Label

Sabtu, 11 Maret 2017

Milda Ini : Bahasa Ibu Nggak Cuma Harus Fasih Diucapkan Oleh Ibu-Ibu

Apa sih yang nggak akan bikin para orangtua bangga kalau anaknya jagoan banget cas cis cus pakai bahasa asing? English, misalnya. Membedakan penggunaan kata hari libur yang dalam bahasa inggris bisa menjadi holiday, day off, juga weekend. Hey, salah konteks kalimat sedikit saja, sudah lari kemana-mana artinya. Mohon maaf sebelumnya, saya pun akan bangga pada diri saya sendiri kalau sudah sukses menulis sebuah essay pendek atau mungkin cerita pandek alias short story dalam bahasa inggris tanpa ada kesalahan penggunaan grammar yang sayangnya … masih terlalu sering terjadi dalam kehidupan sok jago menulisnya saya. Mohon kalimat saya selanjutnya dalam sharing panjang ini, nggak usah diambil hati ya, Cukup dipikirkan dan direnungkan saja. Salam hangat.


Tulisan panjang lebar ini saya tulis berdasarkan atas sebuah artikel super simpel namun cukup menohok bagi anak muda serupa saya yang ngakunya bekerja sebagai seorang Copywriter – dengan fakta kalau masih perlu banyak belajar banget – soal penggunaan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ibu – bagi kita si anak bangsa yang cinta tanah air indonesia Raya, pada blog asuhan Mba Milda Ini yang berjudul “Pemartabatan Bahasa Negara Melalui Budaya Literasi”. Kedua, saya mengoceh cukup panjang dalam tulisan ini akibat saya sedikit sebal, mengapa harga Ice Tea di café lebih mahal dibandingkan harga Es Teh Manis di warung makan dekat kosan saya. Mentang-mentang yang satu pakai nama bule dan satunya terdengar merakyat? Segitunyakah perubahan yang akan timbul dengan hanya mengganti nama suatu minuman enak nan segar dengan bahasa asing?

Header Blog Mba Milda Ini

Segitunyakah harga diri dari seorang anak muda yang kalau bicara di depan khalayak, cas cis cus sekali bahasa inggrisnya, namun masih bingung membedakan makna kata unggah dan kata unduh? Hayo … mana yang berarti download, dan mana yang berarti kata upload nih? Lalu … tahukah kamu makna dari kata anjangsana? Kalau wadyabala itu apa? Sebelum membaca tulisan Mba Milda itu, saya cuek lho. Beneran. Eh ternyata, butuh juga untuk tahu. Sebab ternyata Bahasa Indonesia itu kaya akan kata kata yang kenyataannya jarang sekali digunakan oleh pemuda seperti kita. Pahamnya cuma baper, mager, caper. Kecuali kalau pernah baca beberapa buku Tere Liye, pasti deh menemukan beberapa istilah dalam bahasa ibu kita yang jarang digunakan sehari-hari.

Mba Milda Ini

Berkunjung ke blog Mba Milda Ini memberikan saya pencerahan mengenai penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu yang ternyata, sudah dalam tahap, mulai butuh diperhatikan oleh anak anak muda yang kelak akan menjadi seorang ibu dan akan mengajarkan cara bertutur dengan Bahasa Indonesia yang baik ternyata. Nah, saya tersadar kalau mungkin inilah karma yang kita semua terima sebab semasa sekolah – nggak usah bohong deh – ada saja murid yang meremehkan mata pelajaran Bahasa Indonesia bahkan menganggapnya sepele karena toh sudah digunakan sehari-hari. Nah lho, siapa yang dulu begitu? Coba acungkan dulu jari telunjuknyaaa ….

Dalam postingan yang dibuat oleh Mba Milda pada blog-nya mengenai pemartabatan bahasa negara tadi, ternyata bermula dari keresahan Bapak Anies Baswedan yang merasa jika tidak terlalu banyak penambahan jumlah kata dalam Bahasa Indonesia, sementara Indonesia memiliki banyak sekali bahasa daerah … dalam artian, memiliki kekayaan bahasa yang banyak sekali. Eh tapi, dari sebegitu banyaknya Bahasa Indonesia saja, masih ada saja lho orang yang kesulitan untuk menemukan padanan kata dari bahasa asing ke bahasa ibu kita. Ujung-ujungnya, ungkapannya yaaa dengan bahasa asing juga yang diucapkan. Lama lama, ungkapan dalam Bahasa Indonesia selaku bahasa ibu, malah terdengar asing di telinga kita. Sebut saja sebutan untuk gawai yang lebih banyak disebut dengan gadget. Bahkan mc atau master of ceremony saja rasanya lebih familiar dibandingkan dengan pewara. Aduh duh … mungkin kita yang kelak akan menjadi ibu ibu ini, punya kebutuhan untuk mempelajari bahasa ibu kita lagi ya. Belum lagi kenyataan kalau dari beberapa teman saya yang postingannya suka wara wiri di timeline facebook saya, sering sekali semena-mena menuliskan kata dalam bahasa asing dengan cara penulisan yang Indonesia banget. Misalnya yang dimaksut adalah up date, tapi yang ditulis pun jadi apdet. Hmph … saya juga suka gitu sih, biar terkesan lucuk. Heu.

Tetapi ya …. Mungkin sebagai orang-orang yang bekerja pada bidang kreatif atau bidang lain yang berhubungan dengan khalayak ramai, perlu nih untuk perlahan-lahan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik, selaku bahasa ibu kita sendiri, sehingga akan semakin banyak nantinya anak muda yang terbiasa menggunakan dan mengucapkannya ya. Jangan  biarkan bahasa ibu hanya menjadi tugas dari para ibu-ibu untuk dipelajari, karena para generasi milenial seperti kita kurang peduli sama bahasa ibu itu sendiri.

Terima kasih banyak kepada Mba Milda yang sudah membuat tulisan menarik seperti ini. Tulisan yang bisa menjadi renungan – terutama – bagi generasi di usia muda, dan juga saya tentunya.


14 komentar:

  1. Aduuhh Acha, saya jg jadi tertohok dgn postingan ini. Kita itu sibuk ya inginnya belajar bahasa asing padahal bahasa Ibunya pas-pasan yah. Huhuhuh, saya nih Cha, waktu kul dulu nilai MKDU bahasa Indonesia nya malah dapat C, padahal English yg mana jurusan sendiri emang nilainya bisa diatas itu, huaaaa.. Malunya masih ngaku2 cinta bahasa Ibu hikkkss, jd nyesel deh 😥

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat mba. Nggak ada yang terlambat untuk mulai belajar lagi. Aku pun sama mba. Masih harus banyak banyak belajar lagi.

      Hapus
  2. Betul banget. Saya selama ngajar di China agak kesulitan mencari video Youtube untuk pelajaran listening. Penyebabnya adalah...sedikit banget orang Indonesia yang menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam membuat video youtube. Kalo cuma gua-elo sih mending ya, tapi ini banyak yang ngomong campur aduk Bahasa Indo-Inggris-Korea-apalah itu. Cape deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi ... semoga ada anak muda indonesia yang tergerak untuk bikin video tanpa pakai bahasa campur campur ya kak.

      Hapus
  3. terima kasih ya acha atas tulisannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama sama mba milda. Terima kasih banyak juga sudah menginspirasi.

      Hapus
  4. Iya ya bener mbak bahasa Indonesia saat ini lebih sering diabaikan. Generasi milenial juga sering jadi bahasan padahal. Semoga banyak yg tergerak setelah baca artikel ini mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Termasuk aku pun masih harus banyak belajar lagi.

      Hapus
  5. Ulasannya menarik, Mbak. Temanya pun bagus.
    Jujur saja sih, Mbak, aku yang jadi ibu kadang juga bahasanya kacau nih. Etapi mager itu apa sih artinya? Akhir2 ini sering denger tapi males cari. Hihihi.

    Oiya, aku ada cerita juga nih di sekolah. Muridku kelas 1 ada lho yang pernah nyeletuk pakai kata baper. Kaget dong aku. Pas aku tanya artinya apa, eh dia malah cengengesan. Ehm, korban televisi ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi ... mager itu males gerak mba.

      Hahaha ... gawat tuh, korban televisi. Kecil kecil tau nyeletuk baper tapi nggak eungeuh akronim dari apa. Sama kayak adekku juga lho. Hihihi.

      Hapus
  6. Nice post nih, emang ya sebenarnya kalau bukan kita yang melestarikan dan mempopulerkan bahasa Indonesia siapa lagi dong ya. Makanya, aku mulai sekarang lebih suka nulis di blog dengan swafoto ketimbang selfie. Lha kalau unggah dan unduh ini yang belum dipraktekkan dalam kesehariannya. Padahal biar booming harusnya kita juga mempopulerkan ya haha. Aku tahu mbak Milda cuma sebatas pertemanan di IG doang wkwkw. Salam kenal ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga mba Febri. Terima kasih banyak sudah mampir ke blogpost ku.


      Iya ya. Wahhh mba hebat sudah memulai duluan. Semangat terus ya mba.

      Hapus
  7. Kadang ada ortu memang yang bangga banget anaknya justru jeletak/jeletuk pakai bahasa asing. Smtr aku punya teman suaminya orang asing. Anaknya dididik pakai bahasa Indonesia, jawa dan hongaria hahaha...jadi asyik pas ketemu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya mba. Kalau memang pute keturunan indonesia, kenapa nggak kalau si anak lebih cas cis cus bahasa indonesia nya, dibanding bahasa asing. Walaupun nggak dipungkiri kalau bahasa asing pun sama pentingnya untuk dikuasai.

      Hapus