Label

Sabtu, 18 Juli 2015

Turis Romantis

                Libur lebaran kali ini, saya nggak bisa traveling karena terserang tiphus. Hmm ... positifnya, mungkin inilah kesempatan saya berada di rumah lebih lama dan bermanja-manja sepanjang waktu sama Mama Papa sampai jatah cuti bersama berakhir. Beruntungnya lagi, tayangan di televisi setiap liburan begini, asik juga. Ada beberapa film bioskop yang ditayangkan oleh stasiun televisi swasta untuk membuat orang-orang yang memilih diam di rumah sepanjang libur seperti saya, merasa betah memandangi tabung kaca berlama-lama. Seperti yang stasiun ANTV lakukan dengan menghadirkan film Turis Romantis.

wowkeren.com
                Memang dasarnya karena Bollywood sedang nge-trend di Indonesia, sampai aktor yang berperan sebagai Anant dalam serial Navya ini pun, didapuk sebagai salah satu pemeran dalam film karya anak bangsa, dengan lakon Azan Khan. Lawan mainnya, Kirana Larasati pula. Film ini kalau dibilang romantis, buat saya kurang terasa, tetapi kalau saya lihat dari sisi komedi tersiratnya, saya cekikikan sendiri sedari opening scene.
                Bayangkan, rumah yang ditinggali Nabila (Kirana Larasati) dan ibunya, di beberapa bagian dindingnya tertulis ‘TV Pernah Ada Di Sini’ atau ‘Kulkas Pernah Ada Di Sini’. Kesannya, rumah yang nyeleneh banget. Lalu, nama almarhum kakeknya Azan Khan, Ashique Khan (baca : Asik kan?) itu lho. Duh. Belum lagi jalan ceritanya yang memang sengaja dibuat melompat-lompat (mungkin) dan bikin saya geli sendiri. Mana ada, komandan polisi yang menyamar menjadi preman dan ikut si boss preman buat malak sana-sini, terus baru menangkap si boss preman setelah Nabila datang ke sarang mereka, lalu disusul si Azan buat nyelamatin Nabila?
                Sedihnya, film yang ber-setting di Yogyakarta ini nggak ‘menjual’ Yogyakarta dengan lebih kental. Setting di Masjid Kota Gede Yogyakarta saja seolah lewat dan nggak berkesan banyak di hati penonton seperti saya. Padahal kan, si Azan ini turis lho. Even if he come to Indonesia especially in Yogya to find his grandpa’s grave, kalo sedikit di-explore sepertinya akan lebih asik. Belum lagi gaya berantam para pemainnya yang membuat saya seolah-olah menonton film Bollywood jaman dahulu. Bukan hanya itu saja. Saya juga dibuat gemas dengan karakter Ibu Nabila yang masih tetap mencintai Ayah Nabila yang pemabuk dan penjudi, padahal si suami sudah ngawur berkali-kali dan malah membebani keluarganya denga utang. Tetapi saya rasa, produser, penulis naskah, dan sutradaranya pasti memiliki pertimbangan mereka sendiri agar film ini hadir dalam genre-nya yang komedi, secara soft.
                Next, soundtrack film ini asik. Shaheer Sheikh nyanyi lagu berbahasa Indonesia dan sesekali bicara bahasa Indonesia. Terus, di akhir film, ada mini video klip-nya gitu sama Mba Kirana Larasati. Saya kan jadi nyeletuk, “Apaaaaa cobaaaa ....”

                So far, I enjoyed this film much. Liburan panjang bersama tiphus yang memaksa saya bedrest ini, akhirnya membuat saya menonton film Turis Romantis di televisi. 

13 komentar:

  1. eh... awalnya kukira yang film satunya yang sama si nabila syakib

    ternyata yang lain.

    ya enggak terlalu suka sih nonton TV sekarang jadi udah nggak tahu lagi ada film apa aja di stasiun TV.

    lebih milih nonton anime di notebook
    lebih menghibur

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha..ha.., sama.

      Saya juga jarang nonton acara TV lokal, tapi kalau kartunnya masih sering...
      Iya kayaknya lebih seru nonton anime di notebook, soalnya kalau di TV lebih banyak iklannya...

      Hapus
    2. Ara :
      Hahaha, kalau yang sama nabila Syakib kayaknya sinetron deh. Ini cowok Bollywood berseliweran mulu di TV Indonesia, sampe jadi bintang iklan.

      Tenkousei :
      Iya Ten, aku juga jarang nonton TV, kecuali kalo lagi pulang ke rumah, soale keracunan sama orang-orang rumah. :)

      Hapus
  2. Turis Romantis? wah saya belum pernah nonton jadi belum tahu ceritanya.

    Iya, walau sakit tetap ambil sisi positifnya saja, kan lebih enak liburan ini santai di rumah sambil nonton. Kalau saya sama dengan Ara, lebih suka nonton di laptop, anime atau film. Kalau acara TV lokal saya lebih suka nonton yang kartunnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak ya Ten. Aku bakalan cepat sembuh. :)

      Humph, kayake kapan-kapan aku bahas anime kesukaanku biar seru.

      Hapus
  3. film india gabungan sama flm indonesia jadinya begini nih cuman sayangnya pemeran cowoknya si itu lagi, coba kalau Shahrukh Khan kan keren anti mainstream

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, Shahrukh Khan kan udah tuir Tofik. Kalau doi yang main, kayake yang bakal histeris para buibu deh.

      Hapus
  4. hmm.. pernah liat trailernya di tv. kayaknya sih emang okeh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lumayan lah Jev film-nya. Lumayan buat hiburan.

      Hapus
  5. Gimana ya, gue agak males juga kalo bahas yang Ini. Menurut gue, gak bagus aja, cerita Indonesia digabung dgn india.

    Jelas akan ada pengentalan satu pihak. Sayangnya bukan adat Indonesia sendiri, justru adat india. Harusnya, kalo orang india main di Indonesia, mengikuti di mana ia tinggal. Ini malah sebaliknya.

    Dari sekian film, serial atau apalah itu. Gue adalah segelintir org yg kurang setuju. Seringnya malah mikir : "Ini acara apa sih?"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo Heru, terima kasih sudah baca postingan aku ya :)

      Hapus
  6. Padahl jogja keren y klo ikut diekspos

    BalasHapus