Label

Kamis, 25 Juni 2015

Ramadhan Homesick

Semakin jarang bertemu, semakin rindu.
 
Mama Papa Tersayangnya Acha
                Ini tahun kedua, saya harus melalui Ramadhan sendirian. Sebenarnya jarak dari rumah ke kota Jakarta ini nggak jauh-jauh amat. Cukup ditempuh dengan waktu 2 jam lebih sedikit, saya sudah bisa sampai di rumah dan bisa jadi, Ramadhan saya akan dipenuhi waktu-waktu sahur yang menyenangkan bersama Mama, Papa, juga adik-adik saya. Tetapi saya ini agak sedikit ‘bandel’ untuk urusan pulang ke rumah sejak bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta Selatan. Bukan apa-apa. Saya cuma punya masalah ‘gengsi’ dan saya sudah janji pada diri saya sendiri, untuk mandiri. Apalagi, sebagai anak sulung, saya anti dilihat manja oleh adik-adik saya. Berbeda kalau saya jarang pulang, semuanya akan memanjakan saya karena selama berpisah, kami cuma mengobrol melalui BBM dan WA. Anggap saja ini salah satu modus saya untuk bisa dimanja keluarga.


                Siapa bilang saya nggak rindu rumah? Oh, sangat. Bahkan kalau boleh lebay, semua takjil yang saya makan untuk berbuka, nggak senikmat kolak pisang buatan Mama. Saya mensiasati kekangenan saya akan rumah dengan berkumpul bersama teman-teman kantor. Setiap sore, merekalah yang menemani saya berbuka puasa.
 
Takjil Dadakan 

                Berbagai jenis takjil kami beli secara patungan. Minuman pun kami buat sendiri dan kami nikmati bersama. Disusul dengan shalat magrib berjamaah, bahkan pergi tarawih ke masjid beramai-ramai. Ada suasana menyenangkan lain yang saya temukan. Bahwa, keluarga bukan hanya tentang orang-orang yang saling berhubungan darah, tetapi senasib sepenanggungan.
                Sementara untuk urusan sahur, saya punya beberapa teman kos andalan. Setiap pukul 3 pagi, ada saja yang mengetuk pintu kamar saya dan mengajak sahur bersama. Biasanya saya kebagian jatah masak nasi. Sementara yang lain membeli lauk. Nah ... dengan begini, Ramadhan saya nggak sepi. Anggap saja saya mengurusi urusan makan sahur keluarga kecil yang isinya gadis-gadis besar. Hehehe ....

                Tapi ... semuanya memang beda kalau saya melewati waktu Ramadhan di rumah. Lagi-lagi, saya yang ‘bandel’ ini sebenarnya rindu pulang, setengah mati. Hanya saja ... kebandelan saya membuat saya pantang pulang terlalu sering demi mendapat waktu bermanja-manja lebih lama. Biar saya paham rasanya tinggal jauh dari orangtua, dan saya tahu, bagaimana rasanya rindu rumah. Beruntungnya saya, walaupun tinggal jauh dari rumah, obrolan dengan Mama Papa masih selalu nggak ada habisnya. Begitulah orangtua tercinta saya. 

2 komentar:

  1. Saat Ramadhan itu memang identik menghabiskan waktu dengan keluarga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Teh. Ramadhan itu paling asik kalo sama keluarga.

      Hapus