Label

Kamis, 08 Maret 2012

Jangan Hanya Larang Kami, Tapi Ajarilah dan Bantulah Kami untuk Makan Makanan yang Sehat!


sumber :google
               
 Teringat masa kecilku, sekitar tahun 1998/1999. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas 4 SD. Masih sangat aku ingat kalau saat itu di sekolahku selalu ada makanan tambahan yang disediakan pihak sekolah untuk aku dan teman-temanku. Setiap jam sepuluh pagi sebelum bel istirahat berbunyi, kami semua duduk manis di dalam kelas, menunggu guru kami datang dengan begitu banyak jajanan yang akan dibagikan kepada kami, lengkap dengan segelas teh hangat.
                

Tahukah kamu saat itu, kawan? Aku memiliki sebuah gelas plastik berwarna merah muda yang pada bagian bawahnya tertulis namaku. Gelas yang hingga aku duduk di bangku kelas 6 SD, masih selalu aku pakai untuk menikmati teh hangat manis yang dituangkan oleh wali kelasku. Walaupun entah kemana gelas itu sekarang, tapi aku begitu ingat gelas itulah yang menemaniku mendalami pelajaran yang begitu jarang dirasakan oleh adik-adik usia sekolah saat ini. Pelajaran untuk makan makanan yang baik, belajar bersyukur atas pemberian Tuhan, dan mengajarkan sikap untuk tidak terlalu konsumtif dan tidak mengikuti keinginan diri sesaat untuk makan makanan yang aneh-aneh. Intinya, sejak SD, aku beruntung karena diajarkan untuk tidak jajan sembarangan, baik oleh orang tuaku, juga oleh guruku di sekolah.
                
Maraknya berita mengenai jajanan anak sekolah yang katanya mengandung banyak sekali bahan yang berbahaya untuk dikonsumsi, seperti boraks (mengandung logam berat Boron), formalin (bahan pengawet untuk mayat), rhodamin B (pewarna merah untuk tekstil), dan methanil yellow (pewarna kuning untuk tekstil) yang jika terakumulasi dalam jangka panjang di dalam tubuh dapat menimbulkan penyakit kanker dan tumor pada tubuh kita. Belum lagi kontaminasi mikrobiologis yang diakibatkan buruknya kualitas air dan pembuangan sampah dari para penjajaknya, akan menyebabkan timbulnya banyak sekali gangguan kesehatan jangka pendek seperti diare, pusing, mual, muntah, dan kesulitan buang air besar. Dampak makanan tertentu juga mengakibatkan gangguan pada otak manusia, termasuk gangguan perilaku. Gangguan tersebut meliputi gangguan tidur, gangguan konsentrasi, gangguan bicara, gangguan emosi, hiperaktif, hingga memperberat gejala pada penderita autis.
                
Nah, setelah membaca artikel di VOA yang menceritakan bagaimana istri presiden AS -- Michelle Obama -- yang meminta untuk diberlakukannya pengawasan pada makanan yang diberikan kepada anak usia sekolah di sekolah mereka, mengingatkan aku pada hal ini kembali. Ketika di Amerika anak-anak mengalami masalah obesitas karena makanan yang disediakan di sekolah mereka terlalu banyak mengandung karbohidrat dan gula, di negara kita sedang terjadi bencana yang hampir sama namun berbeda konteks berupa beredar luasnya makanan yang membahayakan kondisi fisik maupun psikis para generasi muda. Artikel itu juga yang mengingatkan aku, betapa aku bersyukur mengalami masa dimana saat itu masih dilaksanakan pemberian makanan tambahan untuk anak-anak usia sekolah dasar.
                
Anak yang terbiasa tidak sarapan pagi, akhirnya menjadikan momen istirahat sekolah untuk jajan, menjadikan jajanan tersebut sebagai pengganti sarapan mereka. Memang, ada juga anak yang dibawakan bekal makan, tetapi apa semua anak akan dibawakan bekal makan dari rumah? Bagaimana dengan anak-anak dari kalangan bawah yang tidak sarapan pagi di rumah dan juga tidak diberikan bekal makan? Anak-anak yang kelaparan di sekolah, karena mereka tidak bisa jajan, disebabkan ketidakmampuan orang tua mereka? Atau mereka diberikan uang jajan pas-pasan dan akhirnya membeli makanan murah yang tidak sehat?
                
Anak-anak ang bahkan tidak mampu untuk jajan, apalagi jarang makan pagi, kembali mengingatkanku pada 4 orang temanku di SD dulu. Mereka adalah anak panti asuhan yang yatim ataupun piatu. Mereka menjadikan sekolah sebagai kegiatan yang wajib mereka lakukan setiap pagi, bukan karena sekedar ingin belajar, tapi juga ingin makan makanan tambahan itu. Mereka sangat senang menikmati segelas teh hangat yang mengalir pelan di tenggorokan mereka. Menelan gurihnya jajanan pasar yang telah disiapkan guru kami. Jajanan sehat yang dbuat dibawah pengawasan kepala sekolah kami saat itu.
                
Kawan. Jika saja pembagian makanan tambahan itu kembali diterapkan di sekolah-sekolah, semoga bisa meningkatkan kualitas gizi adik-adik kita yang nantinya akan menjadi bagian dari penggerak bangsa ini menuju kejayaan.
                
Sungguh kawan, sesunguhnya kita telah merasakan banyak sekali kemudahan pada masa sekarang. Adanya dana BOS yang akan membantu anak-anak memenuhi kebutuhan gizi mereka, pastilah program ini juga kembali bisa diterapkan kan? Selain itu juga, dengan pengawasan yang baik, beberapa pedagang makanan ini dapat diajarkan untuk membuat jajanan yang bergizi untuk anak-anak, sekaligus menjadikan mereka sebagai penyuplai makanan tambahan tersebut. Terakhir, tinggal membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak untuk mengawasi jalannya kegiatan ini. Bagaimana kawan?
                
Akhirnya, aku hanya ingin berpesan, “Kenapa tidak kita mengikuti budaya dari luar sana yang menyediakan makan siang sehat di sekolah? Membiasakan adik-adik kita makan makanan yang bersih dan bergizi? Toh, itu juga demi kegemilangan masa depan generasi muda Indonesia kan?”

Salam Hangat....
^.^

NB : Teruntuk guru SD-ku Pak Gusti, mantan kepala sekolah SDN 1 Batu Dawa, Mataram, Lombok, NTB. Terima kasih telah mendidikku dan mengajariku begitu banyak hal yang menjadikan aku mampu untuk lebih mensyukuri kehidupan ini, menggembleng aku hingga menjadi pribadi yang sekuat kini.

14 komentar:

  1. Setuju banget nih....mudah2an cita-cita agar para murid untuk dapat makanan sehat ini bisa tercapai...amien

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin...
      Terima kasih banyak sudah mau mengapresiasi blogku ini Bisma
      Salam hangat ^.^

      Hapus
  2. Thanks dah sharing, aku hanya prihatin dengan cara pandang semua produk barat cenderung ga baik padahal kenyataannya kita banyak belajar kemajuan cara berfikir mereka, selama itu baik, why not?

    BalasHapus
    Balasan
    1. sure....
      terima kasih banyak telah ikut mengapresiasi tulisan saya ini..semoga bermanfaat juga....
      salam hangat
      ^.^

      Hapus
  3. Semoga sukses ya. Oh..ya, mohon beri komentar pada tulisanku berikut ini ya - Memanusiawikan Lingkungan Sungai Ciliwung dan Sekitarnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih masbowo
      Semoga sukses juga.
      ^.~

      Hapus
  4. Sukses mbak Nurul..
    semoga kegiatan pembagian makanan sehat kpd adik2 kita disekolah dasar dpt dilaksanakn kembali.. dan tentunya kantin sehat terus diawasin lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin...
      Terima kasih banyak mursyal
      Semoga didengar dan segera terwujud...

      Hapus
  5. sipp mbak.. kayaknya pemikiran mbk sama kayak ayahku, dan ironisnya beliau baru bisa nerapin pembagian makan sehat disekolah walau cuma sebulan sekali ketika sudah jadi KaSeknya, apakah harus jadi menteri atau presiden dulu ya baru bisa nerapin kesemua sekolah? hehehe

    salam kenal ya..^^,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai hai hai Nophi.. Salam kenal juga..
      Wah, senang sekali mendengar ayahmu yang ikut menerapkan pembagian makanan tambahan untuk anak sekolah. Walaupun cuma sebulan sekali, semoga itu bisa mengajarkan adik-adik kita untuk memilih makanan yang sehat ya. Amien. Hmm..semoga program makanan tambahan ini diterapkan kemabli sama pemerintah kita ya. Sepertinya dulu juga nggak merata pelaksanaannya :D Kita berdoa saja ya Nophi...

      Hapus
  6. blog yang menarik...
    salam kenal...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo Miera
      Salam kenal juga
      Terima kasih banyak sudah mengunjungi blogku

      Salam hangat,
      ^.^

      Hapus
  7. Anda memiliki rasa kepekaan sosial yang sangat hebat. Kalimat yang begitu mengugah hati "Bagaimana dengan anak-anak dari kalangan bawah yang tidak sarapan pagi di rumah dan juga tidak diberikan bekal makan? Anak-anak yang kelaparan di sekolah, karena mereka tidak bisa jajan, disebabkan ketidakmampuan orang tua mereka? Atau mereka diberikan uang jajan pas-pasan dan akhirnya membeli makanan murah yang tidak sehat?"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak Ahyar
      Senang sekali bisa berbagi denganmu
      Aku hanya beruntung, karena dibesarkan oleh kedua orang tua dan guru-guru yang baik hati.
      Salam hangat untukmu
      ^.^

      Hapus