Label

Minggu, 03 April 2016

Perjalanan ke Masa Lalu di Museum Wayang Kota Tua Jakarta

Museum Wayang Kota Tua Jakarta

Ini kali kedua, batin saya saat berdiri di depan pintu masuk Museum Wayang yang berada di kawasan Kota Tua Jakarta. Saya teringat dua sahabat saya semasa kuliah, Kawaii Angels, begitulah dulu kami menamakan diri kami, pernah datang kemari untuk menghilangkan kepenatan akibat jadwal kuliah kami yang padat. Rasanya baru kemarin, saya dan mereka ribut-ribut untuk masuk ke dalam, dan sedikit disiksa oleh larangan mengambil gambar di museum ini. Beruntung, sekarang sudah nggak lagi. Saat menemukan pintu masuk museum, saya membayangkan Ina dan juga Icha berdiri di samping saya, seperti beberapa tahun lalu. Ah, Ina, Icha, sudah lama ya kita nggak traveling bertiga lagi. Kangen banget, rasanya.



Acha, Rara, dan Kak Rina

Tapi kali ini, saya datang lagi dengan dua orang sahabat saya yang lain ... Rara dan Kak Rina. Sahabat yang dipertemukan karena kami bertetangga, teman satu kosan yang seringnya ngumpul bareng, makan dan masak bareng, termasuk ngegalau bareng di mall. Langkah pertama saya, disambut oleh suara gamelan yang lamat, berbaur dengan udara Jakarta yang ikut masuk ke dalam ruang depan museum sehingga membuat saya tetap merasa gerah. Petugas ticketing melayani kami dengan terburu-buru, sebab hari itu, banyak juga pengunjung yang sudah menunggu gilirannya untuk masuk. Dalam sepersekian detik, kami memutuskan untuk nggak berlama-lama di dalam.

Pertunjukan Gamelan

Museum Wayang yang berada di Kawasan Kota Tua Jakarta ini sering sekali menggelar pertunjukan gamelan, sehingga ada ruangan tersendiri untuk melihat pertunjukkannya. Biasanya pertunjukkan gamelan ini bisa kamu nikmati di akhir pekan, di pagi hingga siang hari. Mendengarkan alunan gamelan yang ritmis, mungkin akan membuat orang-orang yang penakut seperti saya ini ... merinding. Namun ketika saya membayangkan kalau saya sedang berada di keraton Jogja, perasaan saya jadi lebih baik.

Ada banyak wayang dan boneka-boneka khas dari berbagai negara yang menjadi koleksi Museum Wayang ini, bahkan koleksi topeng juga ada. Mulai dari yang berukuran kecil, hingga besar. Semuanya dipajang dalam lemari kaca, sehingga saya bisa mengaguminya dari dekat. Tapi memang nggak bisa dipungkiri, sesekali saya merasa merinding dan memilih untuk penasaran sebentar lalu segera menjauh.

Huda-Huda

Misalnya Huda-Huda dari Sumatra Utara. Boneka ini memiliki filosofi sebagai benda untuk memberikan penghormatan terakhir, sebagai ucapan terima kasih dan rasa syukur kepada Tuhan, kepada oragtua yang telah berhasil melahirkan generani penerus keturunan, dan dipersembahkan kepada anak cucu serta menantu dari seseorang yang meninggal. Warnanya yang cerah ternyata memberikan kesan sedih dan kehilangan yang mendalam.

Silsilah Wayang Purwa

Wayang Purwa 

Selanjutnya, ada pula papan Silsilah Wayang Purwa. Wayang ini merupakan budaya wayang kulit yang dianggap sebagai budaya wayang kulit tertua, bahkan sudah tertulis sejarah keberadaannya pada sebuah prasasti yang berasal dari jaman Erlangga, sekitar abad ke-11. Wayang ini biasanya mengisahkan cerita Ramayana, Mahabaratha, dan para Pandji yang berkembang di tanah Jawa.

Boneka Rusia 

Selanjutnya yang menggoda saya adalah sebuah Boneka Rusia yang terbuat dari kayu dan menggambarkan tentang masyarakat Rusia. Kebetulan Boneka Rusia yang dipajang di Museum wayang ini merupakan hasil pemberian yang kemudian dipajang sejak tahun 2009. Boneka berkulit putih ini mengingatkan saya pada diri saya sendiri. Bukannya saya rasis ya, tapi memang kita semua diciptakan Tuhan dalam rupa yang berbeda-beda untuk saling mengenal.

Wayang Thithi

Adalagi Wayang Kulit Cina Jawa atau yang biasa dikenal dengan Wayang Thithi. Melambangkan percampuran budaya Tionghoa dan Jawa, sehingga menimbulkan keberagaman budaya di Indonesia, terutama di tanah Jawa. Kata ‘thithi’ sendiri berasal dari suara alat musik yang digunakan dalam pertunjukkan wayang ini. Sementara lakon yang biasanya dimainkan berupa berbagai cerita dari negeri Tiongkok.

Topeng

Saya membayangkan bagaimana jaman dahulu sebelum ada televisi, apalagi smartphone dan juga internet sehingga kita bisa dengan mudah menemukan hiburan, wayang dan boneka-boneka ini digunakan. Belum lagi, boneka yang sengaja dibuat untuk upacara keagamaan. Btw, kamu juga bisa membeli cinderamata khas di Museum Wayang ini. Silakan ... jika kamu ingin menghadiahkan hiasan yang unik untuk orang-orang tersayangmu.

Cinderamata Museum Wayang Kota Tua Jakarta


Cukup kunjungan kali ini saya simpan sebagai pengetahuan saya tentang budaya Indonesia. Perjalanan saya ke masa lalu yang ... sebenarnya lebih kepada mengenang keseruan masa kuliah saya dengan Kawaii Angels, meninggalkan senyum simpul yang kemudian saya bawa pulang. Semoga nantinya waktu dan kesempatan membuat Kawaii Angels bisa bertemu dan traveling bersama lagi. 

26 komentar:

  1. Sebenernya setiap ke kota tua pengen banget mampir ke museum wayang... Tapi ketika disambut di depan udah ada ondel-ondel gue keburu kabur. Hahaha gue phobia ondel2 soalnya... iyuh...

    Baguslah karena tulisan ini gue jadi tahu gimana isi dan sejarah museum wayang, jadi gak harus masuk ke dalam sana... hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walah ... phobia ondel-ondel? Hihihi ...

      Sama sama Erni. Semoga infonya bermanfaat ya.

      Hapus
  2. Hiks belum pernah ke kota tua padahal pengin banget :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk Teh, kapan kapan ke Kota Tua bareng.

      Hapus
  3. What cha??? Kawaii Angels? Hahahaha. Dirimu ada-ada sajs membuat sebuah nama gitu. Tapi pasti enaklah jaln ke museum gitu, misa melihat masa laku itu gimana. Peninggalan nya juga bisa tau.

    Yang Wayang Cina sama jawa itu lucu ya cha. Terus, kenapa bonek Rusia itu dikasi untuk dipanjang di situ? Hem... Menimbulkan pertanyaan besar ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. What Kawai Angels?
      Yang ngomong ngasih nama dirinya sendiri (((pangeran wortel))) XD

      Hapus
    2. To : Pangeran Wortel a.k.a Heru

      Wkwkwkkwk ... lha terus kenapa kamu namanya Pangeran Wortel? *plak

      Iya iya, yang wayang thithi unik emang. Hemmm kalo dipikir, kenapa bisa dikasihin boneka rusia, mungkin biar dipajang. Tapi ini boneka, cantik tapi rada horor gitu buat aku. Kebayang Annabelle sih sebenarnya.

      Hapus
    3. To : Bang Edotz

      Hahaha ... yoiiiiihhhh. Tossss.

      Hapus
  4. Ya gue ngerti gimana rasanya berdiri di tempat dimana kita pernah asik2an bareng temen disitu. Apalagi pas masa kuliah.. gue juga kadang kangen. Banget malah.

    Btw, jalan2nya penuh manfaat banget.. ke museum wayang kota tua, ngeliat wayang, ngeliat orang ngeliat wayang sampai ngeliatin orang yang ngeliatin orang liat wayang..

    Btw, tiket masuknya berapa tuh? Pertunjukan gamelannya banyak yg nonton? Ya secara orang Jakarta kebanyakan lebih suka nonton youtube sama vlog dibanding nonton wayang.. -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha ... Bang Edotz paham banget kalo anak anak jeketi doyan mantengin YouTube sama vlog.

      Tiket masuknya sekitar 5 ribu rupiah aja kok. Nggak terlalu mahal khann?

      Iya banget Bang. Jaman kuliah, jaman jamannya duit jajan terbatas. Ketika nge-mall ala ala hedon nggak mampu, akhirnya nyangkut di museum aja.

      Hapus
  5. Kadang jalan-jalan ke museum itu asik juga sih, kita bisa menikmati cerita sejarah-sejarah masa lampau yang asik untuk dipahami. Kayak contohnya di museum wayang ini. Kalian bisa melihat jenis-jenis wayang yang dahulu menjadi hiburan para rakyat sebelum teknologi canggih seperti sekarang ini.

    Kalau denger suara gamelan gitu aku juga bisa merinding. Apalagi ditambah suasana museum yang sedikit klasik gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya Maz. Sama. Selama di museum ya, sayup sayup suara gamelan dari ruang pertunjukannya bikin rada deg degan. Tapi pas udah main ke ruang pertunjukan, biasa aja,cenderung terpukau sama pemainnya yang udah mulai ngggak muda tapi ngatur nada, suara sindennya, kompak deh. Ritmis pokoknya.

      Hapus
  6. Gue belum pernah maen ke kota tua... *Hiksss...
    Tapi setelah makin sering di review di tv da blog. Gue makin pengen aja kesana. Suasananya itu lho... ^_^

    Wah, ada pertunjukan gamelan. Bersyukur bgt tuh bisa nyaksiin pertunjukan.
    Lho kok merinding? Emang kenapa ya???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe ... Aamiin ya Banyol, semoga kamu bisa segera menginjakkan kaki di Kota Tua Jakarta ya Nyol.

      Hemmm, emang dasarnya aku penakut dan gampang kebawa suasana gara gara kalo diajak nonton film horor, aku nya mau aja. Jadilah, tiap ada suara suara atau suasana yang agak spooky, aku bawaannya udah scary duluan.

      Hapus
  7. kawai angels? jangan2 kalian saudaranya charlie angels, hahahaha
    kalau ngomongin wayang, di desaku adat pewayangan udah mulai surut, cuman masih dilestarikan dan jadi hiburan masyarakat tiap 1 suro, hajatan kayak sunatan dsb. cuman aku sendiri belum pernah nonton langsung, soalnya acara nonton wayang itu dari malam sampe pagi gitu. g kuat cyiiiiinn... mending bobo' cantik, hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahhhh aku jadi penasaran. Apa rasanya ya, nonton pertunjukkan wayang semalam suntuk. Duh, penasaran banget deh. Emang desamu dimana sih Pit?

      Hahaha ... kawaii angels inspirasinya entah dari mana. Aku sama temen temenku dulu, asal nyeletuk aja.

      Hapus
  8. Dua kali ke Kota Tua, dan gak masuk ke museumnya. Baca ini jadi nyesel :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduw Teteh. Hihihi ....

      Kedatangan yang ketiga, wajib masuk ya Teh, biar nggak nyesel lagi. ^.~

      Hapus
  9. baca tulisan ini jadi pengen berkunjung ke museum ini, semoga suatu saat bisa kesana, amin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya rabbal alamin. Semoga bisa segera berkunjung ke Museum Wayang di Kota Tua Jakarta ya. Didoakan.

      Hapus
  10. Saya kalau masuk ke tempat yang agak suram jadi takut

    BalasHapus
  11. Waduh saya belum penah tuh ke museum wayang kota tua jakarta, harus di coba nihh soalnya lihat foto2 diatas kelihatnnya seru sekali :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bisa segera mampir ke Museum Wayang di Kota Tua Jakarta ya. Didoakan. Aamiin.

      Hapus