Label

Jumat, 08 Maret 2013

Kalau Masih Tega ... Lanjutkan Saja!


                Alhamdulillah ... pagi ini aku masih bisa bangun, setidaknya masih bisa beranjak dari tempat tidurku menuju ke teras depan untuk mengambil air wudhu. Ya Allah, apalagi yang nggak harus aku syukuri setelah tadi malam aku kembali mengalami sesak napas yang bikin badan rasanya masih nggak karuan siang ini?
                Semalam, aku terpaksa pergi ke warnet untuk mengirimkan beberapa file untuk Dino, adikku yang kini sedang berada di Bima. Sebenarnya, bisa saja kukirimkan file-file yang dia minta dari rumah ... toh, modemku masih bisa digunakan. Hanya saja, karena semalam sinyalnya lambat dan sampai pukul sembilan belum selesai meng-attach juga, Mama menyarankan untuk ke warnet saja dengan antar Aldila.
                Disana ... aku memilih duduk di bilik yang tak jauh dari pintu depan, selain dekat dengan abang penjaga warnetnya, udara bebas dari luar kuharap bisa menghalau sedikit asap rokok yang memenuhi warnet itu. Kipas angin yang kebetulan terpasang di dinding di depanku, juga menjadi harapanku. Sayang sekali, kedatangan beberapa remaja tanggung yang duduk di bilik sebelahku, menambah polusi di dalam ruangan yang kekurangan ventilasi itu. Sama seperti seorang pria yang saat baru masuk, kutegur untuk meminta pengertiannya, berharap dia ikhlas mematikan rokoknya.
                “Neng, disini tempat umum. Orang terserah mau ngapain aja! Kalau nggak betah, ya beli modem aja, enak kan kalo ngenet dari rumah.” Komentar si pria yang mungkin masih kesal padaku.
                Adikku, Aldila, ikut kesal juga dibuatnya. “Masa sudah om-om ngomongnya gitu sih, Kak?” begitulah celotehnya saat dalam perjalanan pulang. “Terus itu tadi kakak-kakak yang di sebelah, juga sama. Emangnya orangtuanya sibuk banget ya, Kak? Kok songgong gitu? Emang nggak ada yang ngasih contoh ya Kak di rumahnya?”
                Demi menjawab pertanyaan adikku itulah, aku menceritakan kisah Papa sewaktu aku masih batita dulu, padanya. Kisah yang disampaikan oleh Nenek dan Mama, setiap aku bertanya, “Kenapa Om itu atau Om ini merokok dan Papa nggak lagi?”
                Bertahun-tahun lalu, papaku juga perokok. Tubuhnya sampai kurus dan wajahnya jarang terlihat segar. Papaku memang nggak pernah merokok di dekatku, tapi asap rokoknya pernah membuat aku dirawat di Rumah Sakit dulu. Jalur napasku menyempit dan tubuhku demam tinggi berhari-hari. Begitulah tutur Nenek.
                Sejak itulah, Papa mulai menghentikan kebiasaan buruknya. Papa takut aku sakit seperti dulu, katanya. Apalagi sampai saat ini, alergi itu masih sering kambuh kalau aku berada di situasi yang tak nyaman, menghirup asap rokok. Hal kecil yang dulu pernah terjadi padaku, berdampak besar hingga kini. Tubuhku tak bisa lagi berkompromi pada asap itu, masker pun kadang nggak membantu banyak.
                Aku jadi merasa kasihan sekali pada pria itu dan beberapa remaja tanggung disana. Jangan sampai mereka mengalami penyesalan seperti Papa dulu. Semoga suatu hari nanti, anak-anak mereka, nggak seperti aku. Atau ... alergi yang kualami, nggak dialami oleh orang terkasih mereka. Walau aku mengerti kalau penyesalan itu, nggak pernah datang sebelum sesuatu terjadi.

3 komentar:

  1. Nice posting!

    Same with u dear, dislike, meski my father masih aja mau disuruh jauh-jauh dari rumah :P saat ngerokok, semoga Allah bukakan hati Papaps untuk berhenti merokok aamiin...

    Nb: Aku juga alergi rokok loh, hmmmh... jurus jituku, ngasih tau aku asma, tanpa senyum terus ngibas2 tangan berlagak agak sesak *surely udah mo sesak, huft T__T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya rabbal alamin
      Semoga Papa nya Kakak segera berhenti

      Thank you so much for your attention and I am so apreciate with it.

      Hapus