Label

Kamis, 20 Agustus 2015

Melewatkan Senja di Masjid Istiqlal Jakarta

             
Beberapa hari lalu, saya menemukan foto Masjid Istiklal Indonesia di account Instagram milik Mbak Claudia Kaunang, dan ... saya baru teringat kalau saya belum menuliskan kisah kunjungan saya ke Masjid Istiqlal seusai Idul Fitri kemarin. Sedikit cerita saja, kalau di tanah Sarajevo sana, juga ada masjid bernama sama, Istiklal Indonesia. Semoga kapan kapan kita bisa mengunjunginya ya.



Baiklah, kembali ke cerita saya mengunjungi Masjid istiqlal yang berada di Jl. Taman Wijaya Kusuma, Jakarta Pusat, ini. Sebenarnya, untuk mengunjungi masjid yang diarsiteki oleh Frederich Silaban ini sangatlah mudah. Jika memilih naik kereta, bisa turun di Stasiun Juanda, lalu cukup jalan kaki saja. Begitupula jika naik busway, bisa turun di Halte Masjid Istiqlal. Mudah sekali menjangkau masjid yang letaknya berdekatan dengan Tugu Monas ini. Tetapi sore itu, saya, Puput, dan juga Nurul memilih menumpang taksi demi bisa berlama-lama menikmati sore di bawah kubah Istiqlal.
              
Memasuki Masjid Istiqlal melalui pintu Al-Fattah yang ramai oleh pengunjung plus para ibu-ibu yang menjajakan plastik hitam dengan harga seikhlasnya, membuat saya menghela napas. Nggak  masalah sebenarnya, hanya saja, bisakah disediakan tempaat khusus untuk menjajakan dagangan mereka sehingga nggak mengekori pengunjung seolah memaksa? Oke, kesan pertama saat tiba saya abaikan. Memasuki masjid terbesar se-Asia Tenggara dengan nama mahsyurnya yang sampai-sampai menjadi salah satu tempat tujuan turis muslim jika mengunjungi Jakarta ini, saya pun disambut lobi yang secara nggak langsung mengarahkan pengunjung ke tempat penitipan sepatu.  Dari sinilah saya mulai merasa miris. Menitipkan sepatu saja dimintai sedekah seikhlasnya. Kenapa nggak  diberlakukan tarif penitipan sepatu saja? Lebih menyenangkan, kan? Jangan sampai, saat menitipkan sepatu harus bayar, dan mau mengambilnya lagi pun begitu juga.
              
Kemudian saat memasuki tempat wudhu wanita. Saya makin dibuat sedih karena lantainya yang licin, seolah nggak sempat disikat oleh petugasnya akibat pengunjung yang membludak. Sedih rasanya, menemukan tempat ibadah yang berhasil menjadi icon kota Jakarta seperti begitu. Ditambah, petugasnya yang meminta sedekah lagi saat kami selesai berwudhu. Seketika saya terpikir, memangnya para petugas yang bekerja di masjid ini nggak diberi gaji? Atau karena gaji mereka terlalu kecil makanya sampai terpaksa berlaku seperti itu? Sayang sekali, tindakan-tindakan begitu yang membuat saya – atau bisa jadi pengunjung lain – merasa nggak nyaman dan nggak berniat datang kembali.
              
Saya dan kedua sahabat saya memutuskan untuk bersantai di ruang utama, menikmati cantiknya kubah masjid yang keperakan, mimbarnya yang sederhana, juga ornamen jam besarnya yang klasik. Bersyukur di bagian tengah masjid, keadaannya selalu bersih, terawat, dan nyaman.
 
Mimbar Masjid Istiqlal

Jam Klasik di Sudut Bagian Tengah Masjid
              
Sembari menunggu waktu magrib, kami memutuskan untuk berkeliling. Menikmati matahari senja yang masuk melalui kisi-kisi dinding di lantai dua, tepat di belakang mimbar yang jarang dikunjungi pengunjung, seolah membawa saya ke tempat lain. Warna oranye matahari Jakarta terpantul di dinding dan memunculkan suasana lorong yang bermandikan cahaya senja.
 
Puput dan Nurul di Tengah Lorong Lantai Dua

Kubah Masjid Istiqlal
              
Kemudian kami bermain sebentar di halaman dalam masjid. Dari sini, kami bisa menikmati langit Jakarta yang mulai memerah di bawah puncak Monas. Sorot matahari yang mulai melembut, bersaing dengan lampu-lampu redup yang mulai dinyalakan oleh petugas masjid.

Monas dari Halaman Dalam Masjid Istiqlal

Lampu-Lampu Mulai Dinyalakan
              
Suasana shalat magrib yang khusuk, membuat saya, Puput, juga Nurul, rasanya masih ingin berlama-lama. Sayangnya, kami punya destinasi lain yang ingin kami kunjungi malam itu. Maka ... kami memuaskan mata kami dengan berjalan santai di taman depan Masjid Istiqlal, menikmati kemegahannya dari luar.

Bermain Buluh Terbang di Taman Masjid Istiqlal

Masjid Istiqlal Saat Malam 
              
Seketika sebuah perasaan sedih mampir. Mungkin benar kata orang-orang, kalau sesuatu yang megah nggak selalu menyenangkan atau mendamaikan di dalamnya. Tetapi segala sesuatu yang megah, selalu indah jika dilihat dari luar, dengan memberi jarak cukup, sehingga mata yang menatap si objek, menjadi terpukau.
               

               

               
               


10 komentar:

  1. Ah jadi kangen main kesini. Megah emang ini bangunan. Kalau lagi senja kayanya lebih keren ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Iank. Andaikan ke Istiqlal sendirian, enak kali ya ngelamun ngelamun cantik di halaman dalamnya sambil liatin langit.

      Hapus
  2. selfi nya pasti g ketinggalan ya mbak hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe iya dong Mas. Tapi selfie-nya jadi koleksi pribadi aja.

      Hapus
  3. Megah bgt ya cha
    Cuma sayang byk pengemisnya bukan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya megah banget. Hmm kalo yang jualan plastik dan sewain mukena masuk di daftar pengemis ga ya? Sedih aja aku Mba, tempat ibadah semegah ini banyak pengemisnya.

      Hapus
  4. Balasan
    1. Iyaaa klasik unik ya. :)

      Btw makasih udah mampir ya.

      Hapus
  5. mudah-mudahan nanti aku bisa jalan-jalan ke sini juga. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semoga cepat kesampean yaaaa.

      Hapus