Label

Rabu, 02 Desember 2015

Pluviophile Petrichor Desember

Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi di balik awan hitam
Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini
Menanti seperti pelangi setia menunggu hujan reda
Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember
Di bulan Desember
-Efek Rumah Kaca-




www.mentalhealthy.co.uk

Hujan bagi saya adalah candu. Entah ada kandungan kimia apa yang dibawa oleh tetesan air langitnya. Airnya yang menderas, beramai-ramai membasahi bumi yang kekeringan, seperti hati saya saat ini, mungkin. Hujan memberikan kebahagiaan lain yang membiarkan saya dengan gembira, berlama-lama menengadahkan wajah ke langit dengan mata terpejam. Apakah saya mengidap Pluviophile? Bisa jadi. Sebab hujan bagi saya punya dua rasa, luka dan euforia.
              
Petrichor, aroma darah dewa hujan yang tercecer di atas tanah menurut bangsa Yunani – sebut saja bau tanah basah ya – pandai sekali menarik saya ke masa lalu. Selalu saja begitu.
              
Ada banyak hal yang mampir dalam ingatan saya setiap hujan datang. Berkumpul menjadi poin-poin yang semakin dewasa, saya kelompokkan dan definisikan se-egois da se-sok tahu-nya saya. Pertama, hujan dan petrichor adalah aroma kematian., luka dari duka abadi. Aroma yang membawa saya pada simfoni elegi, persis yang dinyanyikan Efek Rumah Kaca dalam lagunya, Desember. Saya teringat seorang teman saya yang meninggal dunia akibat Demam Berdarah Dengue saat SMP dulu. Kala itu, di suatu senja mendung, saya dan teman seangkatan saya beramai-ramai mengantarkan dia ke pembaringan terakhirnya. Itu pertama kalinya saya mengunjungi pemakaman umum. Takut. Sedih, tapi bingung, apa alasan valid saya harus ikut menangis, meraung. Hasilnya, saya hanya diam saja. Di bawah payung, saya meneteskan air mata. Seperti bertahun sebelum itu, saat Ua Yunus saya dipanggil Sang Pemilik Hidup untuk pulang. Entah bagaimana ya, setiap usai upacara pemakaman, rasanya sering sekali hujan datang membubarkan kerumunan pelayat.

Kedua, hujan adalah rumah bagi saya, baik dalam artian nyata maupun rasa. Tempat saya dibesarkan di Bogor itu, hingga kini masih saja sering bocor. Atap rumah tua milik kedua orang tua saya sudah cukup membuat mereka bingung harus menambal sisi yang mana lagi. Setiap harus mengeringkan air hujan yang rembes dari sudut dapur, saya riang betul, sebab punya alasan untuk bermain air di usia saya yang bukan bocah lagi. Ada kenyamanan tersendiri, juga imajinasi saya yang berstrategi seperti menyusun impian-impian baru yang ingin saya capai demi diri saya sendiri. Kalau kebocoran itu nggak muncul, saya senang duduk-duduk sendirian di teras, menikmati suara deras air yang jatuh dari plafon ke jalanan kecil berbatu di depan rumah.

Ketiga, hujan bagi saya selalu membawa impian masa depan. Bagaimana bisa? Sewaktu kecil, saat hujan turun deras sekali, Nenek akan membuatkan saya banyak sekali perahu kertas untuk saya hanyutnya di parit besar, di depan rumah saya saat di Lombok dulu. Lalu kelakuan super aneh saya aku muncul. Iseng menuliskan cita-cita saya di perahu kertas yang saya hanyutkan, sembari tersenyum girang menatap hujan yang semakin menderas. Nenek akan diam saja, melirik kelakuan saya sembari tersenyum geli. Belum lagi impian saya sedari kecil, ingin menjadi bintang terang, Akarui (terang, bersih, bersinar). Itulah mengapa, bagi saya hujan adalah euforia, perayaan untuk impian-impian yang akan datang ke kehidupan saya.
           
Mungkin benar kalau hujan senang membawa elegi. Sehingga petrichor adalah obat penawarnya.  Ada kelegaan yang mampir setiap saya mengendus aromanya. Tenang, ikhlas, seolah saya terlepas dari jeratan semu. Yah ... mungkin inilah cikal bakal dari munculnya pepatah, selalu ada pelangi setelah hujan datang ya. Selalu ada aroma petrichor untuk seorang pluviophile, di bulan Desember yang basah. Bulan dimana saya senang mengintrospeksi diri dan menetapkan impian-impian baru sebelum Januari.
               
Ya sudahlah, kamu bisa abaikan saja ocehan panjang saya. Tapi ... bagaimana dengan bulan Desember-mu? Hari-hari hujanmu? Apa kamu juga pluviophile seperti saya? Lalu perasaan seperti apa yang selalu hujan bawa untukmu? 

20 komentar:

  1. Hujan bagiku hanya akan memenculkan kenangan dan membuat kisah baru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mba. Banyak cerita tentang hujan dalam kehidupan kita yang punya efek berbeda ya. :)

      Hapus
  2. Dari judulnya, gue udah bingung,"apaan nih ?" Ternyata lagi baper toh~

    BalasHapus
  3. Aku malah takut kalo hujan. Bukan takut sama airnya, tapi takut petir.pokoknya enggak tenang hawanya kalo ujan. Nggak bisa kemana-mana juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, berarti kamu penyuka hari yang cerah dong ya :)

      Hapus
  4. Jika ada pertanyaan "Lalu perasaan seperti apa yang selalu hujan bawa untukmu? "

    Aku akan menjawab lirih dengan peluh hasil ketidakjelasan. Hujan, saat atau waktu di mana mata, hati, pikiranku ditenangkan. Hujan adalah keadaan yang telah mengoyak-ngoyak kesepian dalam diri. Lagi-lagi, Hujan adalah pemutar waktu yang hebat. Aromanya yang khas, selalu membuat debut pertanyaan yang sejatinya hanya aku yang perasa. Benar katamu, hujan mengusik banyak hal di masa lalu.

    "Ehm, kok tumben gue bisa nulis begitu?" hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kata-katamu manis banget Mas Heru.

      Hapus
  5. Di kota tempat saya tinggal, hujan nggak pernah turun. Ketika di kota-kota lain berlomba ngetwit tentang hujan, kota saya malah kering-kerontang.

    Begitu hujan turun, kami malah bertanya-tanya. Siapa pawang hujannya?

    BalasHapus
  6. Lagu pertama Efek Rumah Kaca yang gue tahu dan langsung suka: Desember. Cocok banget buat pembuka tulisan ini. :))

    Hm, jadi anak Bogor udah terbiasa banget dengan hujan, ya?
    Nah, iya. Makanya sering disebut hujan orang meninggal. Ckck.

    Oiya, misalnya mau move on, jangan memandangi jendela ketika hujan sambil mengingat mantan, Cha. :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh duh Yoga, kalimat terakhirmu 'jangan memandangi jendela ketika hujan sambil mengingat mantan' dan aku kembali baper sodara sodara

      Hapus
  7. Setiap hujan, sejujurnya aku pengen main perahu kertas lagi di got depan rumah, tapi gak ada teman.

    Bagiku hujan juga membangkitkan kenangan. Ga tau darimana timbulnya ingatan itu, namun memang selalu terjadi begitu saja ketika bunyi tik tik yang ditimbulkan dari tabrakan rintik hujan dan seng - seng rumah. Ah, sekarang hujan sedang turun, selayaknya aku mulai tidur.

    Komen macam apa ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduw kalo main perahu kertasnya malam malam, serem juga mas. Hehehe.

      Makasih sudah mampir ke blogku ya Mas.

      Hapus
  8. beberapa istilah yang agak susah diserap olehku.istilah asing banget. aduh ribet sebenarnya sih, tapi kalu udah biasa sih ngg apa apa sih.

    hujan adalah berkah dari langit yang mutlak dari tuhan. tik tik rintik hujan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget.

      Btw, makasih sudah mampir ke blogku ya.

      Hapus
  9. Aroma petrichor memang membius ya mbak. Tapi tahun-tahun belakangan ini aku malah deg-degan klo hujan. Takut klo tiba-tiba ada petir gede menyambar terus bikin power supply (dan komponen-komponen komputer lain) mendadak rusak kena tegangan tinggi >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduw iya juga tuh Mas, temennya hujan kan petir, si pemeran antagonisnya.

      Hapus
  10. saya suka hujan, tp pernah saya takut hujan. Skrg udah suka lagi bahkan beberapa kali nulis tentang hujan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuih, hujan malah jadi inspirasi ya. Kerennn.

      Hapus