Label

Kamis, 22 September 2016

Irawati Hamid : Anak Perempuan Perlu Berpikir Matang Sebelum Menikah

Potingan panjang ini bermula dari sebuah artikel post yang saya temukan di blog milik Mba Irawati Hamid – panggil saja Mba Ira biar akrab ya – seorang blogger yang saat ini menetap di Bau Bau, Pulau Buton. Artikel post-nya yang berjudul ‘Nikah Muda, Wanita, dan Pendidikan’ berhasil membuat saya menemukan greget yang sudah cukup lama saya pendam sendiri. Greget yang bermunculan akibat betapa seringnya saya menemukan artikel berlabel ‘Wedding’ di berbagai media anak muda belakangan ini. Belum lagi, pengalaman saya dulu saat mengambil side job untuk menjadi petarung garda depan bagi akun media sosial milik salah satu lembaga pemerintahan yang mengurusi banget masalah pernikahan dini.

Mau Ngajak Siapa Nih Ke Pelaminan?

Anak perempuan mana sih yang nggak mau menikah? Bahkan waktu saya masih berseragam putih biru dan putih abu-abu saja, karena mungkin keseringan nonton dan baca buku bertema putri-putrian dengan ending happy ever after tuh, saya juga mau banget menikah, memakai gaun cantik dengan sebuket bunga tangan yang harum segar. Seru aja sih, kebayangnya. Tapi apa iya, belum lulus sekolah, punya penghasilan sendiri, saya mau menikah? Terlalu dini rasanya, bagi saya yang dulu masih piyik piyik.

Di artikel yang Mba Ira tulis ini, membahas mengenai pandangannya tentang pernikahan dini yang terjadi di lingkungan sekitar tempatnya dibesarkan. Bahwa banyaknya anak perempuan yang memilih untuk menikah di usia dini akibat berbagai alasan. Mulai dari alasan ekonomi, tuntutan dari lingkungan, sampai dengan alasan cinta-cintaan yang kadang kok seperti ... “Permisi Mba, yakin nanti nikahnya cuma mau beli bahan makanan dan bayar kontrakan pakai cinta doang?”

Header Blog Mba Irawati Hamid

Profil Mba Irawati Hamid

Nah, supaya beberapa pertanyaan yang terlintas dalam pikiran saya tentang pernikahan, khususnya bagi si anak perempuan – termasuk saya dong ya – saya pun melakukan interview singkat dengan Mba Ira yang hobi banget nonton film Bollywood lho. Berikut beberapa pertanyaan yang saya tanyakan pada si ibu cantik beranak satu ini.

1. Menurut Mba, apa aja sih yang sangat perlu dipersiapkan oleh anak perempuan sebelum memutuskan untuk siap menikah?
Sebenarnya saya nggak terlalu mempersoalkan sih Mba, mau umur berapapun seorang wanita menikah karena yang tahu apakah ia sudah siap menikah atau belum itu, adalah dirinya sendiri dan kelak dia juga yang akan menjalani pernikahannya. Tapi menurut saya, alangkah lebih bagusnya bila ia sudah menamatkan pendidikannya, minimal tamat SMA dululah (syukur-syukur bila sudah menyelesaikan kuliahnya) karena bila sudah menikah belum tentu sang suami mengizinkan istrinya untuk sekolah lagi. Di lingkungan saya banyak yang seperti itu Mba. Nikah muda sebelum tamat SMA, ujung-ujungnya putus sekolah dan nggak tamat SMA. Sebagian besar dari mereka akhirnya menyesali keputusan untuk menikah muda yang dulu diambilnya. Dalam tulisan saya “Nikah Muda, Wanita & Pendidikan” saya katakan bahwa, usia pernikahan untuk wanita paling cepat adalah 23 tahun karena menurut saya, di usia segitu wanita sudah dapat mempertanggungjawabkan apapun keputusan yang diambilnya, sudah lulus sekolah, dan organ reproduksinya juga sudah matang.

2. Seberapa perlu taukah seorang anak perempuan tentang perkembangan organ reproduksinya sendiri sebelum siap memutuskan untuk menikah?
Menurut saya perlu banget Mba Acha, karena setelah menikah suami istri tentu menginginkan anak dong?  Sudah seharusnya wanita mengetahui waktu terbaik tubuhnya untuk mengandung dan melahirkan anak-anaknya.

3. Ada ungkapan "nggak baik menolak ajakan menikah dari orang yang pertama kali datang melamar". Nah, bagaimana pandangan Mba tentang ungkapan ini?
Sebenarnya kalo saya sih nggak terlalu percaya dengan mitos ini Mba, namun karena almarhumah  Bibi (kakak mama) dan nenek percaya banget mitos ini, jadi agak susah juga sih mengemukakan pendapat saya pada mereka (syukurnya mama dan papa saya juga nggak percaya). Dan satu hal yang saya syukuri, sebelum tamat kuliah nggak ada satupun laki-laki yang datang melamar ke rumah (ini hal yang disyukuri atau hal yang bikin ngenes yah? Hihihi). Ada alasan mengapa saya nggak percaya dan nggak setuju dengan mitos ini, karena menurut saya wanita juga berhak memilih siapa calon suaminya loh. Jangan mentang-mentang sudah ada yang datang melamar, lalu ho'oh-ho'oh saja. Bagus kalo yang datang melamar itu adalah pemuda baik-baik yang sholeh dan sesuai harapan, tapi gimana kalo yang datang itu adalah lelaki beristri yang ingin meminang wanita single hanya untuk dijadikan istri kedua atau ketiga? Hiii, kan serem banget tuh! Kalo ditanya pandangan saya, jelas saya nggak setuju dengan ungkapan itu.

4. Sewajib apa sih seorang anak perempuan punya pendidikan yang baik?
Menurut saya wajib banget hukumnya wanita memiliki pendidikan yang baik. Bukan hanya pendidikan formal yah, tapi juga pendidikan agama dan etika. Untuk pendidikan formal, menurut saya untuk menjadi seorang istri seenggaknya wanita harus menamatkan pendidikan dasar 12 tahun dulu (minimal tamat SMA). Sedangkan untuk pendidikan agama, seenggaknya wanita tahu rukun-rukun shalat dan minimal tahu mengeja huruf hijaiyah. Sedangkan untuk etika, wanita seenggaknya tahu tindakan baik dan buruk yang nggak mempermalukan diri sendiri dan keluarganya. Menurut saya wanita harus cerdas, karena ia akan menjadi guru bagi anak-anaknya.

5. Menurut Mba, seberapa besar sih pengaruh lingkungan di sekitar si anak perempuan, hingga membantu dalam menimbulkan keputusan untuk menikah?
Lingkungan memberi pengaruh yang besar banget menurut saya Mba, bahkan karena tuntutan dan pengaruh lingkungan ini seorang wanita kadang bisa mengambil keputusan yang paling penting dalam hidupnya seperti “menikah” . Contohnya nih, ada seorang wanita single dewasa berusia 28 tahun. Sang wanita awalnya santai banget dengan kesendiriannya, namun ia tiba-tiba memutuskan menikah dengan lelaki yang salah karena ditanya terus kapan nikah. Padahal kan, seharusnya, dia masih bisa menunggu datangnya lelaki yang lebih baik, namun pengaruh lingkungan membuatnya mengambil keputusan yang salah.

Hmm ... dari interview singkat saya dengan Mba Ira, ada satu benang merah yang saya ambil. Bahwa, anak perempuan perlu menjadi cerdas dan berpikiran matang, sebelum siap menikah. Sebab setelah menikah, si anak perempuan akan berubah menjadi seorang ibu untuk anak-anaknya kelak, dan tentunya juga istri bagi suaminya.

Nah, masih ada banyak lagi artikel menarik yang bisa kamu temukan di blog pribadinya Mba Ira. Silakan mampir saja di sana ya. Siapa tau, kamu menemukan artikel menarik juga yang ingin kamu bahas nantinya.


Btw, kamu mau menikah di usia berapa sih? 

30 komentar:

  1. saya suka banget sama tulisannya Mba Acha :)
    makasih yah sudah mengangkat tema ini *jempol*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak juga Mba Ira. Semoga silaturrahmi kita bisa terus berlanjut dan terjaga ya Mba. Aamiin.

      ^.^

      Hapus
  2. Setuju..jd perempuan harus pinter n luas wawasannya kan nantinya bakalan jd ibu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banget Mba Muna. Karena suatu hari nanti kita akan jadi Ibu, makanya nggak boleh berhenti belajar.

      Hapus
  3. Jaman sekarang susah banget cari suami yg baik. Sebelum nikah mungkin aja keliatannya baik, tapi setelah nikah, bisa aja menjadi tidak setia atau suka berbuat kekerasan. Makanya sebagai seorang laki-laki, gua juga mau menghimbau kepada perempuan-perempuan di luar sana : jangan gantungkan seluruh hidupmu pada satu orang laki-laki. Sebelum nikah, harus kerja dulu, belajar hidup mandiri dan berdikari. Supaya kalo suatu hari pernikahanmu runtuh sekalipun, kamu masih mampu berdiri dengan kakimu sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. YOSH!!!
      Bener banget Bang. Bagaimanapun perempuan itu perlu untuk minimal menjadi mandiri dulu sebelum memnutuskan untuk menikah. Makanya, perempuan itu perlu untuk menjadi cerdas, untuk dirinya, keluarganya, pasangannya, dan juga anak-anaknya.

      Hapus
  4. Dulu saya cita-cita banget pengen nikah muda Mbak, dan alhamdulillah nikah di usia 21. Btwe saya juga sudah baca artikelnya Mbak Ira yang tentang nikah muda itu. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, Mba Nurin nikah muda. Tapi Mba Nurin tetap keren dari lama. :)

      Hapus
  5. kalo sholeh kayaknya jangan di tolak mbak hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya Angki. Kalo sholeh itu susah dicari soalnya.

      Hapus
  6. jawaban mbak ira mewakili suara hati saya banget *halaah...dan saya setuju dengan pernyataan wanita harus cerdas dan berwawasan karena menurut saya jadi istri sekaligus ibu bukan perkara mudah :)

    diniratnadewi.blogspot.co.id

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba. Jadi istri emang bukan perkara mudah. Nggak cuma jadi partner buat suami, jadi ibu, tapi perlu juga untuk tetap jadi siri sendiri.

      Hapus
  7. Aduh, bahas nikah ini :'D
    Sebagai anak yang baru lulus SMK, waktu pas masih sekolah juga rasanya pengen gitu nikah muda. Apa ya, terobsesi aja. Sampai dibahas ke blog, sosmed ahaha. Terus suatu hari akhirnya ada cowo yang ngajak serius padahal baru kenal beberapa hari, aku bilang ke dia terlalu cepat untuk memutuskan. Akhirnya, dia bilang ke aku nggak akan ngejar lagi.
    Jadi kapok ngomongin tentang diri sendiri untuk menikah.
    .
    Mm, menurut Mbak Ira ini minimal menikah seusai tamat SMA. Iya ya bener juga, kadang lingkungan juga mendukung untuk cepat nikah atau tidak. Jadi inget, pas aku masih SMP, teman SD-ku udah ada yang nikah. Pas lulus, udah punya 2 anak. Mm. Tapi berbanding terbalik sama di Jepang. Mereka saking berambisi dan sibuk dengan pekerjaan, menikahnya rata-rata umur 30th-an.
    .
    Iya benar, sebelum nikah harus siapin bekalnya. Mental dan wawasan untuk keluarga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Risak, beda banget sama kulturnya masyarakat Jepang modern yang katanya agak nggak terbaru buru buru ngambil keputusan untuk menikah ya.

      Hapus
  8. Balasan
    1. Iya ya Mba Milda. Mba juga sama kerennya. :)

      Hapus
  9. Iya nih , sekarang kayaknya emang lagi musiman nikah muda ya ? apa emang pada janjian ? HA HA HA , gue rasa gak mungkin deh . Tapi , ada benernya juga , dari berita yang gue denger , emang sih nikah paling cepet itu minimal umur 23 tahun . Kalo gue sih belum mau membahas ke nikah dulu , masih lama gue nya jadi masih mikirin pendidikan dulu.

    By the way , kalo nyari pasangan nih , kalau bisa nyari yang taat pada agama . Biasanya kalo udah begitu , pasti udah mencerminkan ke semuanya seperti akhlak , perilaku , kedisiplinan , dll .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Arjuna. Seseorang yang taat sama agama, merefleksikan ketaatannya, tapi nggak fanatik. :)

      Hapus
  10. Wah masalah nikah muda ya. Dulu aku pingin nikah usia 23. Tapi belum rejeki deh, soalnya sampai sekarang aku belum nikah. Hahaha mungkin Allah emang belum kasih jodoh yang tepat karena aku masih sibuk mempekuat diri sendiri dulu, berusaha mandiri dulu.

    Nikah muda itu baik kok, asal bisa bertanggung jawab. Nikah pada usia tua juga gak salah, namanya rejeki siapa yang tau. Kesiapan orang beda beda. Dan prioritas juga. Banyak factor lah. panjang dijabarin.

    Tapi hampir semuanya sudah di bahas artikel di atas. Nanti deh aku mampir di Blognya mbak ira.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaaahhhh .... semoga disegerakan untuk bertemu jodohnya ya Mba Vera. Aamiin.

      Hapus
  11. Setuju. Nikah muda juga harus diimbangi dengan pemikiran yang matang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyap. Karena kematangan pola pikir juga nggak bergantung sama usia. Etapi perkembangan fisik juga perlu diperhatikan kan Mba. :)

      Hapus
  12. Iyah Cha, menikah itu gak perlu buru2 hanya karena udah capek ditanya "kapan?", menikah ketika benar2 kita udah siap dan punya bekal yang cukup, meski setelahnya pun gak boleh puas dengan ilmu yg kita punya harus mau terus belajar. Krna perempuan (Ibu) adalah guru pertama bagi anak2nya kelak. *tsaaahh,bahasakuuu hihihih.

    Saya kemarin nikah di usia 26, Cha. Klo Acha rencananya di usia berapa? #oupsss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaaakkk aku kapan ya. Bismillah aku disegerakan untuk menikah sama Allah di waktu yang tepat dan bersama seseorang yang tepat pula.

      Iya ya Mba. Tapi kalau udah ketemu seseorang yang dirasa tepat, sebaiknya disegerakan ya Mba.
      *malah baper

      Hapus
  13. Nikah muda masih banyak banget kejadian di daerah asalku... :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya Mba. Berarti masih banyak kasusnya di masyarakat kita Mba.

      Hapus
  14. rencana menikah usia 25-27 tahun aja. Karena umur 21 baru menamatkan kuliah, jadi bisa nabung beberapa tahun untuk melamar. Karena pacaran yang udah terbilang lama, aku jadi bosan pacaran terus, maunya halal dan bisa pulang ke rumah berdua.

    Tapi, minimal aku udah punya pekerjaan tetap.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ciyeeee Wahyu. Aamiin ya rabbal alamin. Semoga cita-citamu segera terwujud ya.

      Semangat!

      Hapus
  15. Aku jg mikir buat nggak main ho oh aja kalo ada yg nglamar. tetep milih, hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoih Ji. Soalnya kalo bisa, buat seumur hidup lho. Hihihi ....

      Hapus