jumlah tagihannya. Dari yang hanya 563,000 Baht, jadi 600.000 Bath biar gampang diingat. Lah, ngana yang boneng, Gan?

Itulah … saya rasa, modal usaha itu, walau seadanya, jika dimulai dengan hasil perjuangan bekerja tanpa meminjam, lebih nyaman di hati. Eh tapi kalau Jock nggak kejebak utang makelar, dia nggak bakalan jadi Bedside Detective trus film ini nggak ada ceritanya dong ya. Hihihi ….

Ingin Punya Rumah Semuda Mungkin Tapi Nggak Gitu Juga Kali
Kalau tadi saya sudah cerita soal latar belakang Jock Mana selaku tokoh sentral dalam The Bedside Detective, sekarang saya mau cerita juga soal latar belakang dari tokoh utama perempuannya – yang memilih menjadi wanita simpanan dan pernah menjadi targetnya Jock, sayangnya si Jock ini malah jatuh cinta sama dia – yang diperankan oleh Pattarasaya Kreuasuwansiri sebagai Num Pan.

Saya malah berpikir, “Ini Mba Num Pan salah makan apa ya, sampai memilih jalan untuk jadi wanita simpanan hanya demi punya rumah yang agak luas dan ada tamannya?”. Saya menangkap kesan kalau Num Pan jadi wanita simpanan pun nggak senang-senang banget. Cuma dia happy karena bisa tinggal di kontrakan agak elitlah ya, nggak di kampung rada kumuh seperti si Jock. Terus punya mobil kece. Apalagi dia rela jadi wanita simpanan untuk dua lelaki. Nah lho banget nggak sih ini?

Para Suami yang Nggak Puas Sama Istrinya
Ini lagi nih, sisi lain pernikahan yang sedikit disinggung dalan The Bedside Detective. Karena para pelapor biasanya si istri berduit yang merasa hanya dimanjakan oleh suaminya dengan uang, sementara jiwanya masih bebas berpetualang dengan wanita lain di luar sana. Saya menangkap pesan sangat super tersirat, kalau keluarga yang berkecukupan nggak selalu menyenangkan. Uang nggak bisa membeli kebahagiaan seseorang. Bahagia itu dimulai dari rasa saling memiliki dan melindungi, apalagi pernikahan itu merupakan hubungan yang sangat panjang dan lama, nggak seperti pacaran di masa muda yang sebentar juga akan berlalu begitu saja.

Tapi kalau para istri ini nggak merasa sakit hati akibat suaminya main sama perempuan lain, ya si Jock nggak bisa punya uang buat makan dong ya. Anehnya sih, ini agen Bedside Detective-nya siapa coba. Kok bisa jadi Bedside Detective begitu aja, si Jock ini. Lagi-lagi, silakan kamu tonton sendiri kalau penasaran. Mungkin kamu lebih teliti dan punya sudut pandang berbeda dari saya setelah menonton nantinya.

Emangnya apa dan gimana sih yang terjadi sama Num Pan? Saya nggak mau cerita, karena nanti bisa jadi spoiler. Ending filmnya seperti apapun, silakan kamu tonton sendiri kalau memang tergoda untuk menontonnya. Hanya saja, kalau memang kamu sejak awal kurang nyaman sama adegan semi menuju ke ranjang, sebaiknya urungkan saja niatmu ya, Memang sih nggak gamblang, tetapi entah … buat saya, pikiran orang kan berbeda-beda, jadi sebuah film pun akan memberi efek “greget gerah” yang berbeda juga.

Memang sih, dari beberapa review The Bedside Detective yang saya baca, teman-teman blogger lebih banyak yang mengambil sudut cerita cinta seorang detektif sama targetnya. Hanya saja buat saya … entahlah, efeknya malah ke soal uang ini. Hal mendasar yang membuat pola pikir dan perilaku seseorang menjadi begini dan begitu. Uang membuat manusia jadi tertekan di satu sisi, sementara merasa puas dan bahagia di sisi lainnya. Karena uang, seseorang bahkan ada yang sampai mau melakukan apa saja, bahkan sampai mengubah kehidupannya.

Kembali lagi. Kalau Jock nggak berutang, dan Num Pan nggak berkeinginan untuk punya rumah, nggak akan terjalin manis lah perasaan cinta mereka berdua dalam The Bedside Detective ini. Untuk segi komedi, bagi saya, film ini hampir mirip seperti kebanyakan film Warkop DKI tapi versi Thailand.



4 komentar:

  1. Kadang orang cari uang memang semua dilakukan demi, hahaha..

    Meski film tahun 2007 kalau banyak hal-hal yang unik dan positif pasti diambil manfaatnya itu. Kalau misalnya mau nonton ini di youtube, gak yah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ummm kurang tau deh mba. Aku nontonnya di viu soalnya.

      Hapus
  2. Tapi, bedside detective ini sepertinya sudah ada di Indonesia, di dunia nyata yaa. Buat realiyr show. Karena sudah ada yg pernah diwawancara, saya saya lupa karena udh lama banget. Intinya mreka menjadi detektif suruhan istri/suami yg curiga dengan pasangannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hah, iya kah? Aku baru tau. Ihhh bisa ada kerjaan beneran kayak gini tho.

      Hapus