Label

Jumat, 28 Maret 2014

Sepi yang Pemalu dan Penyendiri



                Padahal aku terjebak dalam keramaian di sebuah restaurant terkenal di Jakarta, senja itu, saat menunaikan tugasku untuk live report. Seketika sebuah perasaan kosong dan nyeri menembus ke dalam dadaku. Aku menemukan diriku yang dilanda rindu pilu. Perasaan takut kehilangan seseorang yang hanya mampu dimiliki utuh oleh mataku, bukan tanganku, apalagi hatiku. Seorang lelaki pekerja keras yang memicu detak jantungku, di penghujung sore dalam sebuah ruangn ber-AC, dimana kami pertama bertemu.

                Ruang riuh itu hanya hening di kepalaku. Pecah tawa basa-basi itu menguap, tak pernah mau sampai ke telingaku. Benda-benda kesepian di sudut itu, kini jadi aku.





                Kemudian bayangan lelaki itu datang ke benakku, mampir dari wajah-wajah lain di sekitarku. Berkelebat. Diam sesaat. Sedetik hilang.

                Hhh ... sadarlah aku, selamanya dia tak bisa tetap duduk di sampingku enam hari seminggu. Hari berganti, dan dia telah putuskan untuk pergi, sebab dia lelaki. Lalu aku hanya berselimut sepi yang sendiri, akibat mulut wanitaku tak berani mengucap ‘Aku mengasihimu karena rasa yang diselipkan Tuhan pada hatiku, Mas’.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar