Label

Selasa, 30 Desember 2014

Kaleidoskop yang Dibawa Hujan

Pelataran Museum Nasional
(dokumen pribadi)

Jakarta. Kota yang lebih sering terasa panas, beberapa hari belakangan menjadi basah. Aku pecinta hujan, sehingga tiap kali hujan turun, ada syahdu yang selalu mampir ke benakku. Saat gerimis pun, seketika kurasa Jakarta menjadi kota yang paling cantik. Sekaligus ... menamparku dengan ... entah.



Setahun sudah aku tinggal di kota metropolitan ini, sendirian. Menghidupi diriku dengan bekerja keras di kantor. Kota ganas ini, selama 12 bulan, sudah mengajarkan aku tentang gegap gempita, kecepatan, berstrategi, sampai cara untuk mengangkat dagu jika tak ingin dikalahkan keadaan. Namun kadang aku sering merasa kehilangan diri. Dibandingkan keramaian, aku lebih mudah jatuh cinta pada kesunyian. Di antara rasa sepi, selah aku menemukan diriku sendiri. Lihat, betapa diam begitu kucandui.

Hujan yang mampir di pelataran Museum Nasional sore itu, meninggalkan rasa yang ingin terus bisa kunikmati. Menghadiri sebuah workshop kepenulisan dalam rangkaian acara Indonesian Reader Festival seorang diri, membuat aku menemukan bahwa diriku berbulan lalu sebetulnya bukan aku. Ramai. Ribut. Tak bisa diam. Semua ... mengacaukan aku. Setahun ini, aku bukan lagi Cha yang produktif menulis. Setahun ini, aku hanya menekan diriku sendiri dan berusaha tampak hebat padahal kalah. Aku kehilangan idealisme dan warnaku sendiri.

Ah ya, bahkan aku mulai tak rajin lagi menyimpan ide-ide dalam buku harianku. Sampai ... segala target itu hilang ditelan keseruan untuk bersenang-senang dan membuang waktu.

Hujan dari awan-awan Jakarta menepuk bahuku untuk kembali. Aku harus mengganti setiap waktu sia-sia itu. Hujan dan cantiknya Jakarta, seketika membawa pulang diriku yang dulu. Seseorang gadis yang lebih banyak menenggelamkan dirinya dalam sunyi malam, derasnya tetesan hujan di balik jendela, bahkan musik-musik instrumental memenangkan.

Tahun depan, aku ingin pulang. Kembali pada diriku yang tenang. Dalam kedalaman jiwa yang selalu haus pengalaman.

Museum Nasional
(dokumen pribadi)

2 komentar: