Label

Senin, 12 Mei 2014

Kapan Menikah?




                Sudah dini hari, dan aku sukses nggak bisa tidur. Insomnia. Biasa terjadi tiap aku mengacaukan sendiri waktu tidurku yang berhari-hari lalu sudah terjadwal dengan teratur. Tepatnya sejak pembicaraan panjang dengan kakakku semalam, melalui ponsel, kami begadang hingga pukul 2 pagi.


                Menikah. Pernikahan. Kekasih. Cinta. Itu saja yang hampir tiga jam lebih, nggak habis-habis kami bahas. Kami mencoba melihat dari berbagai pengalaman Om, Tante, bahkan teman-teman kami yang telah lebih dulu membina rumah tangga. Semua nggak seindah saat resepsi dilaksanakan. Semua nggak semanis yang dikisahkan dalam roman picisan. Semua nggak selalu membahagiakan, seperti dongeng-dongeng yang selalu menutup kisahnya dengan kalimat, ‘happy ever after’. Banyak aspek yang diujarkan kakakku, bahwa pernikahan itu nggak semudah saat kamu masih berpacaran – tentunya pacaran yang sehat.
                Pernikahan nggak hanya melibatkan satu atau dua hati, tetapi banyak hati. Dan sebagai anak perempuan, kakakku berpendapat, bahwa usia muda anak perempuan lebih pendek dibanding anak laki-laki. Itulah sebabnya, anak perempuan dituntut lebih dewasa untuk mengasuh si anak laki-laki tadi, suaminya, setelah terjadi permikahan.
                Tetapi, membina keluarga itu fase hidup. Hidup yang benar-benar hidup.
                Ketika anak gadis begitu berharap bisa memasuki fase menikah, kebanyakan wanita yang sudah menikah, ada saja yang berharap bisa kembali menjadi anak gadis. Orang dewasa, baru menjadi dewasa saat menikah. Begitu pendapat banyak teman-teman kami.
                Hmm, aku jadi ingin menikah. Tapi masih sedikit ragu untuk melangkah. Jadi yaaa, kunikmati saja masa single ini dengan mengejar setiap impian yang sejak kecil begitu kuinginkan. Kakakku juga memilih demikian. Toh, jodoh kami belum kelihatan. Kurasa, Tuhan masih ingin menyembunyikannya dari kami, sebentar saja.
                Hhh ....
                Siapkah kami menjadi istri?
                Tangguhkah kami menghadapi hari-hari yang akan berubah 180 derajat nanti?
                Tegarkah kami tetap berdiri dan tersenyum lembut di samping belahan jiwa kami?
                Ah, usia dua puluhan ini memaksaku semakin banyak berpikir.

2 komentar: