Label

Jumat, 30 Januari 2015

Asap dari Sikidang

Sudah kubilang kan, kalau aku ini penakut. Aku sering kehilangan ekspresi saat harus berada begitu dekat dengan sesuatu yang kuanggap membahayakan. Aku ini bukan gadis yang senang difoto juga, sehingga koleksi poseku juga seadanya.
                
Tetapi sesampainya di Kawah Sikidang, guide kami dan tentunya juga Icha, memaksaku untuk memberanikan diri berada lebih dekat dengan mulut kawah. Jelas sekali aku mendengan suara air belerang yang meletup-letup dalam kawah, juga asapnya yang mengebul ke udara dibawa angin, hingga membuat mataku sedikit perih. Berapa derajat panasnya air kawah ini? Ah, aku merinding. Apalagi, menurut keduanya, untuk mendapatkan hasil foto yang keren, aku harus melompati pagar batas aman kawah dan tersenyumlah di depan kepungan asap yang menjajah udara. Aish ... berhasil juga paksaan mereka.

Rabu, 28 Januari 2015

Telaga, Goa, dan Doa

Menyambangi telaga warna dari dekat. Membiarkan penciumanku dihinggapi aroma telur busuk khas aroma Belerang. Mendapati udara yang sebenarnya dingin, namun matahari begitu tinggi di atas langit. Gerimis yang sesekali turun, tak membubarkan orang-orang yang datang dari berbagai tempat untuk mengunjungi telaga ini, sekedar memuaskan hasrat berpose mereka.
                
Berada di tepian telaga, tanah lembab becek yang kupijak terasa begitu menggoda. Dengan berpegangan pada batang pohon yang berlumut, aku terus mendekati tepian. Pada dasarnya, aku ini penakut. Ketika Icha mengajakku berpose di batang kayu yang setengahnya terendam di telaga, aku menolak. Alasan lainnya, karena aku kurang terlalu senang di foto dan bergaya macam-macam, sebaliknya aku lebih suka mengatur orang untuk berpose di tempat dan dengan gaya yang kumau. Parah sekali.

Sabtu, 17 Januari 2015

Telaga Warna Dari Bukit Ratapan

Pertama kali aku menyambangi Telaga Warna, bukan dengan mendekatinya, tetapi menikmati keindahannya dari atas bukit Ratapan, di dalam Wana Wisata Petak 9 Dieng. Bunga Pancawarna yang tumbuh di tepi jalur trekking memancing senyumku. Mahkota bunganya yang bergerombol, tampak gemuk dengan warnanya yang putih bersih. Bunga ini mengingatkan kalau sekarang aku benar-benar berada di alam, dan sadar betul kalau modal backpacker-an kali ini cuma nekat. Aku nggak banyak berolahraga dan kurang tidur.

Kamis, 15 Januari 2015

MERRY RIANA

dokumen pribadi



                Jujur boleh ya? Aku belum pernah baca bukunya Mba Merry Riana, cuma ... pernah megang-megang aja sih di toko buku tapi nggak pernah bisa beli. Jadi, aku menonton film ini dalam keadaan blank dan belum punya ekspektasi apapun.

Rabu, 14 Januari 2015

Menuju Tanah Dieng

Terminal Mendolo
( Dokumen Pribadi )

Bus Sinar Jaya yang membawaku dari Depok, pukul 5 pagi terparkir di pemberhentian akhirnya, Terminal Mendolo, Wonosobo. Lengang. Sepagian itu hanya aku, Icha, dan seorang pemuda yang turun di pemberhentian terakhir ini.
                

Senin, 05 Januari 2015

Kedekatan Bersahabat dengan Percikan


                Selamat pagi.
                Selamat datang di hari kerja pertama di tahun 2015.
                Semalam aku terjebak di halaman 59 sampai 72 dari buku The Dusty Sneakers Kisah Kawan di Ujung Sana. Bagian ini ditulis oleh Gypsytoes, nama pena dari Maesy Ang yang melakukan perjalanan ke Potugal dengan kedua-belas teman sekelasnya.

Minggu, 04 Januari 2015

Letupan Kenangan


                Tiga tahun. Empat malam pergantian tahun sudah.
                Memasuki daerah antah berantah di Jawa Barat yang tidak kutahu namanya -- sepertinya sudah keluar dari wilayah Cikampek --, dentuman suara kembang api yang pecah di langit terdengar. Masih pukul sebelas malam. Tahun jelas belum berganti, dan belum ada ucapan selamat tahun baru yang bertubi-tubi masuk ke Whatsapp dan BBM-ku. Sepi. Sesepi bus yang kutumpangi. Sekelebat bayangan tampak ketika aku berusaha keras memejamkan mata. Si kawan lama, si misterius yang suka sekali membaca. Fin, namanya.