Label

Senin, 08 Oktober 2018

Hijrah Sakinah : Bahwa Menikah Adalah Sebenar-benarnya Perjuangan


Saya baru menikah tahun lalu, dan ya … sekarang, kalau mendapati teman saya yang curhat berharap bertemu jodoh sesegera mungkin kalau perlu simsalabim, merasa merana karena sedang dalam masa single, seringnya hanya saya komentari selewat saja. Lalu kalau ada teman yang bilang bahwa masa pacaran adalah masa perkenalan yang paling baik daripada taaruf dengan mengandalkan berbagai informasi dari pihak ketiga, umm … keduanya sama saja. Percayalah kalau semua borok busuk dan luka-luka baru akan nampak setelah pesta resepsi pernikahan yang meriah itu berakhir. Tentu saja, karena selama masa pacaran maupun taaruf, masa borok sih yang dibuka? Enakan buka yang baik dan hebatnya dulu kan? Nanti calonnya malah mundur teratur atau segera ambil langkah seribu, kalau minusnya kelihatan. Ayolah, berhenti untuk membayangkan kehidupan ini seperti kehidupan para putri dalam dongeng Disney.


Judul                   : Hijrah Sakinah (Mengatasi 55 Masalah Utama Pernikahan Semudah Senyum)
Penulis                : Hanny Dewanti
Penerbit              : Ikon (imprint Penerbit Serambi)
Tahun Terbit       : September 2018

Pernikahan yang sehat adalah pernikahan yang orang-orangnya bisu, buta, dan tuli. Bisu dalam membicarakan kekurangan pasangan pada orang lain. Buta terhadap kekurangan pasangan. Tuli terhadap omongan orang lain yang bisa merusak cinta.

Sepanjang saya membaca buku ini, saya benar-benar teraduk-aduk. Pada bagian pertama yang diberi judul Setelah Gebyar Pesta, saya meneteskan airmata haru. Bahkan ketika si partner pulang, pada ketukan pertama, segera saya sambut dengan dekapan manja berairmata. Ah, sungguh, telah saya berikan sisa jatah kehidupan saya ini yang entah diijinkan bisa saya nikmati sampai kapan, untuk dijalani bersama dia, dalam sebuah ikatan yang sah.

Pernikahan, segalanya jadi serupa kejutan. Baik buruk, semua menyatu, dan saling kami telanjangi di hadapan masing-masing. Catatlah baik-baik dalam hati, bahwa sebenar-benarnya perjuangan bernama pernikahan. Sebaik-baiknya tim, adalah sepasang suami-istri yang berjuang bersama dengan kelebihan dan kekurangannya untuk menuju tujuan yang sama, surganya Allah SWT.

Itulah mengapa, kegalauan akan jalan menuju pernikahan bagi teman-teman saya yang masih sibuk menggalau karena single, seringnya hanya saya beri saran ringan untuk fokus mengembangkan diri, menjadi diri yang lebih baik lagi. Sebab kelak setelah menyandang status istri dan suami, berbagai tantangan akan lebih banyak lagi yang menghampiri, nggak peduli kita sudah bersiap ataupun belum. Anggap saja seperti masa perang, dimana musuh bernama “cekcok yuk” bisa saja datang tanpa mengetuk pintu di malam buta, saat kita sedang enak-enaknya terlelap dengan nyaman.

Saya sangat berterima kasih kepada Penerbit Ikon yang menghadirkan buku nonfiksi mengenai rumah tangga islami karya Hanny Dewanti ini. Bahasanya yang ringan, seolah saya sedang diajak berdiskusi dengan seorang kakak cantik nan lembut, personal sekali. Saya menikmati tiap halamannya, tiap poin-poin yang disampaikannya, dan sesekali saya merasa … umm, kalau boleh saya menyebutnya dengan “teraduk-aduk sampai terobrak-abrik juga perasaan dan pikiran” saya.

Saya jadi bersyukur sebab saya dihadiahi partner yang baik, lengkap dengan keluarga besarnya yang menyenangkan. Namun saya diperingati juga agar nggak terlalu terlena dengan berbagai nyaman yang diberikan, sebab hati nggak ada yang tau, dan keadaan pun dapat berubah sewaktu-waktu. Pesan dari Mbak Hanny Dewanti soal menjaga jarak dengan keluarga besar yang dalam artian bukan menghindar, tetapi berperilaku lebih dewasa untuk pandai memilah mana yang layak mereka konsumsi dan mana yang hanya boleh dikonsumsi sepasang suami-istri. Belum lagi tulisan mengenai, Pekerjaan Rumah? Pekerjaan Siapa? Bagian ini mengaduk-aduk pikiran saya mengenai, bagaimana pola pengasuhan anak laki-laki dan perempuan yang baik dan benar, sehingga para penerus ini kelak akan menjadi sosok suami saleh dan istri saleha. Soalnya, kalau boleh saya sedikit sok tau, rasanya jaman sekarang, sosok semacam ini cukup langka, bukan?

Menjadi istri – terutama – akan memberikan tantangan yang sebenarnya cukup untuk dijadikan seperpusatakaan penuh berisi curhatan khas perempuan. Ya iyalah ya, karena perempuan adalah makhluk yang diciptakan dengan kekuatan perasaan lebih banyak, sementara laki-laki penuh logika. Kalau ditambah dengan komunikasi yang seadanya dan seperlunya, kelar sudah itu rumah tangga.

Dalam buku Hijrah Sakinah ini, kelihatan sekali kalau buku ini benar-benar untuk perempuan. Selirikan pandang saja sudah bisa nampak, sebab lembar kertasnya berwarna pink lembut. Tapi, jangan percaya dengan warna lembaran kertasnya yang pink itu, sebab saya menemukan beberapa bagian, dimana Mbak Hanny Dewanti mengajak berbicara para kaum berjakun, suami dan calon suami yang gagah, si pemimpin keluarga, si nahkoda kapal yang diharapkan untuk lebih peka dan perbanyak menuntut ilmu soal berumah-tangga juga. Kan rumah tangga itu bukan hanya urusan istri yang pandai melayani dan suami yang hebat memapankan karir, tapi … soal visi misi penuh cinta.

Sayangnya karena lembaran kertasnya berwarna pink, saran saya, jangan dibaca di saat mendung – kalau hati yang mendung sih nggak apa apa – atau tempat yang pencahayaannya kurang benderang, karena mata akan terasa jadi lekas lelah.

Catatan pentingnya, menikah itu berarti siap menikmati dan menghadapai begitu banyak tantangan yang bisa saja membawa luka dan air mata, tapi bisa juga memberi bahagia. Tergantung dua orang yang telah menyatukan diri dalam pernikahan tadi, suami dan istri. Kalau mau tau lebih dalam lagi, silakan dapatkan buku ini di toko buku, buka lembar pertamanya, lalu duduk dan nikmati hingga lembar terakhirnya.



46 komentar:

  1. Jadi pengen baca juga nih mbak hehe :D

    BalasHapus
  2. setujuu, pernikahan memang sebuah perjuangan. perjuangan dua insan, belajar saling menghargai dengan terus belajar berbenah

    BalasHapus
  3. ah setuju banget. sekarang kalau ada teman yang galau karena belum ketemu jodoh aku nggak bakal ngomporin biar segera nyari jodoh karena sebenarnya pernikahan itu nggak semudah yang dibayangkan. heu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya. Kasian kalo emang belum siap tapi kena komporan.

      Hapus
  4. Aku juga lagi baca buku ini hehe, bagus banget emang nih bukunya.

    BalasHapus
  5. Terharu ya judulnya kalau kata ibuku sampai nanti sampai mati belajar terus pasangan itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terus kata ibunya mba bikin aku ikutan terharu.

      Hapus
  6. Ahh baca judulnya aku baper. Bahwa menikah adl sebenar benarnya perjuangan. Moga kita smua bisa melewati pwrjuangan itu dgn baik ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga langgeng mesra dan berjalan beriring menuju surga.

      Hapus
  7. Syukurlah buku ini bisa memberikan nuansa baru bagi teman single biar teman yang dah nikah gak rese

    BalasHapus
  8. pernikahan memang butuh keseriusan sih, harus bener-bener. nggak bisa sembarangan, toh ini untuk pasangan sehidup semati..

    BalasHapus
  9. Dulu.. Sebelum nikah, klo baca2 buku tentang nikah tuh suka baper.. Tapi sekarang lebih ke "ngaca diri" dan brdoa semoga bisa jadi istri yang baik sampai akhir seperti yang dijabarkan di buku2 pranikah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga kita bisa jadi istri solehah ya mba.

      Hapus
  10. Jadi mupeng nih 😍, pastilah banyak hal berupa kejutan yang manis 😊. Dan memang warna kertas dan pencahayaan jadi pengaruh juga untuk membaca

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget nih soal warna kertas dan pencahayaan.

      Hapus
  11. Memang harus lebih banyak buku2 yang memberi info seputar pernikahan, kita jadi punya banyak masukan dlm mengarungi biduk rumahtangga

    BalasHapus
  12. Bener bngt pernikahan adalah permulaan perjalanan ya.. jadi mau baca buku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan dicari mba. Semoga bisa jatuh cinta juga sama buku ini seperti saya.

      Hapus
  13. saya sudah 16 tahun nih nikah..sepertinya biar menguatkannya mesti baca buku seperti ini juga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahhh. Semoga langgeng mesra dan seiring sejalan ke surga. Aamiin.

      Hapus
  14. Aku jadi teringqt dengan kata2 Tere Liye bahwa pernikahan itu bukan lomba. Setuju banget sih. Pernikahan bukan siapa yang duluan dan siapa yang belakangan, soalnya setiap orang diberikan jodoh dalam waktu berbeda-beda dan pernikahan adalah soal kemantapan hati dan perjuangan.

    BalasHapus
  15. Menikah itu warna warni ada suka ada duka tapi yang jelas dengan menikah segala kebaikan pahalanya berkipat.

    BalasHapus
  16. Suka dengan kamut dalam bukunya. Ada benarnya juga, soalnya dalam kehidupan pernikahan saya yang Desember nanti akan genap 10 tahun, ada banyak hal tak terduga selama mengarungi bahtera rumah tangga.
    Musuh cernama "cekcok yuk" bisa datang kapan saja, kadang juga berrasal dari sayanya karena hal sepele dan dipengaruhi siklus bulanan yang bikin labil.
    Bahasa Teh Acha ngalir dengan santai, jadi enak dibaca. :)
    Semoga saja bukunya laris manis di pasaran, setiap pernikahan ada dramanya. Nah, teman-teman lama saya juga kerap curhat soal drama mereka. Saya juga ada, kok. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi jadi malu. Terima kasih banyak sudah mampir Teh.

      Hapus
  17. Hakikatnya menikah itu mudah, namun apakah bisa menghadapi perjalanan pernikahan yg penuh tantangan?
    Miris kadang liat orang mencibir orang lain yg belum dipertemukan jodohnya, padahal segala sesuatu kan berproses, seperti hal nya menikah, butuh kematangan dan kesabaran dalam menjemput jodoh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huum. Miris rasanya hal sakral dan butuh proses dan perjuangan sepanjang hayat macam pernikahan ini, dijadikan lomba dan bahan nyinyir.

      Hapus
  18. Yg jelas kalau pacaran itu 90 persen kebohongan..banyak menutup hal2 yang buruk, karena takut outus hahaha....tp jd penasaran sama buku ini setuju banget dgn statmen menikah adalah perjuangan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Pacaran kelamaan aja nggak baik ya bunda.

      Hapus
  19. setujuuu banget nget nget!! perjuangan sepanjang hayat hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyes. Terima kasih banyak udah mampir bunda.

      Hapus
  20. "Menikah adalah perjuangan" meskipun saya belum sampai pada tahap itu, namun saya setuju dengan hal itu.

    Dan alahkah indah dan bahagianya bila mendapat pasangan yang mau berjuang bersama-sama dengan konsep pernikahan yang sehat yaitu pernikahan yang orang-orangnya bisu, buta, dan tuli seperti yang Mba tulis ini. *Aamiin...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Didoakan semoga dipertemukan dengan yang klop di waktu yang tepat ya mas. Aamiin.

      Hapus
  21. Php nih judulnya. Masalah rumah tangga berat loh, ga bisa dihadapi dengan senyum doang hahaha

    BalasHapus
  22. sepertinya bukunya bagus dibaca untuk para pasangan suami istri ya. Berumah tangga itu memang nggak akan pernah live happily ever after ya, tapi pasti selaluuuuu ada ujiannya.. Nanti mau cari bukunya di tokbuk ah, makasi infonya yaaaa

    BalasHapus
  23. Sekian tahun menikah pun kadang kita masih ada dibeberapa hal tertentu yang tak bisa pahami dari karakter pasangan...

    Jadi kalo niat nikah..bismillah jalani...

    Jangan kelamaan pacaran...dan kalo bisa lebih baik ta'aruf..

    BalasHapus