Label

Rabu, 05 Februari 2014

Kangen Nangis


                I miss myself. I miss everything I have in the past. Aku sering menggaungkan semangat di media, sebab aku kini seorang copywriter yang dituntut untuk mampu mencitrakan perusahaan tempat aku bekerja dengan sangat baik. Terkadang ada perasaan nggak mampu yang mampir. Lebih sering, kerinduan yang dalam pada diriku sendiri.
                 Aku ingin berteriak, aku merindukan rabu malamku yang syahdu dengan earphone yang menyumbat telingaku, mendengarkan ocehan Kak Nicco Oulya di Nite of Love yang lebih sering membuatku meneteskan airmata. Aku mengharapkan matahari cerah di pagi hari yang menemani aku menyusuri pinggir jalan Batu Dawa ketika aku SD dulu. Aku rindu perpustakaan mini Papa, tempat aku biasa bersembunyi, sekedar untuk membaca buku-buku miliknya yang ada di sana. Aku merindukan buku diary-ku yang kutulis saat kecil, buku diary pertama yang dihadiahkan Mama ketika aku sangat ingin bisa menulis diary sepertinya setiap hari. Aku merindukan pensil yang kugunakan untuk menggambar pakaian-pakaian impian yang belum sempat aku miliki hingga kini. Aku merindukan suara pompa air di pagi hari yang sering membangunkanku, di rumah Nenek. Aku rindu diriku yang cengeng, sebab banyak yang bilang  aku mirip Kakek yang katanya melankolis. Lalu mengapa ketika merindu itu datang, aku nggak bisa menangis?
                Aku lebih-lebih butuh airmataku ketika aku dikritik akan ketidakmampuanku, ketidaksanggupanku memuaskan keinginan orang-orang yang begitu percaya pada aku. Aku berharap aku bisa menangis, bukan tersenyum, ketika tahu mereka puas akan hasil kerjaku, pada tulisan-tulisan yang sukses aku buat untuk meningkatkan penjualan produk perusahaan tempatku bekerja. Aku ingn menangis saat ada yang berucap ‘Terima Kasih’.
                Kemudian kepalaku diketuk-ketuk oleh ingatanku pada Bang Arul, pelatih teater-ku sewaktu kuliah. Beliau sering berkata, pemain yang hebat itu tidak dilahirkan, tetapi dibentuk, dilatih, dan diasah oleh naskah-naskah dan panggung. Aku kembali merenung, pastilah kini aku sedang dibentuk dan diasah oleh keadaan untuk menjadi copywriter yang baik. Dan ... bisa jadi, aku sulit menangis akibat keangkuhan yang pelan-pelan menggerogoti hatiku, membuat jaring laba-laba yang membuat hatiku mirip markas Spider-girl.

                Hhh ... aku kangen nangis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar