Label

Jumat, 25 Mei 2018

Kehidupan Lucu Setelah Menikah : Ternyata Saya Ini Nol Besar


Dulu, nggak pernah terbayang oleh saya, kalau saya akan jadi Mama Muda yang sebegini antusiasnya soal kehidupan anak. Di dalam pikiran saya dulu, karena saya ini penyuka anime, suka main, dan jalan-jalan tentunya, akan banyak hal yang mudah saya selami, terutama urusan anak-anak. Eh eh, itu baru urusan anak yang bikin saya sok sokan bisa banyak hal ya. Sejak jadi istri dari Mr. Kakao saja, saya awalnya merasa bisa melakukan banyak hal dengan sempurna. Tapi … kenyataan menjerembabkan saya sampai ke titik nadir. Nggak ada gunanya sudah saya tinggal sendiri dan mandiri di perantauan lumayan lama. Nggak ada gunanya kemampuan meramu makanan ala ala saya yang selalu aneh dan ternyata terlalu apa adanya. Semua buyar ambyar yar yar yar.

sumber : edited from freepik


Beneran deh … perjuangan itu, ternyata bukan di saat mempersiapkan pernikahan. Mungkin kamu sudah baca cerita saya ya.


Perjuangan yang sesungguhnya itu, dimulai seusai akad. Bulan madu mah cuma hiburan sebelum naik rolercoster bersama. Ada banyak sekali naik turun disertai pergolakan batin yang nggak bisa menunggu lama untuk dihadapi. Nggak ada lagi waktu untuk sok sok mempersiapkan segalanya dengan matang seperti menghadapi ujian di kampus dulu. Belum lagi, ada banyak cara agar tetap berada di garis aman, sehingga nggak terjadi perseteruan. Boleh ya, saya cerita sedikit banyak tentang apa saja yang saya sadari setelah menikah, walaupun perjuangan saya dalam pernikahan saya ini belum terlalu lama.

Belajar Masak Biar Nggak Sering Jajan
Dulu ketika single, yaelah, saya mah sesungguhnya termasuk jiwa perhitungan yang selalu menakar, berapa uang yang boleh saya keluarkan untuk makan selama seminggu. Dengan catatan, makanan yang saya makan itu sehat, enak, dan tentunya nggak terlalu repot bikinnya. Eh sekarang, setelah menikah, saya terjebak oleh tuntutan untuk sebisa mungkin tetap mengatur jumlah uang belanja bahan makanan yang konstan, ditambah kemampuan mengolah makanan yang enak, dengan bold tebal banget yaitu … nggak itu itu saja. Nah lho, jleb lah sudah. Saya yang agak malas masuk dapur ini, akibat jiwa sedikit perhitungan saya, akhirnya betah juga untuk ketemuan sama wajan, panci, minyak, dan sodet beserta cobek juga deretan peralatan masak dan bahan makanan. Ini sedikit keajaiban dari menikah.

Sesungguhnya Waktu Senggang Itu Berlian
Mungin waktu masih tinggal berdua saja dengan si partner waktu senggang untuk melakukan kegiatan suka suka itu masih lumayan ada lah ya. Hanya saja, saya mewajibkan diri saya untuk peduli dengan si partner. Misalnya, ada keluaran film baru yang ingin si partner tonton, harus banget saya ngikut. Misalnya lagi nih, jaman masih single dulu, kalau weekend tuh … ya udah, waktu seharian mau nonton atau baca pun, silakan. Sejak menikah, ada banyak sekali kompromi yang sedikit banyak membuat saya harus mengorbankan waktu senggang untuk bermalas-malasan dengan senang hati. Apalagi, kalau sudah ada baby. Waktu senggang itu rasanya hampir hanya sepanjang helaan napas. Itu kalau kamu memilih mengurus sendiri si baby tanpa bantuan ART atau orangtua ya.

Mandiri Banget Itu Hanya Ocehan Belaka
Semasa single, sering saya sok sokan bisa melakukan banyak hal sendiri. Seperti belanja bulanan lalu pulang ke kosan dengan dua kantong belanjaan, ditambah beras 5 kg, dan biasa saja. Lalu menyeret galon air dari pintu gerang sampai ke kamar … yang … lumayan berat sih. Banyak hal juga yang bisa saya putuskan sendiri, tinggal mengabari Mama Papa saja via chat. Lah sekarang, mau melakukan apapun butuh banyak pertimbangan. Mempertimbangkan perasaan si partner, dan kedua keluarga inti. Bagaimana pun caranya, selalu cari jalan tengah. Belum lagi saat punya baby. Mengurus baby sendirian itu sama seperti cari mati sih, kalau buat saya. Sebab saya ternyata ada beberapa waktu yang sangat membutuhkan Mama dan Bunda untuk menitipkan si baby. Sekedar untuk mandi atau keluar berdua si partner biar kami bisa tetap menjaga mood happy,

Kurangi Main Main Tapi Tetap Wajib Me Time
Saya termasuk orang yang senang kumpul sama teman. Menghabiskan waktu untuk mengobrol atau jalan-jalan. Kalau kamu sudah baca cukup sering artikel soal traveling di blog saya ini, mungkin kamu sudah bisa menebak, siapa sih best travel mate ever saya. Memang sih, si partner nggak melarang saya main, sebebasnya saja, asal bertanggungjawab. Nah, soal tanggungjawabnya ini yang berat. Waktu si baby baru mau datang (baca : hamil) saja, saya tahu kalau waktu saya akan lebih banyak untuk si baby. Kemudian saya pun membuktikannya dengan resign dan memilih jadi freelancer. Daripada saya nggak dibolehin main (sebenarnya karena nggak enak hati) karena sudah banyak waktu yang habis di kantor kan ya? Toh setelah resign, ternyata saya nggak kehilangan apa apa. Alhamdulillah, banyak kesempatan yang datang untuk saya mengembangkan skill copywriting di media digital. Lalu soal me time, saya memaksa untuk tetap ada sih. Seringnya giliran sama si partner. Biar nggak gila.

Baca juga : 5 Keseruan yang Dicari Kalau Main ke Japan Matsuri

Biasanya Mikirin Hobi Sekarang Mikirin Baby
Dulu tuh saya paling hobi main ke berbagai festival pop Jepang. Hobi juga ngumpulin buku yang (belum tentu di baca dalam waktu dekat) menarik hati. Sekarang saya merasa, inilah waktu yang tepat untuk membaca semua yang saya timbun. Kebetulan, waktu untuk keluar rumah, sejak si baby lahir dan sekarang pun masih beberapa minggu menuju 6 bulan, makanya saya selalu kangen kalau sudah lebih dari 3 jam jauh dari si baby. Ujung ujungnya, saya apa apa tuh online.
Bersyukur saya mengenal Tokopedia. Awalnya karena saya hobi belanja online sih, lalu berujung saya tergoda untuk ikut ikutan jualan online juga. Saya buka lah akun seller di Tokopedia. Senang sih makainya. Walaupun belum ramai, tapi seru saja bagi saya selama menjalankannya. Lalu tanpa sadar, kesibukan saya di rumah, melebihi kesibukan saya saat masih ngantor dulu. Kemudian … saya pun sekarang apa apa tuh senangnya online. Sejak tahu kalau bisa beli tiket via Tokopedia, waktu tahu ada event Mom & Baby Fair, si partner langsung seret saya ke sana, trus bayar tiketnya pun via Tokopedia. Beli pulsa lewat Tokopedia saja, bisa. Sekali kali rasanya saya ingin coba bayar tagihan PDAM di sini deh.

Kalau dibayangkan sekarang, saya beneran nggak tahu apa apa banget ketika mengiyakan tawaran si partner untuk menikah ya. Saat dijalani, walaupun heboh, ternyata lucu. Banyak cerita konyolnya, dan … nyeni banget ya, membina rumah tangga itu.

Kalau kamu punya poin tambahan untuk tulisan saya ini, silakan sampaikan di kolom komentar ya.



9 komentar:

  1. Setelah menikah secara nggak langsung keahlian semakin bertambah...wkwkwk. Bersyukur kalau masih dekat orang tua, bisa nitip Baby. Aku dulu Balita ada 3 kemana-mana bawa rombongan wkwkwk

    BalasHapus
  2. Saya juga nol besar kala baru nikah, he he. Sekarang sudah jalan 9 tahun menikahnya dan meski kami lebih tenangan, namun akan tetap ada masa untuk roller coaster lagi. :)
    Selamat jadi mahmud, ya. Proses hidup ini bukanlah hal yang instan. :)

    BalasHapus
  3. setuju sama "mandiri banget hanya ocehan belaka" dikit-dikit harus dikomunikasiin, not a bad thing sih, tapi yaaa... terbiasa apa2 diputuskan sendiri, terus harus kompromi sama partner itu rasanya campur aduk

    BalasHapus
  4. Hehehe mungkin karena itu ada istilah mahmud abas, yaitu mamah muda anak baru satu. Yaitu julukan buat mamah muda yang rempong ga karuan ketika baru punya 1 anak

    BalasHapus
  5. Pernikahan itu nano-nano sekali,dijalani dengan yakin saja

    BalasHapus
  6. Bisa semua mba. Aku juga suka apa apa di tokped

    BalasHapus
  7. Kehidupan setelah menikah jungkir balik ya, Mbak. Emang semua harus didiskusiin sama teman hidup biar tetap jalan dan happy

    BalasHapus
  8. Seringnya keinginan sama kenyataan itu beda. Tapi sekarang jaman online, buibu sibuk bs pencetan pakai hp buat bayar listrik. Saya pun terbantu dengan Tokped

    BalasHapus
  9. Paling seru ketika belajar masak sehari2 meladeni suami. Seqmua jadi bisa karena biasa.

    BalasHapus