Label

Jumat, 07 Juni 2013

Perbincangan Malam



                Tadinya kupikir, aku akan duduk membisu semalaman sampai Argo Lawu menurunkan aku di Stasiun Tugu. Tapi ternyata teman sebangkuku menyapaku lebih dulu. Bertanya basa-basi sebagai perkenalan. Kulihat dia mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya. Ah, mungkin aku tak akan bicara hingga pagi datang. Sedikit terselip rasa lega, karena aku memang tak terlalu nyaman berbicara panjang lebar dengan orang yang baru kutemui di kereta jarak jauh. Mungkin karena kehidupan keras di Jakarta dan Bogor yang menciptakan ketakutan itu.
                Awalnya dia hanya bertanya, aku akan kemana. Kurasa, tak ada salahnya jika kujawab jujur saja. Namun ocehannya terus memanjang hingga menanyakan hobi. Oh baiklah, tak masalah jika kusebutkan salah satu hobiku. Siapa tahu suatu ketika, setelah aku menelurkan berbagai karya, dia mengenangku sebagai teman seperjalanannya.
                Dia menjabarkan begitu banyak sejarah aliran sastra padaku. Tak lupa dia menyebutkan berbagai judul novel yang disukainya, juga penulis buku favoritnya, Pramoedya Ananta Toer. Hmm, bagiku, semua hanya masalah selera. Apa aku salah?
                Namun koar-koarnya mulai mengusikku. Beberapa kalimatnya tak nyaman kudengar. Ah, tak apa, semua hanya masalah sudut pandang. Sejujurnya, aku tak suka mempermasalahkan banyak hal semacam itu. Memang benar kalau penulis di masa Pujangga Baru dan kawan-kawannya terkesan lebih long lasting, tentu saja karena mereka berada dalam arus yang sangat sastra. Sementara baginya, penulis di jaman sekarang lebih tenggelam dalam dunia pop yang mengikuti trend, alay. Memangnya apa salahnya? Hidup kan selalu berdampingan dengan sebuah pilihan?
                Kuputuskan untuk mendengar kisahnya lebih panjang. Deraan masa lalunya yang penuh kerja keras, karena sebagai mahasiswa dia juga dipaksa untuk menjadi kuli bangunan, pedagang, dan lain sebagainya yang begitu dekat dengan masyarakat kecil. Aku semakn tertarik. Apalagi beberapa kali dia ikut bersinggungan dengan aparat saat terjadi penggusuran lapak pedangan di sekitar Pasar Anyar Bogor. Hmm, apa benar masa lalu –maksudku semua hal yang telah dilaluinya—mempengaruhi pandangan hidupnya juga? Ya, itulah sebabnya setiap orang tak akan sepenuhnya sama.
Dia pun berujar, bahwa suasana kereta kelas eksekutif yang nyaman ini serupa pembunuh berdarah dingin baginya. Di dalam gerbong ini tak ada suara penumpang yang mengorok, pengamen yang mampir meminta perhatian, atau ayam-ayam kecil yang dibawa penumpang, belum lagi AC yang terlewat dingin, serta makanan tak enak yang ditawarkan oleh pramugarinya. Semua kenyamanan ini hanya ketenangan tanpa arti, tak meninggalkan sedikit kesan manis. Ya, dari segala ceritanya, berbaur dengan masyarakat menengah ke bawahlah yang paling menyenangkan. Itu pula yang membuatnya lebih menghargai orang-orang yang down to earth.
                Lagi dan lagi, kutemukan makna bahwa semuanya hanya bergantung pada sudut pandang yang tak sama. Artinya, setiap kritikan dan pandangan negatif, berakar dari sebuah sudut pandang saja.
                Lalu, buat apa meributkan hal-hal kecil kalau begitu? Nikmati saja semuanya, dan ambil saja pelajaran berharganya.

2 komentar:

  1. hehe,, betul sekali semua tergantung sudut pandang, aku suka naik kereta, apalagi yg eksekutif.. nyaman dan insya allah aman :p

    BalasHapus