Label

Rabu, 25 Januari 2017

Persiapan Sebelum Menikah yang Perlu Dilakukan Saat Belum Punya Calon Pasangannya

Emang mulai mempersiapkan pernikahan itu sejak kapan sih? Kalau sudah ketemu calon bapak dari anak anakmu kelak ya? Apa sejak hari pertama di-khitbah sama si pujaan hati? Hmmm … dulu sih saya  mikirnya gitu. Eh sampai suatu hari, ada lah ya teman saya yang sudah menikah, nyeletuk kalau ternyata persiapannya dimulai saat single alias jomblo.


(sumebr : freepik.com)

Well, saya mengakui kalau beberapa bulan ke belakang, artikel yang selalu menggoda saya untuk membacanya ya … artikel yang berbau dan nyerempet-nyerempet mengenai menikah dan pernikahan. Hmm … bukan sepenuhnya karena saya sudah merasa berada di usia menikah, alhamdulillah punya partner yang level kerennya kece banget dengan standar cool yang cuma boleh ditetapkan oleh hati dan pikiran saya sendiri tentunya, bukan itu lho. Melainkan bahwa, esensi dari menikah itu sendiri, bagi saya, ternyata nggak selalu sama bagi setiap orang, apalagi disama-samakan dengan berbagai cerita fiksi dalam novel, film, dan ini itu lainnya. Lagipula menikah itu ternyata nggak baik kalau alasannya karena baper, iri sama teman, ngerasa ngenes akibat jomblo kelamaan, capek hati ditanya dan didorong-dorong buat cari pasangan, apalagi karena kesepian atau habis ditinggal nikah sama mantan.

Begini … menikah itu bukan membebankan diri kepada calon pasangan kelak, melainkan hadir sebagai teman bertarung bersama dalam menghadapi kejamnya dunia dengan beraneka warna-warni yang kejadiannya akan selalu berbeda bagi setiap anak manusia. Nikah kemudaan itu ternyata nggak ada, ketuaan pun nggak ada. Terlalu cepat ataupun terlambat juga nggak ada. Istilahnya hanyalah adanya kesempatan dan kesiapan. Duu … kesannya saya sok tau plus sok tua banget ya soal ini? Tetapi semoga tulisan yang merupakan hasil pengalaman, juga sharing dari teman teman yang sudah lebih dulu menikah ini, bisa jadi bahan pembakar semangat kita bersama-sama ya.

Ada beberapa ocehan sederhana yang kemudian menjadi nasihat untuk saya hingga hari ini, dengan bismillah saya melatih dan menyemangati diri saya untuk berjalan mendekati pintu pernikahan dengan berbagai tantangan di dalamnya kelak. Ijinkan saya untuk sedikit membagikan beberapa poin sederhana ini, dan semoga bermanfaat. Btw, sharing ini khusus untuk para perempuan ya.

Latihan Mandiri dan Jaga Komunikasi Dengan Orang Tua
Alasan saya dulu untuk memilih keluar dari rumah orang tua saya selepas kuliah – nggak lama kok, saya baru ngerasain ngekos di luar kota sekitar 3 tahun terakhir – tujuannya agar saya nggak terlalu lama berada dalam rumah yang penuh fasilitas memanjakan dari Mama dan Papa. Saya akhirnya perlu belajar untuk bangun lebih pagi demi menyiapkan sarapan sendiri. Bergerak untuk seenggaknya sebulan sekali muterin supermarket demi membeli kebutuhan bulanan, sendirian pula. Merasakan bagaimana rasanya jatuh sakit, dan bukannya ditemani orang tua tapi malah teman kosan, dan masih banyak hal-hal yang dulu nggak pernah saya lakukan dan putuskan sendiri. Sementara saya pun diajari oleh kehidupan saya yang jauh dari orang tua ini dengan menjaga komunikasi, agar jangan sampai Mama dan Papa merasa kalau saya lupa pada rumah. Bagaimana pun juga saya mengondisikan agar Mama dan Papa saya nggak sering-sering khawatir sama saya, dan yakin kalau saya akan baik-baik saja. Nah, karena setiap orang punya cara dan pilihannya sendiri untuk jadi mandiri dan menjaga komunikasi dengan orang tua, apa sih yang kamu lakukan?

Lakukan Hobi (Semoga Bisa Dijadikan Penghasilan Tambahan)
Beberapa teman saya yang sudah menikah mengaku kesulitan menjalani hobinya, ada pula yang mengaku makin punya banyak waktu menjalani hobi … bahkan menjadi ladang untuk mendapatkan penghasilan, setelah memutuskan untuk berhenti bekerja. Sekarang, tergantung apa dulu nih hobinya. Kalau hobi nonton K-drama atau J-drama, mungkin bisa jadi reviewer atau malah terinspirasi untuk menjual berbagai pernak pernik berbau Korea atau Jepang. Kalau hobinya masak, duh … ini sih lebih keren lagi ya, minimal bisa banyak berkreasi untuk keluarga kecil kelak. Kalau hobi saya sih, hmm … alhamdulillah satu sisi bisa membuat saya punya penghasilan tambahan, dan di sisi lain, membuat saya menemukan banyak teman baru dan tentunya menyenangkan hati. Punya hobi itu wajib sih bagi saya, biar ada sesuatu yang bisa dilakukan sebagai stress healing. Bahkan saya lebih senang pada sosok cowok yang punya hobi tertentu, tapi … gimana pun, pintar-pintar membagi waktu juga perlu nih, biar nggak lupa bersosialisasi dan mem-filter diri sehingga semoga dipertemukan dengan si pasangan di waktu yang tepat. Hasil obrolan saya dengan orang tua dulu sih, ternyata jodoh itu nggak jauh jauh dari diri kita dan berbagai kegiatan yang kita lakukan. Lagipula, jodoh itu kebanyakn bermula dari teman, baik itu teman sekolah, kuliah, kerja, komunitas, bahkan teman dari kenalannya orang tua. Istilahnya, dari teman biasa berevolusi jadi teman hidup. By the way, apa sih hobi kamu?

Pilih Teman yang Bisa Diajak Berkembang
Salah satu hal yang paling saya takuti terjadi pada diri saya, adik-adik saya, dan siapapun yang saya anggap sebagai teman adalah, semoga saja kita menikah bukan karena kenakalan personal, berujung menikah pun sebagai wujud pertanggungjawaban pada keluarga ya. Maka memilih lingkungan pertemanan ada baiknya juga lho. Boleh saja sih, berkenalan dengan banyak orang, tetapi dengan siapa sih saya menghabiskan lebih banyak waktu, maka akan seperti teman teman saya itulah saya. Menurut saya, di bagian ini juga ada andil dari Mama Papa saya sedari saya kecil, termasuk pengalaman-pengalaman dalam pertemanan yang membentuk pribadi saya. Kalau menurut kamu, gimana?

Jalan Jalan
Lihat deh, dunia ini nggak seluas kamar atau kota tempat kamu tinggal. Jadi … memanfaatkan waktu untuk jalan-jalan dengan teman teman terdekat saat statusmu masih single itu perlu. Tambah banyak pengalaman menyenangkan yang bisa kamu bagi untuk calon pasanganmu juga keluarga kecilmu kelak. Sebagai anak perempuan, saya memang hobi jalan jalan sih ya. Bukan sekedar untuk berlibur, tapi juga mendapatkan pengalaman lain dalam perjalanan tadi. Bersyukur saya punya beberapa travelmate yang bisa jadi tempat saya untuk berdiskusi ringan atau sekedar sharing hal hal sederhana saat kami sedang jalan jalan. Sebab jalan jalan itu bukan tentang tempat dan itirerary-nya, melainkan pengalamannya.

Bukan Banyak Belanja Tapi Belajar Mengatur Dana
Saya mendapatkan poin yang satu ini belakangan sekali, setelah mendengarkan ocehan teman-teman saya yang sudah menikah. Jujur saja, saya beneran nggak nyambung sama mereka kalau sudah ngebahas dana ini dan itunya. Mulai dari harga emas yang mereka sarankan untuk jadi sarana investasi kelak setelah menikah, harga udang, harga sepeda anak (kalau mau gampang cari di Elevania kali ya), bahkan tips dan trik menghemat uang bulanan biar tetap bisa perawatan di salon. Eh, ini apa apaan sih ya? Saya beneran blank parah waktu itu. Saya hanya tau, harga ice cream kesukaan saya, harga buku ini itu, film film yang seru buat ditonton, lah sementara mereka? Demi apa, saya mendadak lemot. Ujung-ujungnya, ternyata saya dipetuahi untuk belajar mengatur dana yang saya punya tiap bulannya, sebagai latihan mengatur dan mengelola pendanaan keluarga kelak. Termasuk cerita dari seorang mentor saya di Business English Club yang pernah berpesan kalau perempuan harus latihan bekerja dan mengatur dana, bukan untuk jadi pelit, tapi untuk menjaga kecukupan dana. Perempuan pun sebaiknya tetap bekerja dan punya penghasilan. Dalam artian, nggak harus selalu kerja kantoran ya. Belum lagi, belajar mengatur dana ini pun bagian dari menahan diri untuk lebih rasional kalau belanja. Hufth … ini susahhhh suer deh. Kalau menurut kamu?

Mumpung kita masih jadi perempuan single. Mumpung masih belum dirempongkan dengan latihan memanajemen waktu untuk diri sendiri, keluarga, teman-teman, dan si pasangan, Mumpung hal hal yang kita pikirkan masih yang ringan-ringan saja. Ternyata inilah saatnya belajar untuk nggak jadi baperan, untuk mengembangkan diri sebaik-baiknya, untuk memilah dan memilih teman-teman yang mana tahu nanti bakalan jadi teman hidup ya. Masih banyak mumpung mumpung lainnya yang lebih bisa dilakukan saat masih sendiri lho. Balik lagi, jodoh itu nggak ada yang tahu, dan jodoh itu kedatangannya nggak terduga. So, bersiap siap untuk menyambut kedatangannya itu perlu.

Silakan beri tanggapan, tambahan, atau apa saja di kolom komentar ya. Yuk kita saling berbagi pengalaman bersama-sama. 

46 komentar:

  1. Aku lho setuju dg tulisanmu. Persiapan dimulai dr jomblo. Yg 1, ortuku kok masih sering was2, heran, pdhal aku dah santai. Mgkn ini jg yg msh jd ganjelan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak Ji.
      Semangat Ji. Bismillah lama lama orangtuamu ikut santai juga.

      Hapus
  2. ini sharing untuk perempuan yaa :D

    ngomongin masalah persiapan nih..
    memang benar kata teman mba yang bilang kalau persiapan harus disiapkan bahkan sebelum kita memiliki pasangan atau jomblo

    saya pribadi juga melakukan persiapan sebelum saya dapat pasangan..
    jadi ketika sudah punya pasangan, tidak terlalu banyak persiapan yang harus saya persiapkan :D

    menikah memang perlu banyak persiapan ya mbak...
    gak hanya pihak laki laki yang mempersiapkan
    dari pihak wanita juga ikut mempersiapkan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget.

      Terima kasih banyak sudah mampir ke blog ini.

      Hapus
  3. Wah ini ternyata khusus buat perempuan ya.

    Hobi. Hobi untuk sementara buat gue sih ngeblog. Pernah mau nyobain fotografi. Tapi terkendala biaya.
    asik kali ya dunia fotografi itu.

    Kalo persiapan buat nikah menurut aku belajar menjadi lebih baik aja. Ibadahnya. Sikapnya.
    Kan katanya. Kalo kita baik. Nanti jodoh kita juga baik. Aaamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Nggak juga sih. Kalau garis besar yaaa laki laki juga butuh persiapan sebelum menikah.

      Hapus
  4. Bener banget. Ini yang kadang orang lupa tentang persiapan menikah selagi belum menikah. Banyak yg mikir, "ah punya pacar aja enggak", atau "duh, masih lama, perjalanan masih panjang". Padahal persiapan berumah tangga itu gak semudah mempersiapkan resepsi, yg paling cuma butuh beberapa bulan. Sedangkay untuk berumah tangga, persiapannya lebih ke mental dan perbaikan diri. Kalo selagi muda gaweannya ga produktif (apalagi cewek) gimana nanti mau ngurusin keluarganya. Hmm..
    Nice writing, mbak! Tapi saranku perlu dikasih beberapa ilustrasi atau penyegar mata di sela2 tulisannya biar gak bosen baca tulisan semua hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak sudah baca dan makasih banyak atas sarannya ya. Ditampung banget. :)

      Hapus
  5. aku terharu ngebaca "ngerasain sakit sendirian tanpa orang tua saat ngekos" bisa dibayangkan betapa repotnya klo sakit saat merantau.

    hobi aku ngeblog kak, dan skrng aku mulai mengasah kemampuan dengan mengikuti competisi ngeblog, lumayan bisa menjadi pengalaman dan penghasilan tambahan, aku sekarang mulai belajar produktif usia muda (aku 14 tahun).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat untuk tetap produktif berkarya ya Attar.

      Hapus
  6. Aku saat ini belum nikah, aku setuju kalau persiapan nikah harus dimulai jauh hari biar nantinya gak keteteran, ya salah satunya menyiapkan dana.

    Latihan mandiri juga penting, kan nantinya kalau udah nikah punya keluarga sendiri pisah dari orang tua, kalau masih manja ya jangan nikah dulu deh.

    Nice info mbk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak sudah membaca ya.

      Hapus
  7. Baner mbak, pernikahan itu gak secantik foto fotonya. Karena itu cari pasangan yang harus pas di hati. Meski banyak kurangnya harus belajar bersama saling membantu dan melengkapi.

    Kuncinya sih rela ya. Menikah itu kerelaan. setelah menikah pasti banyak hak yang dibatasi.

    Oleh sebab itu selagi masih single, mencoba untuk memperbanyak ilmu. Terutama tentang kontrol diri dan parenting. supaya gak selalu menjadi egois terhadap orang lain. Hehehe.

    Banyak lah yang harus dipersiapkan, terutama ilmu komunikasi dan menagemen waktu dan uang. Mari belajar mbak..

    BalasHapus
  8. Waw pembahasanya udah mulai sensitif nih wq.

    Masalah pernikahan emang paling sentimen banget,
    Itu kenapa aku masih belum memutuskan untuk menikah,
    padahal hampir tiap hari ada aja yang nanya 'kapan nikah', temen-temenmu udah pada gendong anak tuh !?

    hey boy, nikah itu bukan siapa yang paling cepet.
    nikah itu sebuah kesiapan.
    dan untuk saat ini aku belum siap,

    Yap, aku masih punya banyak resolusi yang belum tercapai sebelum aku menikah,
    salah satunya menjalankan hobi.

    BalasHapus
  9. saya juga setuju mba dengan artikel diatas. hehe makanya saya juga mulai persiapan dari sekarang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat mempersiapkan diri ya.

      Hapus
  10. gue suka poin yang terakhir dari sharing kamu ca.. emang nih perempuan jangan pada banyakin belaja dah mending pada hemat2 ngatur uang buat perisiapan nikah dan after nikah hahaha

    dan perbanyak juga, sharing kek gini nih, biar nambah wawasan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak. Insya Allah bakalan lebih sering sharing lagi.

      Hapus
  11. Kalau saya sih menyiapkaan dana 3bulan sebelum tanggal pernikahan, 3bulan setelah menikah saya sama istri memutuskan untuk ngontrak rumah dulu biar bebas, bebas ngapain aja :D

    Tapi memang permasalahan yang saya alami awal-awal itu ga bisa ngatur keuangan, susah mau irit. Setiap keborosan selalu dijadikan pelajaran biar lebih irit sampai harus pintar ngitung2 harga jika mau beli apa-apa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya banget nih. Pada akhirnya setelah menikah bakalan belajar buat irit juga.

      Hapus
  12. Pembahasan kali ini bikin saya manggut-manggut :D

    Salam,
    Rasya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak sudah mampir. Salam juga, Rasya.

      Hapus
  13. Wah tulisannya "nendang" abis. Jadi bahkan persiapan itu sudah harus dilakukan jauh sebelum menemukan (calon) pasangan ya hehe. Suka di bagian poin jalan-jalannya :)

    omnduut.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hiyap om. Emang jalan jalan itu seru, seperti om kan yaaaa ... hehehe.

      Hapus
  14. keren, haruskah seperti itu bisa jadi juga bisa ya. nice pointnya sambil senyum2 manis

    salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak sudah mampir. Salam juga.

      Hapus
  15. setuju bahwa nikah memang ngga bisa asal. kudu persiapan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyap mba sri. Terima kasih banyak.

      Hapus
  16. saya dulu apa ya persiapannya? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Share dong mba, dulu apa persiapannya. :)

      Hapus
  17. Iyes, setuju banget sama artikel ini, persiapan sebelum pernikahan emang bisa banget ya mbak dilakukan sejak masih single.. Biar makin mandiri dan lancar jaya saat kelak masuk ke pernikahan yang sebenarnya.. Hehehee. Makasi sharingnya ya mbaaak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak juga sudah mampir ya mba. Semoga bermanfaat.

      Hapus
  18. Justru stlh menikah hobiku makin shining soalnya ga kerja dluar.tp memang bener yg ditulis di atas itu harus disiapin dr sebelumnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuiii alhamdulillah setelah menikah mba jadi makin shining. Terima kasih banyak sudah mampir ya.

      Hapus
  19. Eheemm, Hey kamu!! (Baca Jodohku) Cepatlah datang, telah kubaca berulang artikel ini, demi mempersiapkan pernikahan Kita nantinya. haha.

    Ayolah ayolaahh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha aamiin. Semoga jodohmu cepat datang ya.

      Hapus
  20. Mantap... persiapan pernikahan dimulai saat masih jomblo..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak sudah mampir ya mba.

      Hapus
  21. Nice info, intinya memantaskan diri ya Mbak karena yang baik akan dipertemukan semesta... pesan saya persiapan nikah, jangan pakai hutang untuk resepsi lebih baik sederhana tapi honeymoon kemana-mana eaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Bismillah persiapan nikahnya jangan sampai pakai utang.

      Aamiin bisa honeymoon kemana-mana.

      Hapus
  22. bener mbak, pinter-pinter bagi waktu antara hoby dan keluarga. Yup jalan-jalan, itu poin yang paling disuka! Haha. Oke mbak, bermanfaat banget nih tulisannya, aku akan belajar memperbaiki diri, mumpung masih sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat Muthiiii. Semoga semangat dan bahagia selalu ya.

      Hapus
  23. Main ke blog dan tetiba ngeliat tulisan ini, rasanya saya banget :'D. Ada tiga teman yang nikah dalam tiga bulan berturut-turut, dan akhir tahun ini kalau lancar ada tiga teman juga yang akan melahirkan secara berurutan juga. Kayaknya kok ada sesuatu gitu ya :'D, baca tulisan ini jadi ngingetin diri untuk berusaha lebih baik lagi, pasti ada waktunya kok.

    Btw maaf ya Mbak curhat, great article!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Semua akan datang dan terjadi di waktu yang tepat. Tetap semangat ya mba.

      Hapus